Topswara.com -- Pada peringatan hari Santri 2026, Kementerian Agama merilis tema, logo, dan panduan kegiatan melalui surat edaran Menteri Agama. Tema tahun ini adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” (detikNews/20/10/2026).
Kemenag melalui publikasi pada 4 Oktober 2026 menyebutkan bahwa 4.634.406 santri telah terverifikasi berdasarkan data by name by address (BNBA). Angka tersebut masih dalam proses pemutakhiran dan belum menggambarkan jumlah final seluruh santri Indonesia.
Besarnya potensi santri hendaknya menjadi momentum mengevaluasi arah pendidikan pesantren.
Santri tidak cukup menguasai ilmu agama, tetapi juga harus memahami persoalan umat dan menawarkan solusi berdasarkan Islam. Dengan begitu, tema penguatan negeri diwujudkan melalui kontribusi nyata, bukan sekadar slogan.
Meneguhkan Misi Pendidikan Pesantren
Pesantren berperan penting membentuk generasi yang memahami Islam sebagai ideologi. Pendidikan tidak semestinya berhenti pada penguasaan materi agama, hafalan, atau kemampuan membaca kitab, tetapi harus membentuk pola pikir dan sikap berdasarkan Islam.
Ilmu yang dipelajari di pesantren selayaknya membentuk kepribadian Islam, dengan akidah dan syariat sebagai landasan berpikir dan bertindak. Ilmu harus diamalkan sekaligus menjadi bekal dakwah untuk mengajak masyarakat menaati syariat Allah.
Dakwah diwujudkan melalui keteladanan, pencerdasan umat, serta keberanian menyampaikan kebenaran dan mengoreksi kemungkaran. Dengan demikian, ilmu tidak hanya memperbaiki diri, tetapi juga mendorong perubahan masyarakat berdasarkan Islam.
Menghadapi kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan, santri perlu memahami persoalan umat hingga ke akar dan solusi Islamnya. Kesadaran ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS Ar-Ra'd ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Perubahan membutuhkan kesadaran dan usaha untuk memperbaiki kehidupan, baik secara individu maupun masyarakat.
Santri Harus Melek Politik
Kepedulian terhadap umat perlu disertai kesadaran politik. Politik bukan sebatas partai, pemilu, atau perebutan kekuasaan, melainkan juga pengurusan urusan masyarakat, arah kebijakan negara, dan sistem yang memengaruhi kehidupan rakyat.
Santri perlu memahami dampak kebijakan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan sumber daya alam terhadap umat. Dengan begitu, mereka mampu menilai persoalan secara kritis serta menyampaikan nasihat dan koreksi berdasarkan Islam.
“Barang siapa pada pagi hari tidak memedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR Al-Baihaqi). Berpijak pada hadist ini, kepedulian terhadap urusan umat merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang Muslim.
Santri juga perlu memahami bahwa persoalan masyarakat tidak selalu selesai dengan nasihat individual. Masalah sistemik membutuhkan solusi yang menyentuh akar persoalan. Karena itu, pemikiran Islam tentang pengaturan masyarakat dan negara perlu dipelajari agar santri mampu menyampaikan pandangan secara mendasar dan bertanggung jawab.
Menguatkan Identitas Islam, Melampaui Nasionalisme
Identitas santri harus bertumpu pada akidah Islam, bukan sekadar simbol, pakaian, atau status lulusan pesantren. Identitas itu tercermin dalam cara berpikir, bersikap, dan menentukan pilihan berdasarkan syariat Allah.
Islam juga menumbuhkan kesadaran bahwa kaum Muslimin merupakan satu umat. Penderitaan Muslim di Palestina bukan persoalan yang jauh dari santri Indonesia. Penjajahan dan ketidakadilan terhadap sesama Muslim semestinya menumbuhkan kepedulian serta mendorong upaya nyata sesuai kemampuan.
Wawasan santri perlu melampaui batas geografis dan kepentingan nasional yang sempit. Kecintaan terhadap negeri tidak harus bertentangan dengan solidaritas umat Islam. Keduanya perlu ditempatkan dalam kerangka nilai Islam yang menuntun umat menegakkan keadilan dan menolong pihak tertindas.
Santri juga perlu mempelajari sejarah peradaban dan pemikiran politik Islam, termasuk Khilafah sebagai bagian dari kajian sejarah dan konsep pemerintahan dalam khazanah Islam.
Pemahaman yang mendalam akan membantu santri menelaah persoalan secara kritis, bukan sekadar mengikuti anggapan yang berkembang di masyarakat.
Menyiapkan Santri sebagai Calon Ulama
Pesantren diharapkan melahirkan generasi berilmu yang mampu membimbing umat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud).
Hadis ini menegaskan besarnya tanggung jawab orang berilmu. Santri perlu menguasai dan mengamalkan ilmu sekaligus membimbing masyarakat dengan pemahaman yang benar.
Peran ulama tidak terbatas pada persoalan ibadah individual, tetapi juga mencakup upaya mencerdaskan umat, menjelaskan persoalan kehidupan berdasarkan Islam, dan mengoreksi penguasa ketika terjadi penyimpangan.
Jutaan santri merupakan potensi besar bagi masa depan umat. Potensi ini perlu diarahkan melalui pendidikan yang menguatkan kepribadian Islam, memperluas wawasan, menumbuhkan kepedulian politik, dan membekali santri untuk memahami persoalan masyarakat dan solusinya berdasarkan Islam.
Wallahu a'lam.
Zahida Ar-Rosyida
(Pegiat Opini Islam Kaffah)

0 Komentar