Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perayaan Swasembada untuk Siapa? Harga Pangan Melambung


Topswara.com -- Indonesia negeri yang sangat kaya hasil bumi, jika dapat dikelola dengan baik, namun nyatanya tidak demikian. Carut-marut kondisi ekonomi saat ini yang dirugikan masyarakat luas. 

Kebutuhan pangan susah didapat karena harga sudah tidak terjangkau. Untuk mempertahankan hidup harus terpenuhi kebutuhan pokok, hal itu hanya harapan tanpa solusi. 

Di atas kertas dapat dikatakan Indonesia swasembada pangan, ternyata rakyat masih dihantaui harga pangan. Kebutuhan pokok melambung, berdampak pada daya beli makin rendah sehingga yang jadi korban tetap rakyat kecil.

Harga sejumlah bahan pangan pokok naik, padahal pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia swasembada pangan. Pencapaian tersebut hanya pemanis untuk meyakinkan keberhasilana pimpinan. 

Masyarakat sudah pandai untuk menilai bukti bukan ucapan tanpa dasar. Dari data terpantau sejumlah pangan mengalami kenaikan dari telur, beras, bawang merah, cabai hingga daging ayam mengalami kenaikan (tvonenews.com. 28/08/2026). 

Ketidaknormalan sejumlah bahan pangan menjadi dugaan dalam pendistibusian kebutuhan pokok ke pasar-pasar sehingga mengakibatkan harga meningkat. Pengawasan negara yang lemah berimbas pada kesengsaraan rakyat. Asal bapak senang masih menjadi tradisi di negeri ini.

Swasembada pangan hanya bicara tentang jumlah produksi pangan, bukan harga dan distribusinya. Praktik monopoli oligopoli menjadikan harga bisa diatur oleh produsen besar (kapitalis).

Kapitalisme mengizinkan siapa saja yang dapat mengelola pangan, mulai dari proses produksi hingga distribusi yang pada akhirnya fluktuasi di sejumlah pasar. 

 Akibat fluktuasi tentunya berimbas pada ketahanan pangan dan ini menjadi ancaman bagi perekonomian rakyat. Negara dalam kapitalisme lepas tangan dalam pemenuhan kebutuhan rakyat.

Sistem kapitalisme mengukur capaian kesejahteraan dari besarnya produksi saja. Tidak memastikan distribusi pangan sampai ke rakyat. 

Pemerintah hanya bisa mengecam, menindak, memberikan peringatan terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) di sejumlah pasar bahkan sampai dengan penutupan usaha. Hal tersebut bukan solusi terbaik yang diberikan, karena tidak ada tindak lanjut dari tahun ke tahun selalu terjadi yang berulang, tidak ada efek jera. 

Siapapun penguasa akan selalu terjerat dengan sistem kufur. Negara hanya menjadi regulator, tidak melindungi rakya, tata kelola kapitalisme terbukti gagal mengurusi pangan rakyat.

Kebutuhan pokok dalam Islam sudah dijamin negara dalam pendistribusian dan dikelola secara adil dan merta. Pengawasan yang dilakukan dalam pasar juga berdasarkan ketentuan syariat. Jika ada pelanggaran akan ditindak secara tegas. 

Proses pasar diawasi langsung oleh khilafah, serta memastikan semua barang yang tersedia dapat dijangkau masyarakat agar tidak mematok harga yang berlebihan. Negara wajib memastikan distribusi pangan hingga bisa diakses semua orang dengan harga terjangkau. 

Negara wajib mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan agar kebutuhan rakyat terpenuhi. Praktik monopoli oligopoli dilarang. Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam menjaga ketahanan pangan. Salah satu aspek yang diatur adalah persoalan kecukupan bahan pangan bagi seluruh penduduk dunia. 

Jadi kita harus ubah cara pandang bahwa, Islam sudah menjelaskan kewajiban negara untuk mengurus rakyat tanpa memandang dari status sosial, sehingga mampu mengontrol harga pangan di pasaran. Tinggalkan sistem yang dapat merusak dunia dan akhirat. Islam solusi terbaik di muka bumi.


Oleh: Ariyana 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar