Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Maulid Dibungkus Kostum Horor


Topswara.com -- Sebuah video karnaval malam di Pekalongan viral. Label acaranya Maulid Nabi. Tetapi yang muncul di video: makhluk bertanduk, peti mati putih, altar lilin, sampai adegan penyembelihan kambing. Warganet langsung menulis: ritual satanic di acara Maulid.

Kenapa bisa ada kostum dan koreo satanic di acara Maulid? Kok bisa?
Bisa jadi karena:

Pertama, Maulid dipahami hanya sebagai keramaian. Di masjidnya pengajian, di lapangannya karnaval. Lama-lama dua-duanya jalan sendiri. Labelnya Maulid, isinya karnaval bebas.

Kedua, Maulid ajang lomba, bukan syiar. Karnaval malam itu dinilai siapa paling heboh. Horor itu paling gampang bikin penonton ngerekam. Jadi logikanya bukan "apa makna Maulidnya", tetapi "apa yang bikin menang".

Ketiga, referensi dari algoritma. Kostum demon, pentagram, kepala kambing, yang merupakan template Halloween global yang dijual bebas. Anak muda yang bikin koreo referensinya YouTube, bukan kitab sirah.

Keempat, panitia tidak kurasi. Merasa aman karena SKNC sudah 4 kali digelar sebagai pesta rakyat. Tidak ada lter: ini cocok enggak untuk Maulid?

Apakah Ini Tes the Water?

Istilah tes ombak itu wajar muncul. Momennya Maulid Nabi SAW, simbolnya satanic, dan viralnya cepat, sebuah kombinasi yang lengkap. Wajar kalau umat bertanya: “Ada apa di balik berita viral ini?”. “Apa ini mau dinormalisasi pelan-pelan?”

Kalau dilihat sebagai strategi terencana, belum ada bukti. Enggak ada organisasi yang mengklaim, enggak ada pembelaan
terorganisir semua pihak justru minta.
Tetapi sebagai efek tes ombak, dampaknya nyata. 

Ketika simbol satanic bisa lolos di panggung Maulid berlangsung berjam-jam
tanpa ada yang mencegah, publik akan mengukur: sejauh mana kita diam? Kalau diam, besok simbol serupa bisa muncul lagi dengan alasan "cuma seni". Di titik itu, dugaan seperti tes ombak, lebih terlihat, dibanding dengan kelalaian.

Jejak Sekulerisme di Kostum dan Koreo 

Sekulerisme tidak selalu dalam bentuk: “Saya tidak mau beragama.” Nama Maulid tetap dipakai. Acaranya tetap disebut peringatan Maulid. Tetapi ketika masuk ke pilihan hiburan, simbol, kostum, dan
koreogra, nilai agama tidak lagi menjadi pertimbangan.

Nah, di sinilah sekulerisme bekerja secara halus. Nama acaranya Islami. Tetapi apakah isi acaranya juga mencerminkan Islam?

Dampaknya Bagi Generasi Penerus 

Yang bikin khawatir bukan cuma videonya. Tetapi anak-anak yang menontonnya. Kalau kita enggak ribut, hal seperti ini dibiarkan, ada bahaya yang mengintai anak-anak kita.

Dalam psikologi ada istilah desensitisasi. Sederhananya, sesuatu yang terus-menerus kita lihat bisa lama-lama terasa biasa. Hari ini anak melihat pentagram sebagai kostum. Besok melihat simbol serupa di video. Lama-lama simbol yang dulu terasa asing dianggap sesat, menjadi bagian dari tontonan biasa.

Lama-lama bukan cuma simbolnya yang kehilangan makna. Maulidnya juga bisa kehilangan makna. Maulid yang seharusnya jadi momentum untuk mengenal Rasul (keluarganya, ahlaknya, ajarannya dan perjuangannya), berubah jadi ajang cari juara kostum. Generasi selanjutnya ingat Maulid sebagai karnaval horor, bukan sebagai cinta Nabi.

Yang juga bikin khawatir normalisasi salah. Ketika yang salah tidak ditegur dengan jelas, besok standar "boleh" akan geser lagi. Hari ini kambing, besok apa?
Titiknya bukan pada “boleh atau tidak boleh ada karnaval”. Yang perlu ditanyakan justru: apa yang sedang kita bawa ketika membawa nama Maulid?

Majelis Ulama Indonesia sudah bersuara keras. Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nas menyoroti SKNC yang menampilkan atraksi mirip satanic hingga penyembelihan kambing di muka umum dan menilai bertentangan dengan esensi peringatan Maulid. Beliau menegaskan, "Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW."

Maka seharusnya Perayaan Maulid diisi kegiatan syiar yang mendidik, serta mencerminkan akhlak Rasul, menumbuhkan semangat untuk meneladani Rasulullah SAW. Tidak tersusupi sesuatu yang bertentangan dengan Islam.

Aktivitas satanic atau sesuatu yang menakutkan, menyembelih kambing tidak sesuai syariat (di atas alatar) dijadikan tontonan horor, sangat bertentangan dengan ha ah Maulid. Dalam Islam menyembelih itu ibadah yang harus ihsan, tidak dipertontonkan dengan sadis.

Penutup 

Kejadian Pekalongan ini bukan cerita tentang sekte satanik masuk masjid. Ini cerita tentang perubahan halus ke arah kerusakan di masyarakat kita, antara bagaimana sebuah acara agama bisa kehilangan ruhnya karena ingin terlihat keren di mata algoritma. Ini cerita tentang aku dan kamu mau diem aja, lalu perubahan itu akan makin merusak kita dan generasi penerus.


Oleh: Dini Sumaryanti 
Founder Komunitas Ibu Hebat, Family Coach 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar