Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hutan Dibakar: Untung Sesaat Rusak Selamanya


Topswara.com -- Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia sehingga ia mendapat julukan sebagai paru-paru dunia. Hutan bukan sekedar kumpulan pohon tetapi juga merupakan sistem penyangga kehidupan. 

Dimana ia menjadi sumber kehidupan dan tempat makhluk hidup bergantung. Darinya menghasilkan udara bersih, tempat menyimpan cadangan air dan sebagai penahan terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Sayangnya, kini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tengah melanda di sebagian wilayah Indonesia mulai dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Sementara itu, karhutla di pulau Kalimantan sudah memasuki fase darurat.

Dikutip dari cnnindonesia.com, 24/8/2026, hingga akhir pekan lalu setidaknya tercatat 430 kejadian karhutla di Kalimantan Timur dengan luas terdampak mencapai 1.260,92 hektare dan mayoritas merupakan lahan milik perusahaan. 

Sampai saat ini, Polri telah menetapkan sebanyak 72 orang sebagai tersangka yang bertanggung jawab atas karhutla yang terjadi di Kalimantan, Sulawesi Selatan hingga Riau. (detikNews.com, 24/8/2026)

Bukan cerita baru jika karhutla di negeri ini terjadi secara berulang-ulang. Pembakaran hutan dan lahan masih menjadi alasan pintas bagi sebagian masyarakat untuk membuka lahan sebab ini cara murah dan cepat. Sedangkan, bagi sebagian perusahaan ini cara yang paling efisien untuk membuat lahan dalam skala besar. Seperti adanya video berseliweran di medsos yang berisi video terkait hutan habis terbakar muncul bibit sawit. 

Apalagi, saat ini lemahnya peran negara dalam melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap alam, membuat praktek pembalakan serta pembakaran hutan terus merajalela. Adapun sanksi yang diberikan seringkali tidak memberi efek jera bagi si pelaku.

Jika ditelisik secara mendalam, karhutla di Indonesia tidak lepas dari prinsip mendasar tata kelola kehidupan hari ini, yaitu sistem kapitalisme sekulerisme. Dalam sistem ini tolok ukur berorientasi pada materi ataupun unsur manfaat serta mengkerdilkan aturan agama dari kehidupan. 

Alhasil, hutan hanya dianggap sebagai barang komoditas yang bisa dikuasai oleh segelintir pemilik modal dan hutan bukan lagi dianggap sebagai amanah dari Illahi.

Inilah wajah asli sistem kapitalisme, demi meraup keuntungan besar rela mengorbankan alam dan masa depan generasi kita. Padahal, ketika hutan terbakar yang rugi bukan hanya negara tetapi kita semua yang terkena dampaknya. 

Udara bersih hilang, aktivitas masyarakat terganggu, terancam infeksi saluran pernapasan, iklim tak menentu, banyak satwa kehilangan rumahnya serta bencana banjir dan tanah longsor mengintai disaat musim hujan nanti tiba.

Berbeda dengan sistem Islam yang menganggap hutan adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan termasuk kepemilikan umum, sehingga dalam memanfaatkan hutan haruslah memakai syariat Islam. 

Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, "Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu air, api dan padang rumput". (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad)

Dalam Islam, hutan bukanlah kekayaan alam untuk diperebutkan oleh segelintir orang. Hutan haruslah dikelola oleh negara untuk kemaslahatan seluruh rakyat.

Selain itu, negara juga akan memberikan sanksi tegas berupa takzir misalnya berupa denda, penjara, bahkan sampai hukuman mati kepada para pelaku pembakaran, penebang hutan secara liar. 

Sebab, haram hukumnya bagi siapapun termasuk negara untuk mengkapitalisasi hutan dan lahan serta menyerahkan pengelolaannya kepada pihak individu ataupun kelompok.

Jika kerusakan hutan dan bencana alam terjadi di bumi ini, maka ini adalah ulah tangan-tangan manusia yang serakah dan enggan menjadikan standar halal haram dalam berbuat sesuatu. 

Sebagaimana peringatan Allah SWT di dalam QS. At Thaha ayat 124 “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Dan jika manusia berpaling dari peringatan Allah maka telah dikabarkan balasannya melalui QS. Ar Rum 41 “Dan telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Maka hanya Islamlah yang mampu menuntaskan masalah karhutla agar tidak terus berulang. Hanya dengan diterapkan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah, lingkungan hidup dapat terjaga. Wallahualam Bishawab.


Oleh: Dwi Lis 
Komunitas Setajam Pena
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar