Topswara.com -- Hijrah memang bisa dimulai dalam satu hari. Namun, bertahan di atasnya sering kali membutuhkan perjuangan seumur hidup. Tidak sedikit yang awalnya begitu bersemangat. Mulai menutup aurat, menjaga salat, meninggalkan pacaran, rajin menghadiri kajian, bahkan menghapus kebiasaan-kebiasaan lama yang dulu begitu dicintai.
Tetapi beberapa bulan kemudian, semangat itu perlahan memudar. Kajian mulai jarang dihadiri, Al-Qur'an kembali berdebu di rak, salat mulai ditunda, dan lingkungan lama sedikit demi sedikit menariknya kembali.
Mengapa itu bisa terjadi?
Karena hijrah bukan hanya soal meninggalkan maksiat. Hijrah adalah tentang menjaga hati agar tetap berpaling kepada Allah setiap hari.
Yang pertama adalah menjaga niat. Sebab semangat yang dibangun di atas pujian manusia tidak akan bertahan lama. Ketika tidak lagi mendapat apresiasi, semangat itu pun ikut menghilang.
Berbeda jika hijrah dilakukan karena Allah. Meski tak ada seorang pun yang melihat, seseorang akan tetap bertahan karena ia tahu siapa tujuan perjalanannya.
Setelah niat, yang harus dijaga adalah salat. Banyak orang ingin memperbaiki akhlak, memperbaiki rezeki, atau memperbaiki rumah tangganya, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah. Padahal salat adalah pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya lima kali sehari. Dari sanalah kekuatan untuk bertahan lahir.
Ketiga, dekatlah dengan Al-Qur'an dan majelis ilmu. Hati manusia ibarat baterai yang terus berkurang dayanya. Jika tidak diisi dengan wahyu dan ilmu, ia akan melemah.
Membaca beberapa ayat setiap hari, menghadiri kajian, atau mendengarkan nasihat bisa menjadi pengingat agar hati tetap hidup. Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus (QS. Al-Isra': 9).
Keempat, pilih lingkungan yang mendukung hijrah. Tidak semua orang senang melihat kita berubah menjadi lebih baik. Ada yang mengejek, ada pula yang perlahan menarik kita kembali kepada masa lalu.
Karena itu, carilah teman yang ketika melihatnya membuat kita ingat kepada Allah, yang ketika berbicara menambah ilmu, dan yang ketika bersama mendorong kita beramal. Rasulullah ﷺ bersabda, "Seseorang mengikuti agama teman dekatnya." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Kelima, tinggalkan pintu-pintu maksiat. Jangan berharap mampu menjaga hijrah jika kita masih membuka jalan menuju dosa. Jika media sosial membuat lalai, batasi penggunaannya. Jika pergaulan tertentu menjauhkan dari Allah, beranilah mengambil jarak.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang." (HR. al-Bukhari). Hijrah bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga meninggalkan sebab yang mengantarkan kepada dosa.
Keenam, sibukkan diri dengan amal saleh. Banyak kemaksiatan berawal dari waktu luang yang tidak terarah. Karena itu, isi hari-hari dengan hal yang bermanfaat: membaca Al-Qur'an, menghafal, belajar, berdakwah, membantu sesama, atau memperbaiki keluarga.
Allah berfirman, "Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka bersungguh-sungguhlah mengerjakan urusan yang lain." (QS. Asy-Syarh: 7–8). Seorang mukmin tidak membiarkan dirinya larut dalam kesia-siaan.
Ketujuh, jangan pernah berhenti berdoa memohon keteguhan hati. Sebesar apa pun ilmu dan sekuat apa pun tekad kita, hati tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Bahkan Rasulullah ﷺ yang maksum sering berdoa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. at-Tirmidzi).
Jika Nabi saja terus memohon keteguhan hati, lalu bagaimana dengan kita?
Hijrah bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat berubah. Hijrah adalah perjalanan panjang menuju husnul khatimah. Akan ada saat-saat semangat menurun, air mata jatuh, dan langkah terasa berat.
Namun selama kita terus kembali kepada Allah, memperbaiki diri setiap kali terjatuh, dan tidak menyerah dalam ketaatan, maka itulah hakikat istikamah.
Sebab yang Allah nilai bukanlah seberapa sempurna perjalanan kita, melainkan kesungguhan kita untuk terus berjalan hingga akhir hayat. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Rabb kami adalah Allah,' kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka seraya berkata, 'Janganlah takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.'" (QS. Fuṣṣilat: 30).
Karena sesungguhnya, yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai hijrah, tetapi bagaimana kita mampu menjaganya hingga Allah memanggil kita kembali.
Wallahu'alam.
Oleh: Nurjannah S.
Aktivis Muslimah

0 Komentar