Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gen Z: Dari Cemas Menuju Kebangkitan


Topswara.com --  Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling melek teknologi. Mereka tumbuh bersama internet dan media sosial yang membuka akses informasi tanpa batas. Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan kenyataan yang cukup memprihatinkan. 

Data GoodStats menunjukkan sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Berbagai kajian juga menunjukkan gangguan kesehatan mental pada remaja dan dewasa muda terus meningkat (data.goodstats.id, 8 April 2026;60%GenZ Indonesia Cemas Akan Masa Depan).

Kecemasan itu bukan muncul tanpa sebab. Mereka hidup di tengah situasi yang serba tidak pasti. Mencari pekerjaan semakin sulit, biaya hidup terus naik, sementara media sosial setiap hari mempertontonkan standar kesuksesan yang kian sulit dijangkau. 

Tanpa disadari, banyak anak muda merasa hidupnya tertinggal karena terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Sayangnya, kondisi ini sering dipandang sebagai kelemahan pribadi. Gen Z kerap dicap terlalu sensitif, mudah menyerah, atau lemah mental. Padahal, yang mereka hadapi bukan sekadar persoalan mengelola emosi. Mereka sedang tumbuh di tengah krisis yang kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, lapangan kerja, hingga ketidakpastian masa depan.

Di sinilah persoalan sesungguhnya. Kecemasan yang dialami Gen Z tidak lahir begitu saja, tetapi merupakan buah dari sistem kehidupan yang menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. 

Dalam sistem kapitalisme sekuler, seseorang dianggap berhasil ketika memiliki karier, penghasilan, dan gaya hidup tertentu. Akibatnya, banyak anak muda merasa gagal hanya karena belum mampu memenuhi standar tersebut.

Di sisi lain, agama makin dijauhkan dari kehidupan. Hubungan dengan Allah tidak lagi menjadi landasan dalam memandang keberhasilan maupun kegagalan. Padahal, ketika manusia kehilangan tujuan hidup yang benar, tekanan hidup sekecil apa pun dapat berubah menjadi beban yang sangat berat.

Negara pun belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi. Berbagai program kesehatan mental memang diperlukan, tetapi umumnya masih berfokus pada penanganan setelah masalah muncul. 

Sementara akar persoalannya mulai dari sistem ekonomi yang tidak memberi kepastian hidup, derasnya budaya materialisme, hingga pengaruh media yang membentuk cara pandang generasi, belum benar-benar diselesaikan.

Meski demikian, pasti selalu ada secercah harapan. Di balik kecemasan itu, mulai tumbuh sikap kritis di kalangan anak muda. Mereka tidak lagi sekadar menerima keadaan, tetapi mulai mempertanyakan mengapa hidup terasa semakin berat dan mengapa begitu banyak persoalan tidak kunjung selesai. 

Kegelisahan ini dapat menjadi titik awal lahirnya resistensi terhadap sistem yang melahirkan berbagai krisis.

Islam menawarkan arah perubahan yang lebih mendasar. Islam tidak hanya menenangkan hati individu, tetapi juga menghadirkan sistem kehidupan yang menjadikan akidah sebagai landasan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. Dengan tujuan hidup yang jelas, manusia tidak lagi menjadikan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan, melainkan ridha Allah.

Sejarah pun menunjukkan bahwa pemuda Islam pernah menjadi motor perubahan peradaban. Mereka tumbuh dengan kepribadian Islam yang kuat, berilmu, berani, dan memiliki kepedulian terhadap umat. 

Negara hadir sebagai raa'in dan junnah, mengurus kebutuhan rakyat sekaligus melindungi generasi agar dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan kondusif.

Karena itu, kecemasan yang dirasakan Gen Z seharusnya tidak berhenti menjadi keluhan. Ia dapat menjadi titik balik menuju kesadaran bahwa dunia memang membutuhkan perubahan yang lebih mendasar. 

Ketika generasi muda menjadikan Islam sebagai mabda perjuangannya, mereka tidak hanya mampu keluar dari kecemasan, tetapi juga berpotensi menjadi pelopor kebangkitan umat. Bukan lagi generasi yang tenggelam dalam depresi, melainkan generasi yang bangkit membawa perubahan.


Oleh: Selly Nur Amelia 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar