Topswara.com -- Maqalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.
سُئِلَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا يُفْسِدُ أَمْرَ الْقَوْمِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟ قَالَ: ثَلَاثَةٌ:
١- وَضْعُ الصَّغِيرِ مَكَانَ الْكَبِيرِ.
٢- وَضْعُ الْجَاهِلِ مَكَانَ الْعَالِمِ.
٣- وَضْعُ التَّابِعِ فِي الْقِيَادَةِ.
"Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya: 'Wahai Amirul Mukminin, apakah yang dapat merusak urusan suatu kaum (bangsa atau masyarakat)?' Beliau menjawab: 'Ada tiga perkara:
Pertama, menempatkan orang yang kecil (tidak layak, belum matang pengalaman dan kapasitasnya) pada posisi orang besar. Kedua, menempatkan orang yang bodoh pada kedudukan orang yang berilmu. Ketiga, menempatkan orang yang hanya menjadi pengikut sebagai pemimpin.'
Ungkapan ini sangat masyhur dinisbatkan kepada Sayyidina Ali r.a., namun status sanadnya tidak sekuat hadis Nabi ﷺ. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai atsar atau hikmah yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali, bukan sebagai hadis.
Tiga Sebab Keruntuhan Sebuah Bangsa
Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik dari Hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
"Peradaban tidak hancur terlebih dahulu karena kemiskinan, tetapi karena kesalahan dalam menempatkan manusia."
Inilah pelajaran besar yang diwariskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., seorang khalifah, ulama, ahli hikmah, sekaligus murabbi umat. Dalam satu kalimat yang singkat beliau mengungkap rahasia bangkit dan runtuhnya sebuah masyarakat.
Penyebab kehancuran bukan hanya serangan musuh, krisis ekonomi, atau bencana alam, tetapi justru berawal dari rusaknya tata nilai dalam memilih manusia.
Islam adalah agama yang sangat menghargai kompetensi, amanah, ilmu, dan ketakwaan. Ketika prinsip-prinsip ini diabaikan, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya..."
(QS. An-Nisa': 58).
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang mengembalikan barang titipan, tetapi juga tentang amanah kepemimpinan, jabatan, pendidikan, dan seluruh urusan publik.
1. Menempatkan Orang Kecil di Tempat Orang Besar
Yang dimaksud "orang kecil" bukan ukuran usia atau status sosial, tetapi orang yang belum memiliki kapasitas, pengalaman, integritas, dan kebijaksanaan untuk memikul amanah besar.
Ketika jabatan diberikan karena kedekatan, popularitas, kekayaan, atau kepentingan sesaat, maka keputusan-keputusan yang lahir akan lemah. Organisasi kehilangan arah, masyarakat kehilangan kepercayaan, dan bangsa kehilangan masa depan.
Dalam perspektif tasawuf, penyakit ini berasal dari dominasi hawa nafsu. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai alat memenuhi ambisi pribadi.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Ketika ditanya bagaimana amanah disia-siakan, beliau menjawab: "Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR. al-Bukhari).
2. Menempatkan Orang Bodoh di Tempat Orang Berilmu
Ilmu adalah cahaya. Kebodohan adalah kegelapan.
Bangsa yang meminggirkan ulama, ilmuwan, guru, dan para ahli, lalu lebih mengutamakan opini tanpa ilmu, sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.
Al-Qur'an bertanya: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9).
Dalam dunia dakwah, seorang dai harus terus belajar agar dakwahnya membimbing, bukan menyesatkan. Dalam pendidikan, guru harus terus meningkatkan kompetensinya. Dalam pemerintahan, keputusan harus bertumpu pada ilmu, data, dan hikmah.
Tasawuf mengajarkan bahwa ilmu sejati melahirkan kerendahan hati. Makin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah.
3. Menempatkan Pengikut sebagai Pemimpin
Pemimpin sejati bukan sekadar orang yang di depan. Ia adalah orang yang memiliki visi, keberanian mengambil keputusan, dan keteguhan memegang prinsip.
Adapun orang yang hanya menjadi pengikut cenderung takut mengambil tanggung jawab, mudah terombang-ambing oleh tekanan, dan rela mengorbankan nilai demi mempertahankan kedudukan.
Islam menghendaki kepemimpinan yang lahir dari iman, ilmu, akhlak, dan keberanian.
Allah berfirman: "Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24).
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dibangun di atas dua fondasi utama: kesabaran dan keyakinan kepada Allah.
Dimensi Ideologis: Krisis Peradaban Berawal dari Krisis Kader
Tidak ada bangsa yang kuat tanpa sistem kaderisasi yang benar. Ketika masyarakat lebih mengagungkan popularitas daripada kapasitas, lebih memilih pencitraan daripada integritas, dan lebih menghargai loyalitas pribadi daripada profesionalitas, maka sesungguhnya fondasi peradaban sedang retak.
Islam mengajarkan prinsip "meletakkan sesuatu pada tempatnya" (wad'u asy-syai' fi mahallih). Inilah hakikat keadilan. Sebaliknya, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya adalah bentuk kezaliman.
Karena itu, pembangunan umat harus dimulai dari pembangunan manusia: membina ilmu, akhlak, spiritualitas, dan kompetensi.
Dimensi Sufistik: Pimpinlah Dirimu Sebelum Memimpin Orang Lain
Pesan Sayyidina Ali bukan hanya untuk para pejabat, tetapi juga untuk setiap mukmin. Di dalam diri kita ada "pemimpin" dan ada "pengikut". Akal yang diterangi wahyu harus memimpin, sedangkan hawa nafsu harus menjadi pengikut.
Jika hawa nafsu mengambil alih kepemimpinan hati, maka manusia akan diperbudak oleh syahwat, kesombongan, dan cinta dunia. Sebaliknya, apabila hati dipimpin oleh iman, ilmu, dan zikir, maka lahirlah pribadi yang tenang, adil, dan bijaksana.
Karena itu para ulama tasawuf selalu mengingatkan bahwa jihad terbesar adalah memimpin diri sendiri menuju ridha Allah.
Refleksi untuk Umat
Setiap kita hendaknya bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku telah mempersiapkan diri menjadi pribadi yang layak memikul amanah? Apakah aku masih terus belajar agar tidak berbicara tanpa ilmu? Apakah aku memimpin keluargaku dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan?
Apakah aku memilih pemimpin berdasarkan amanah dan kapasitas, atau hanya karena fanatisme dan kepentingan sesaat?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan kualitas masa depan kita sebagai individu maupun sebagai umat.
Penutup
Hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam tidak dimulai dari kemegahan bangunan, banyaknya kekayaan, atau besarnya jumlah pengikut, tetapi dari ketepatan dalam menempatkan manusia sesuai ilmu, amanah, dan kapasitasnya.
Bangsa akan kokoh apabila orang-orang terbaik diberi amanah, orang-orang berilmu dihormati, dan para pemimpin dipilih karena ketakwaan, kebijaksanaan, serta keberaniannya menegakkan kebenaran.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa mempersiapkan diri dengan ilmu, membersihkan hati dengan keikhlasan, menguatkan jiwa dengan takwa, dan layak memikul amanah untuk membangun peradaban yang diridhai-Nya.
"Ya Allah, jangan Engkau serahkan urusan kami kepada orang yang tidak amanah, jangan Engkau jadikan kebodohan sebagai pemimpin kami, dan karuniakanlah kepada umat ini para pemimpin yang berilmu, adil, bertakwa, serta mencintai-Mu dan dicintai oleh-Mu. Āmīn."
Oleh: Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

0 Komentar