Topswara.com -- Anak adalah amanah yang Allah titipkan. Dan ia adalah salah satu investasi terbesar dalam kehidupan sebuah keluarga. Melaluinya, kedudukan orang tua juga ditentukan. Apakah anaknya akan menggandeng orang tuanya ke syurga, atau justru menyeret orang tuanya ke dalam neraka.
Pada hari ini, kita dihadapkan pada kondisi dimana umat tidak lagi mengindahkan nilai-nilai ajaran Islam. Sehingga begitu banyak kemungkaran demi kemungkaran yang kita dengar ataupun yang kita lihat, baik di sekeliling terdekat kita ataupun di sosial media.
Seperti, pergaulan bebas, LGBTQ, judol, pemerkosaan, pembunuhan dan rentetan kasus kriminal lainnya. Di tambah lagi tidak adanya filterisasi terhadap tayangan-tayangan yang berseliweran di televisi ataupun di beranda, serta kemudahan dalam mengaksesnya.
Tentu hal ini membuat para orang tua khawatir terhadap kondisi dan masa depan anak-anaknya. Sedangkan, setiap orang tua memiliki harapan agar anak-anaknya menjadi anak yang memiliki kepribadian islam, yang menyejukkan mata ketika di pandang (qurrata a'yun).
Allah Swt sebagai al-khaliq (Sang Pencipta), Allah juga Sang Pengatur (al-Mudabbir). Allah tidak sekedar menciptakan manusia begitu saja, akan tetapi Allah juga memberikan panduan dan pedoman (Al-Qur'an) yang berisi petunjuk bagi manusia untuk menapaki kehidupan di dunia ini, agar setiap lika-liku episode kehidupan yang dijalani Allah mudahkan dan membuahkan pahala.
Atas dasar ini, Al-Qur'an adalah solusi atas semua problematika umat. Salah satunya dalam perkara mendidik dan membimbing anak.
Ada tiga pokok penting yang perlu orang tua fahami dan diupayakan pengamalannya dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya, agar menjadi anak yang memiliki kepribadian Islam yaitu:
Pertama: Nafkah Halal
Hal ini didasarkan pada kisah Muhammad bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Imam Bukhari mendapat julukan amiirul mukmin fil hadiist (pemimpin orang beriman dalam ilmu hadist). Beliau telah meriwayatkan 700.000 hadist, dan karya terbesarnya adalah kitab Shaih Bukhari. Kitab ini dijadikan rujukan bagi umat muslim dalam menggalih sebuah hukum.
Jauh sebelum itu, Imam Bukhari dimasa kecilnya dikenal sosok anak yang cerdas dengan kemampuan menghafal di atas rata-rata dan ia telah menghafal Al-Qur'an saat usianya 10 tahun.
Kesalihan dan kemasyhuran beliau tidak lepas dari sosok kedua orangtunya. Terlebih peran sang Ayah. Ayah Imam Bukhari, Ismail bin Ibrahim, adalah seorang ulama ahli hadis yang saleh dan saudagar kaya. Ia dikenal sangat menjaga kehalalan hartanya.
Sebelum wafat, beliau bersaksi bahwa tidak ada satu pun harta haram atau syubhat yang masuk ke dalam keluarganya. Beliau wafat saat Imam Bukhari masih kecil.
Dengan laku kehidupan seperti ini, tidak mengherankan menumbuhkan pribadi seorang anak yang menjadi salah satu tokoh kunci umat Islam.
Kedua: Teladan yang Baik
Di dalam buku Tarbiyatul Aulad, Syekh Nasih Ulwan menyampaikan, "Teladan adalah metode pendidikan yang jitu dalam membentuk akhlaq anak".
Anak akan tumbuh sesuai pola asuh yang telah orang tua berikan. Dan anak adalah peniru yang ulung. Ia akan mudah meniru terhadap apa yang telah ia lihat atau ia dengar.
Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama, yang memiliki kewajiban dalam mendidik anak, dan memiliki porsi waktu yang banyak dalam membersamai anak, maka orang tua harus terlebih dahuku menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Oleh karena itu, orang tua harus berusaha semaksimal mungkin menjaga ketaqwaannya kepada Allah, menjaga setiap tutur kata dan sikapnya agar sesuai dengan perintahnya Allah SWT. Sehingga anak akan meniru dan menjadikan orang tuanya sebagai teladan yang baik.
Pernyataan ini sesuai dengan syariatnya Allah swt dalam surah at-Tahrim ayat 6 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.."
Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa, langkah awal sebelum membimbing orang lain adalah dengan memperbaiki kualitas ketaqwaan dan akhlakul karimah yang ada pada diri sendiri.
Dalam lingkup keluarga, tanggung jawab orang tua (terutama ayah) sangat besar atas keselamatan anak dan istrinya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Hal ini diwujudkan melalui figur yang baik dari orang tua, pendidikan agama (akidah dan ibadah) dan pembiasaan akhlak mulia sejak dini.
Ketiga: Doa
Rasul Muhammad SAW menyampaikan, "Doa adalah senjata bagi umat muslim. " (al-Hadist) Allah juga menyampaikan dalam firmannya yang artinya,
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. al-Ghafir:60)
Begitu dahsyatnya doa bagi kehidupan seorang hamba, yang yakin bahwa setiap doa yang ia panjatkan tidak akan kembali sia-sia. Terlebih, doa orang tua kepada anaknya. Maka, hal ini memiliki keutamaan tersendiri dan merupakan salah satu mustajabnya doa.
Sebagaimana hadist berikut, dari Anas bin Malik radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: [1] doa orang tua (kepada anaknya); [2] orang orang yang berpuasa; [3] doa orang yang sedang safar.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan-nya no. 6619, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)
Dalam riwayat lain juga di jelaskan,
“Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi: [1] doa orang yang terzalimi; [2] doa orang yang sedang safar; [3] doa orang tua kepada anaknya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1905, dihasankan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Hadis di atas mengingatkan kepada orang tua (khususnya), untuk senantiasa melazimkan doa untuk kebaikan anak-anaknya. Baik ketika orang tua dalam keadaan ridho terhadap anaknya ataupun dalam keadaan marah. Karena doa orang tua kepada anaknya akan senantiasa dikabulkan oleh Allah swt.
Allahu a'lam bishawab.
Oleh: Siti Wimroa'atus Solihah
Aktivis Muslimah

0 Komentar