Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tenang Datang dari Dirimu yang Utuh, Bukan dari Pasangan yang Sempurna


Topswara.com -- Banyak orang menggantungkan ketenangannya pada manusia. Mereka berpikir, "Kalau aku punya pasangan yang romantis, aku akan bahagia. Kalau suamiku selalu perhatian, aku akan tenang. Kalau istriku tidak pernah mengecewakan, hidupku pasti damai."

Padahal, sejak kapan manusia yang lemah dan penuh kekurangan mampu menjadi sumber ketenangan yang mutlak?

Kita sering lupa bahwa manusia adalah makhluk yang berubah. Hari ini ia membuatmu tersenyum, esok mungkin ia membuatmu menangis. Hari ini ia memelukmu dengan kasih sayang, besok ia bisa membuatmu kecewa dengan sikap yang tak pernah kau duga.

Kalau ketenangan hatimu bergantung pada manusia, maka bersiaplah hidup dalam kecemasan yang tak berkesudahan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk menjadi tempat bersandar sepenuhnya.

Allah SWT berfirman, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini begitu indah sekaligus menampar kita. Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenteram karena pasangan yang sempurna, harta yang melimpah, atau rumah tangga tanpa masalah. Allah menyebut satu sumber ketenangan, yaitu dengan mengingat-Nya.

Karena itu, ketenangan sejati tidak datang dari luar diri, tetapi dari dalam hati yang dipenuhi iman dan ketundukan kepada Allah.

Banyak orang terlihat memiliki kehidupan yang sempurna, tetapi jiwanya rapuh. Sedikit masalah datang, ia hancur. Sedikit ujian datang, ia putus asa. Mengapa? Karena fondasi ketenangannya dibangun di atas manusia dan dunia yang sifatnya fana.

Sebaliknya, ada orang yang diuji bertubi-tubi, tetapi tetap tegar. Ia menangis, tetapi tidak tumbang. Ia kecewa, tetapi tidak kehilangan arah. Mengapa? Karena sumber tenangnya bukan manusia, melainkan Allah.

Dalam kitab Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa syakhsiyah Islamiyah terbentuk dari dua unsur, yaitu aqliyah Islamiah (pola pikir Islam) dan nafsiyah Islamiah (pola sikap Islam). 

Ketika seseorang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap, maka ia memiliki kepribadian yang kokoh dan tidak mudah diguncang oleh perubahan keadaan.

Artinya, seorang Muslim yang memiliki syakhsiyah Islamiyah tidak menjadikan manusia sebagai pusat kehidupannya. Ia mencintai manusia karena Allah, berharap kepada manusia dalam batas yang wajar, dan menerima kekurangan mereka karena menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Rabb semesta alam.

Maka jangan habiskan hidupmu mencari pasangan yang sempurna. Sebab jika kesempurnaan itu syarat untuk bahagia, tidak ada satu pun rumah tangga yang akan bertahan.

Yang harus kau bangun terlebih dahulu adalah dirimu sendiri. Utuhkan hubunganmu dengan Allah. Perbaiki shalatmu. Perbanyak sujudmu. Perdalam ilmumu. Kuatkan tawakalmu. Karena orang yang utuh jiwanya tidak mudah hancur hanya karena manusia berubah.

Ia tidak kehilangan harga dirinya ketika tidak dicintai. Ia tidak merasa hidupnya berakhir ketika dikhianati. Ia tidak mengemis perhatian agar merasa berharga. Sebab ia tahu, kemuliaannya datang dari kedekatannya kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya." (HR. Muslim)

Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat musibah, ia bersabar. Dalam dua keadaan itu, ia tetap tenang. Itulah jiwa yang utuh. Bukan jiwa yang tidak pernah terluka, tetapi jiwa yang tahu kepada siapa ia harus kembali ketika terluka.

Bukan jiwa yang tidak pernah kecewa, tetapi jiwa yang yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.

Hari ini, jika hatimu sedang gelisah karena sikap manusia, jangan buru-buru mencari ketenangan pada manusia yang lain. Pulanglah kepada Allah. Karena manusia bisa pergi, berubah, bahkan mengecewakan. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.

Tenang datang dari dirimu yang utuh, bukan dari pasangan yang sempurna.
Maka sibukkanlah dirimu memperbaiki hubungan dengan Allah, membangun syakhsiyah Islamiyah, dan menguatkan iman. 

Ketika jiwamu telah utuh, engkau akan menyadari bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada siapa yang menemanimu, tetapi pada siapa yang menjadi sandaran hatimu dan sandaran terbaik itu hanyalah pada Allah Azza wa Jalala. Barakallahu fikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar