Topswara.com -- Generasi Z (Gen-Z), yaitu mereka yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012 menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat. Bukan tanpa alasan, tetapi fakta menunjukkan bahwa ada ketimpangan yang nyata di tengah isu fenomena Gen-Z hari ini.
Di satu sisi Gen-Z sering diidentikkan dengan karakter kreatif, inovatif, dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terutama dengan kemajuan teknologi. Akan tetapi, di sisi lain muncul permasalahan generasi yang membuat para orang tua khawatir, yaitu terkait masifnya kasus kecemasan dan gangguan mental pada Gen-Z.
Berdasarkan data survei nasional yang dirilis oleh data.goodstats.id (08-04-2026), tercatat bahwa 60% Gen-Z di Indonesia mengalami kekhawatiran terkait masa depan mereka. Faktor finansial menjadi bayang-bayang berikutnya yang menghantui sebanyak 57% responden, disusul oleh ekspektasi sosial lingkungan sebesar 42%, serta 36% responden menyatakan adanya perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali mereka.
Bahkan, digambarkan kondisi Indonesia tengah berada dalam bayang-bayang "generasi cemas," di mana anak-anak muda menjadi kelompok yang kian rentan terhadap gangguan kecemasan dan depresi (tirto.id, 12/05/2026).
Kapitalisme dan Problem Generasi
Jika kita lihat lebih mendalam, fenomena ini terjadi karena adanya krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini. Penerapan sistem kapitalisme sekuler menjadi biang kerok problem generasi yang kian memprihatinkan.
Kapitalisme telah membajak potensi Gen-Z untuk meraup keuntungan. Gen-Z dijadikan sebagai mesin penggerak ekonomi yang berpihak pada kepentingan para korporat. Akhirnya potensi mereka dilemahkan dan Gen-Z makin kehilangan jati dirinya.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya fungsi pelayanan dan perlindungan (riayah) oleh negara. Dalam sistem kapitalisme, generasi muda hanya dijadikan sebagai “komoditas” yang sering kali mendapatkan stigma buruk dari generasi di atasnya sebagai generasi yang "kurang bersyukur" atau "manja." Sentimen gesekan antar-generasi menjadikan susahnya posisi Gen-Z yang kerap dicap serba salah oleh lingkungan sosialnya.
Menariknya, kondisi kecemasan dan sikap kritis Gen-Z bisa menjadi peluang bagi mereka menuju sebuah kebangkitan. Mereka menolak pasrah dengan keadaan.
Daya kritis yang mereka miliki bisa menjadi sebuah kekuatan untuk membentuk kesadaran kolektif dalam memperbaiki kondisi masyarakat. Fenomena ini pada akhirnya bisa melahirkan gelombang resistensi Gen-Z sebagai sebuah peluang dan energi positif.
Islam: Solusi Tuntas Selamatkan Generasi
Jika sistem sekuler kapitalistik nyatanya telah melahirkan berbagai kecemasan dan permasalahan Gen-Z, maka Islam hadir sebagai sebuah sistem yang menghadirkan solusi. Sistem Islam, mengatur kehidupan manusia secara sempurna dan menyeluruh.
Oleh karena itu, permasalahan generasi ini menjadi sebuah perhatian penting yang juga diatur dalam Islam. Penerapan Islam secara kaffah akan mendatangkan rahmatan lil 'alamin.
Kondisi ideal ini tentu tidak lahir secara kebetulan. Akan tetapi, diperlukan fondasi kuat yang bersumber dari akidah Islam. Profil generasi muda saat masa kejayaan Islam bisa menjadi sebuah referensi terkait keberhasilan pembinaan generasi muda.
Di masa itu, generasi muda memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjawab setiap permasalahan umat sekaligus cakap dalam berbagai bidang keilmuan.
Negara hadir secara utuh sebagai pelindung dan pelayan umat serta menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara adil. Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda bangkit dan memosisikan kembali sebagai pemimpin perubahan (agent of change).
Semua itu bisa terjadi ketika pemuda diarahkan agar mengemban Islam sebagai sebuah ideologi. Dengan demikian, perlu adanya upaya untuk menyadarkan generasi muda melalui pembinaan intensif agar mereka peduli dengan kondisi umat dan mau berkontribusi dalam gerbong perjuangan menuju kebangkitan Islam yang hakiki.[]
Oleh: Annisa Fauziah, S.Si.
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar