Topswara.com -- Nikah itu bukan sekadar menemukan orang yang membuatmu jatuh cinta. Tetapi menemukan orang yang tetap memilihmu ketika hidup sedang jatuh.
Nak, sekarang hidupmu mungkin masih terasa ringan. Bangun pagi, sekolah, nongkrong, nonton drama, main gim, rebahan sambil bilang, "Capek banget hari ini." Padahal capekmu baru sebatas, "Aduh... besok ada ulangan matematika."
Kalau nilai jelek, paling dimarahi guru atau orang tua. Besok juga bisa ketawa lagi. Tapi begitu akad nikah selesai, maka welcome to the real world.
Tidak ada lagi tombol pause. Tidak ada lagi fitur skip mission. Level kehidupan naik drastis.
Kalau dulu pusing karena rumus fisika, sekarang pusing karena harga beras naik. Kalau dulu takut tidak naik kelas, sekarang takut tagihan listrik belum terbayar. Kalau dulu dompet kosong masih bisa bilang, "Abi, uang jajan habis."
Setelah menikah? Justru kamulah yang ditunggu kalimat itu.
Bagi laki-laki, dulu tidak punya uang masih bisa tidur pulas. Sekarang? Jam sebelas malam masih menghitung saldo sambil berharap token listrik jangan berbunyi tengah malam.
Dulu motor mogok tinggal dorong. Sekarang motor mogok, anak demam, istri kehabisan gas, cicilan jatuh tempo. Semuanya datang bersamaan. Kadang yang mogok bukan motornya.
Tapi pikirannya.
Bagi perempuan, dulu selesai sekolah atau kerja bisa rebahan sambil menggulir media sosial dua jam tanpa rasa bersalah.
Sekarang? Baru duduk lima menit sudah ada yang bertanya, "Bunda... makan apa?" "Sayang... bajuku di mana?" "Mik... besok disuruh bu guru bawa pot dan bunga."
Belum lagi cucian, dapur, rumah, pekerjaan, mendampingi suami, mendidik anak, merawat mertua sakit dan berbagai urusan lain yang datang tanpa jadwal.
Lucunya, ibu-ibu sering dibilang pengangguran. Padahal, walaupun cuma duduk sebentar, tetapi duduknya sambil melipat baju.
Awal menikah biasanya ujiannya soal adaptasi. Belajar memahami kebiasaan pasangan.bTernyata odol tidak boleh dipencet dari tengah. Ternyata handuk tidak boleh ditaruh di kasur. Ternyata pasangan kalau lapar sukanya nyemil tengah malam.
Masuk tahun-tahun berikutnya, datang ujian ekonomi. Biaya sekolah. Biaya kesehatan. Biaya rumah. Biaya yang entah muncul dari mana.
Lalu hadir ujian anak. Anak sakit. Anak remaja. Anak mulai punya pendapat sendiri. Anak mulai mengenal dunia digital.
Setelah itu, masuk usia empat puluhan. Di sinilah babak baru dimulai. Tubuh mulai mengirim surat protes. Bangun tidur leher pegal, yang disalahin bantal. Duduk terlalu lama pinggang protes. Naik tangga sedikit napas mulai negosiasi.
Pada perempuan, perubahan hormon menjelang masa perimenopause dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, dan energi. Pada laki-laki pun dapat terjadi penurunan hormon secara bertahap yang memengaruhi stamina dan kondisi emosional.
Belum selesai sampai di situ. Di usia ini banyak pasangan mulai menghadapi ujian merawat orang tua yang menua.
Mengantar kontrol ke rumah sakit. Menunggu hasil laboratorium. Menemani operasi. Begadang di ruang perawatan. Di saat yang sama, anak-anak juga masih membutuhkan perhatian.
Satu generasi menarik dari depan. Satu generasi mendorong dari belakang. Maka tidak heran bila usia empat puluhan sering disebut masa "sandwich generation" bagi banyak keluarga.
Selain itu, masih ditambah keadaan zaman. Hari ini kita hidup dalam sistem yang membuat godaan hadir di genggaman. Perselingkuhan dipermudah. Pornografi dinormalisasi. Pergaulan bebas dianggap biasa.
Media sosial sering menampilkan kehidupan yang tampak sempurna sehingga orang mudah membandingkan rumah tangganya sendiri.
Sedikit masalah langsung mencari pelarian. Sedikit kecewa langsung mencari pengganti. Padahal yang rusak bukan selalu pasangan. Sering kali yang rusak adalah cara pandang terhadap pernikahan.
Karena itulah Rasulullah SAW memberikan pedoman sejak awal. "Wanita dinikahi karena empat perkara, maka pilihlah yang kuat agamanya, niscaya engkau beruntung" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa agama bukan sekadar pelengkap biodata. Agama adalah kompas ketika cinta sedang redup. Sebab orang yang takut kepada Allah akan lebih mudah menahan lisan saat marah, menjaga pandangan saat digoda, menepati janji, dan memilih memperbaiki daripada meninggalkan.
Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini menerangkan bahwa agama adalah sifat yang paling utama untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih pasangan, karena ia menjadi sebab terjaganya kehidupan dunia dan akhirat.
Sementara itu, Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa rumah tangga yang dibangun di atas ketakwaan akan lebih kuat menghadapi ujian dibanding rumah tangga yang hanya dibangun di atas ketertarikan duniawi.
Cantik akan berubah.
Tampan akan menua.
Harta bisa hilang.
Jabatan bisa selesai.
Tetapi iman yang terus dipelihara akan menjadi pelindung ketika badai datang.
Oleh karena itu Sobat Nabila, sebelum mencari pasangan yang lucu, mapan, terkenal, atau rupawan, maka carilah yang ketika masalah datang, sama-sama tahu ke mana harus kembali. Bukan saling menyalahkan. Tetapi sama-sama bersujud kepada Allah.
Sebab pernikahan bukan perjalanan menuju hidup tanpa masalah. Melainkan perjalanan dua hamba yang belajar menghadapi masalah bersama, dengan iman sebagai penunjuk arah.
Barakallahufikum. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar