Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sabar Itu Diam yang Bernilai Surga


Topswara.com -- Sobat Nabila, pernah lihat status begini gak? "Ya Allah... kuatkan aku."

Lima menit kemudian dihapus. Sepuluh menit kemudian muncul lagi. Lalu disusul status kedua, "Ternyata aku hanya tempat persinggahan."

Netizen pun mulai bekerja. "Kenapa, Kak?"
"Peluk jauh." "Semangat ya."

Yang lucu, kadang masalahnya belum selesai, tetapi update statusnya sudah episode tujuh.

Maaf ya, saya tidak sedang menyindir siapa-siapa. Kalau merasa tersindir, mungkin sinyalnya memang kuat.

Begitulah zaman sekarang. Sedikit kecewa, bikin status. Sedikit sedih, bikin story. Sedikit bertengkar, semua orang seolah diajak ikut rapat online.

Padahal tidak semua luka harus dipamerkan agar terasa nyata. Ada luka yang justru makin mulia ketika hanya Allah yang mengetahuinya.
Bukan berarti Islam melarang kita bercerita. Sama sekali tidak.

Kalau sakit, datanglah ke dokter. Kalau bingung, bertanyalah kepada orang yang berilmu. Kalau hati sesak, curhatlah kepada orang salih yang bisa menjaga amanah. Itu ikhtiar.

Yang menjadi persoalan adalah ketika setiap penderitaan berubah menjadi tontonan demi mengundang simpati.

Hari ini upload nangis.
Besok upload sedih.
Lusa upload sindiran.
Lama-lama bukan lagi mencari solusi, tetapi tanpa sadar sedang ketagihan mencari perhatian.

Padahal perhatian manusia itu murah. Hari ini mereka kasihan. Besok mereka lupa. Lusa mereka sibuk urusan keluarga intinya. Hanya Allah yang tidak pernah bosan mendengar tangisan hamba-Nya.

Lihatlah teladan Nabi Ya'qub 'alaihis salam. Kehilangan putra yang sangat dicintainya tentu bukan musibah kecil. Air matanya terus mengalir hingga penglihatannya memutih. Namun beliau berkata, "Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86). 

Masya Allah, beliau menangis. Beliau sedih. Tetapi beliau tahu ke mana harus membawa kesedihannya. Inilah sabar yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira sabar itu wajah harus selalu tersenyum. Oo...tidak!

Sabar bukan berarti tidak boleh menangis.
Sabar bukan berarti tidak boleh merasa lelah. Sabar bukan berarti pura-pura kuat. Sabar adalah ketika hati tetap ridha meski kenyataan belum sesuai harapan.

Sabar adalah menahan hati dari kemarahan kepada takdir Allah, menahan lisan dari keluh kesah yang tercela, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dimurkai-Nya.

Jadi ukuran sabar bukan seberapa sedikit air mata yang jatuh. Tetapi seberapa banyak adab yang tetap terjaga ketika air mata itu jatuh.

Kadang Allah memang sengaja membuat kita tidak punya tempat bersandar kepada manusia. Supaya kita belajar bahwa sebaik-baik tempat bersandar hanyalah Dia.

Dan jangan pernah mengira sabar itu tidak menghasilkan apa-apa. Justru sabar adalah amal yang hadiahnya paling istimewa.

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas" (QS. Az-Zumar: 10). 

Sobat Nabila, perhatikan kalimatnya, "Tanpa batas." Bukan sepuluh kali lipat. Bukan tujuh ratus kali lipat. Tetapi tanpa batas. Hal tersebut menjelaskan bahwa pahala kesabaran diberikan Allah tanpa hitungan tertentu karena begitu agungnya kedudukan sabar di sisi-Nya.

Mungkin hari ini kita merasa sedang kehilangan. Mungkin sedang dikhianati.
Mungkin sedang difitnah. Mungkin doa terasa belum dikabulkan. Tetapi selama hati masih berkata, "Ya Allah, aku percaya kepada-Mu." 

Maka saat itulah kita sedang mengumpulkan pahala yang bahkan tidak mampu dihitung oleh manusia.

Oleh karena itu, tidak semua luka perlu diumumkan. Tidak semua tangisan harus direkam. Tidak semua penderitaan harus menjadi konsumsi publik. Simpanlah sebagian air matamu untuk Allah. Karena sering kali, doa yang lahir dari tangisan yang sunyi jauh lebih dekat kepada langit daripada keluhan yang ramai di media sosial.

Sabar itu bukan tentang terlihat kuat di depan manusia. Sabar adalah tetap beradab kepada Allah, bahkan ketika hati sedang berkeping-keping.

Percayalah, Allah tidak pernah menyia-nyiakan setetes pun air mata yang jatuh karena taat kepada-Nya. Barakallahufikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar