Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Darurat HIV di Kalangan Pelajar


Topswara.com -- Dahulu jika mendengar penyakit HIV yang ada dipikiran adalah penyakit mematikan karena belum ada obatnya, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Serta penyakit yang menyerang orang-orang yang melakukan hubungan seks bebas, narkoba dan lainnya. 

Serta penyakit ini hanya menyerang orang dewasa, kini penyakit tersebut menjamur dikalangan remaja, nauzubillah. 

Seperti yang terjadi di Sidoarjo, Kasus penularan HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo kini kian memprihatinkan karena telah merambah ke kalangan anak dan remaja usia sekolah. Berdasarkan data Delta Crisis Center (DCC) per 1 Juli 2026, tercatat sebanyak 522 dari total 7.129 orang dengan HIV (ODHIV) di Sidoarjo merupakan anak-anak dan pelajar. 

Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC), Ferry Efendi, mengungkapkan rincian dari 522 ODHIV usia sekolah tersebut, yakni sekitar 13 anak PAUD/TK, 44 siswa SD hingga SMP sederajat, serta 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa. (Voiceindonesia.co 21/7/2026). 

Kenapa bisa kalangan remaja bahkan anak usia paud terkena HIV? Tentu saja banyak faktor, seperti, penularan ibu ke anak saat masa kehamilan atau menyusui, penggunaan jarum suntik narkoba, hingga hubungan seksual berisiko.

Ini adalah alarm keras bagai penguasa, jika generasinya terkena penyakit yang menular dan berbahaya bagaimana akan menciptakan peradaban emas? Bagi masyarakat yang terkena HIV diharuskan berobat seumur hidup, sangat disayangkan sekali. 

Generasi yang seharusnya dilindungi dari berbagai macam bahaya kini terjebak dalam pusaran bahaya, salah satunya penyakit HIV. 

Jikapun ada upaya pencegahan hanya sebatas dipermukaan saja seperti edukasi kesehatan reproduksi, serta melatih kepala sekolah, guru kelas, dan guru Bimbingan Konseling (BK) agar mampu mendampingi peserta didik yang terdampak.

Upaya yang dilakukan hanya pencegahan ketika akan kasus, bukan memberantas dari akarnya. Jika ditelusuri penyakit tersebut terjadi sebagian besar karena hubungan seks bebas. Misalnya suami suka jajan akhirnya istrinya ketularan HIV, dan menyebabkan anak juga tertular. 

Pergaulan di masyarakat sekular hari ini sangat memperihatinkan, kumpul kebo (living together) dianggap biasa, pacaran sampai hamil sudah biasa, menjadi simpanan sugar Dady atau sugar momy hingga seks bebas menjadi pemandangan sehari-hari. Padahal itu perbuatan hina, dan tentu saja merugikan semua pihak. 

Berbeda sekali dengan Islam, Islam sangat mengatur pergaulan pria dan wanita. Bahkan Allah telah memperingatkan 

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً

Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32).

Mendekati saja tidak boleh, apalagi berzina. Dalam masyarakat sekular, pacaran adalah hal lumrah, jika tidak punya pacar akan dianggap aneh, menyimpang (LGBT), tidak laku, dan sebutkan lainnya. 

Dalam Islam ada upaya preventif untuk menekan angka HIV. Pertama, menundukkan pandangan, baik pria dan wanita, dalam kehidupan masyarakat wajib pria dan wanita menutup aurat secara syar'i, serta tidak tabaruj. 

Kedua, penerapan sanksi Islam, seperti ketika terjadi zina yang dilakukan oleh orang yang belum menikah akan diberikan hukuman berupa jilid (dicambuk 100 kali), namun jika dia sudah menikah dirajam sampai mati. Dan perlakuan khas akan diberikan kepada penderita HIV yang tidak berzina.

Bagi yang terkena HIV karena tertular, akan mendapatkan pengobatan secara gratis. Dalam masyarakat Islam, amar makruf nahi mungkar adalah makanan sehari-hari sehingga ketika terjadi perbuatan dosa, masyarakat akan menegurnya. 

Semua itu hanya bisa dilaksanakan ketika negara mengadopsi sistem Islam dalam bingkai khilāfah, dalam sistem sekular kapitalisme hari ini upaya pemberantasan HIV seperti mimpi disiang bolong. Solusi yang ditawarkan semu. 


Oleh: Alfia Purwanti 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar