Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

AI Tidak Dapat Menggantikan Ulama dalam Menjadi Rujukan Agama


Topswara.com -- Sekarang ini apa pun rasanya tinggal ditanya ke AI. Mau cari resep, bikin tugas, menerjemahkan bahasa asing, sampai bertanya soal agama pun banyak yang memilih mengetik di kolom percakapan AI. Cepat memang. Beberapa detik saja, jawaban langsung muncul. 

Mungkin karena itulah banyak anak muda mulai merasa tidak perlu lagi bertanya kepada ustaz atau membuka kitab. Tanyakan saja pada AI, itulah saat ini yang di lakukan kebanyakan orang, apalagi yang hidupnya ingin serba instan. 

Fenomena ini ternyata juga menjadi perhatian Kementerian Agama. Dalam artikel Republika berjudul "Kemenag: Ustadz AI Digemari Anak Muda, tapi tak Bisa Gantikan Ulama" yang terbit pada 2 Juli 2026, Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengingatkan bahwa AI hanya boleh diposisikan sebagai alat bantu. 

AI bisa membantu mencari referensi atau merangkum informasi, tetapi tidak bisa menggantikan ulama dan tidak layak dijadikan rujukan utama dalam persoalan agama.

Menurutnya, jawaban AI tetap harus diverifikasi karena ilmu agama tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga berkaitan dengan konteks, metodologi, dan hikmah dalam penerapannya. Untuk urusan hukum dan fatwa, umat tetap harus merujuk kepada ulama yang memiliki otoritas.

Kalau dipikir-pikir, peringatan itu memang masuk akal. AI memang pintar menjawab, tetapi apakah setiap jawaban itu pasti benar? Belum tentu. Karena AI bekerja dari data yang ada di internet. Sementara kita tahu sendiri, internet itu isinya campur aduk. 

Ada yang benar, ada yang keliru, ada yang sudah dipotong dari konteksnya, bahkan ada yang memang dibuat untuk menggiring opini. AI tidak benar-benar tahu mana pendapat yang paling kuat menurut syariat. Ia hanya menyusun jawaban dari data yang berhasil dikumpulkan.

Di sinilah letak masalahnya. Kadang kita terlalu mudah percaya hanya karena jawabannya terdengar rapi dan meyakinkan. Padahal, belum tentu itu yang paling benar. Kalau untuk mencari ide atau gambaran awal mungkin masih bisa dimaklumi. 

Tetapi kalau sudah menyangkut halal haram, hukum Islam, apalagi fatwa, rasanya terlalu berisiko kalau hanya bersandar pada jawaban sebuah mesin.

Belum lagi kalau melihat bagaimana AI itu dibuat. Algoritmanya disusun oleh manusia dan berada di bawah kebijakan pihak yang mengembangkannya. Sangat mungkin ada proses penyaringan terhadap informasi yang ditampilkan. 

Artinya, kita tidak pernah benar-benar tahu kenapa satu jawaban dimunculkan, sementara pendapat lain tidak. Karena itu, mengganti posisi ulama dengan platform digital jelas bukan pilihan yang benar.

Islam sendiri sudah memberikan jalan yang jelas ketika berbicara tentang hukum agama. Hukum syariat tidak diambil dari hasil pencarian internet, tetapi digali dari Al-Qur'an, Sunah, ijma, dan qiyas melalui proses ijtihad. 

Proses ini dilakukan oleh ulama yang memiliki ilmu dan memahami cara menggali hukum. Mereka tidak hanya menghafal dalil, tetapi juga memahami kapan sebuah dalil digunakan, bagaimana memahaminya, dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan.

Yang juga tidak kalah penting, seorang ulama menyampaikan fatwa dengan rasa takut kepada Allah. Ada amanah yang dipikul ketika berbicara atas nama agama. Karena itulah para ulama sangat berhati-hati sebelum menjawab suatu persoalan.

Berbeda dengan AI. Mesin tidak memiliki rasa takut kepada Allah, tidak memiliki kesadaran, dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas jawaban yang diberikannya.

Allah Swt. telah berfirman:
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43).

Ayat ini sebenarnya sudah cukup menjadi jawaban. Ketika tidak mengetahui urusan agama, Allah memerintahkan kita bertanya kepada orang yang berilmu, bukan kepada teknologi.

Bukan berarti AI harus ditolak. Teknologi tetap bisa dimanfaatkan untuk membantu belajar atau mencari referensi awal. Namun, jangan sampai kemudahan itu membuat kita menggeser kedudukan ulama. 

Sebab, dalam urusan agama, yang dibutuhkan bukan hanya jawaban yang cepat, tetapi jawaban yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dan itu tidak akan pernah bisa diberikan oleh sebuah mesin.

Wallahualam bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar