Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Luka Kecemasan Gen-Z Menjadi Arah Baru Perlawanan


Topswara.com -- Generasi Z (Gen-Z) Indonesia tengah menghadapi krisis yang tidak bisa lagi diabaikan. Dilansir dari GoodStats.id (2024), sebanyak 60% Gen-Z di Indonesia merasa cemas terhadap masa depan. Hal tersebut bukan lagi hanya persoalan angka statistik, melainkan menjadi sinyal darurat.

Pemicunya berlapis. Media sosial mendorong budaya perbandingan sosial yang destruktif, sementara tekanan akademik dan ekspektasi orang tua menambah beban yang tidak proporsional. 

Dilansir dari kompas.id (18/6/2026), remaja Indonesia kini berada di ambang krisis kesehatan mental, dengan tekanan psikologis yang meningkat tajam pascapandemi. Di level global, ratusan juta Gen-Z menganggur atau bekerja tidak sesuai kompetensi, hingga kepercayaan mereka pada sistem semakin terkikis.

Namun, di tengah kelesuan itu, muncul energi perlawanan. Dikutip dari kompas.id (25/5/2026), aksi kolektif Gen-Z mulai terbaca sebagai bentuk penolakan nyata terhadap ketidakadilan dan kebijakan yang abai pada masa depan mereka. 

Depresi yang semula bersifat individual kini bertransformasi menjadi gerakan. Ini pertanda titik balik, dari diam menjadi bersuara, dari pasif menjadi melawan.

Akar Masalah di Balik Kecemasan

Kecemasan Gen-Z bukan semata persoalan psikologis. Ia adalah gejala dari sistem yang sakit. Dunia hari ini dihantam krisis ekonomi, iklim, politik, dan nilai. Ketidakpastian menjadi norma. 

Gen-Z tumbuh di tengah narasi ‘dunia akan kiamat’, ‘kerja keras tidak menjamin sukses’, dan ‘pensiun tidak akan kamu nikmati’. Wajar jika mereka tumbuh dengan eco-anxiety dan future anxiety.

Peradaban sekuler kapitalistik juga turut andil dalam melemahkan jati diri. Sistem yang mengukur manusia dari produktivitas dan popularitas, memaksa generasi muda tumbuh tanpa kompas nilai yang kokoh. Ketika gagal mencapai standar semu itu, mereka runtuh secara psikis.

Negara pun turut abai pada fungsi ri’ayah. Gen-Z selalu berada dalam posisi serba salah: diam disalahkan, bersuara dicibir. Alih-alih dirangkul, mereka dilabeli "manja" dan "mental tempe" oleh generasi di atasnya (mojok.co, 30/4/2026). Di sisi lain, negara gagal menyediakan lapangan kerja layak, pendidikan yang relevan, dan ruang ekspresi yang sehat.

Padahal, sikap kritis Gen-Z adalah aset, bukan ancaman. Kecemasan lahir dari kepekaan. Mereka tidak mau menerima keadaan rusak begitu saja. Jika disalurkan dengan benar, energi ini bisa menjadi motor perubahan yang nyata.

Islam sebagai Kompas

Islam menawarkan solusi yang lebih dari sekadar terapi. Ia memberikan kepastian nilai di tengah dunia dengan nilai ganda tergantung kepentingan. Zikir, salat, dan tawakal bukan ritual kosong. Ketiganya adalah mekanisme psikologis yang terbukti mampu menurunkan kecemasan dan menguatkan jiwa. 

Sejarah Islam mencatat betapa generasi yang dibesarkan dengan akidah sebagai fondasi mampu melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang tangguh. Usamah bin Zaid memimpin pasukan di usia 17 tahun. Imam Syafi’I hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun. Mereka bukan produk sistem yang mengukur manusia dari angka, melainkan dari visi dan nilai.

Dalam bingkai Islam, negara pun memiliki kewajiban yang tegas, menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan, serta menjaga lingkungan sosial yang sehat. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi dan nilai-nilai dijaga, generasi bisa tumbuh tanpa beban survival yang menghancurkan mental.

Gen-Z tidak sedang sakit. Mereka sedang bereaksi terhadap dunia yang sakit. Tugas kita bukan mencibir, melainkan memperbaiki sistem dan memberi kompas nilai. Gen-Z perlu didengar, dirangkul, dan diberi arah yang jelas. 

Jika Islam diterapkan secara menyeluruh, luka kecemasan hari ini akan berubah menjadi energi yang membangun. Karena masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling depresi, tetapi oleh siapa yang paling cepat bangkit dengan arah yang benar. []


Oleh: Ifa Iftitah Kirana, S.Psi. 
(Praktisi Pendidikan)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar