Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kekuatan Gen Z Modal Bangkitnya Peradaban


Topswara.com -- Tingkat kecemasan dan berbagai tekanan sosial hingga gangguan mental menjadi hal yang krusial. Terlebih saat diketahui bahwa berbagai survey menyebutkan bahwa gen Z merupakan golongan yang terpapar parah. 

Generasi Cemas

Di tengah visi misi Indonesia Emas 2045, ada satu fakta yang membuat kita tidak percaya. Benarkah kita mampu menyongsong Indonesia Emas? Sementara keadaan generasi saat ini tengah sakit. 

Gangguan kesehatan mental dan tekanan sosial menjadi satu hal yang dinilai menghambat pencapaian visi misi Indonesia Emas. Terlebih banyak remaja yang terindikasi ingin mengakhiri hidupnya. Beragam faktor penyebab pun disebutkan, mulai dari masalah pergaulan, asmara, keluarga, ekonomi hingga tekanan media sosial. 

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara lain, hal serupa terjadi dengan faktor penyebab yang juga hampir sama. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh anak yakni sekitar 14,3 persen yang memiliki kisaran usia 10-19 tahun, mengalami gangguan kesehatan mental (kompas.id, 18-6-2026). Angka ini disebutkan telah menyumbang sebesar 15 persen dari beban penyakit global golongan tersebut. 

Kesehatan mental dan gaya hidup yang buruk terus mengancam kesehatan fisik dan psikis secara kontinyu. Dan tentu saja, kondisi ini terus merusak masa depan generasi.

Gelombang krisis multidimensi menjadi satu hal yang kini dihadapi. Tak terkecuali gen Z. Potensi mereka terus dilemahkan oleh kondisi yang diklaim sebagai "kemajuan". Namun faktanya, modernisasi yang kini nampak telah melemahkan kekuatan dan potensi generasi. 

Pembajakan pola pikir hingga melahirkan pola sikap apatis terus nampak dan sulit dihindari. Gen Z yang memiliki potensi juga dilemahkan oleh stigma gen milenial yang menyebutkan bahwa gen Z tidak lebih sebagai kaum rebahan yang serba instant dan identik dengan rasa malas. 

Sungguh, inilah cara sistem melemahkan aset peradaban. Gen Z merupakan harta berharga yang mampu berkiprah dalam kemajuan dan kematangan berpikir cemerlang. Jangan sampai terkalahkan oleh stigmatisasi dan sugesti kelompok yang menyekat-menyekat generasi menjadi generasi Z, millenial, baby boomers atau lainnya. 

Inilah cara Barat mengempiskan potensi generasi. Pandangan ini terlahir dari buruknya pemahaman tentang kekuatan peradaban. Dan memang sengaja "diboomingkan" oleh pengetahuan ala barat. Inilah dampak penerapan sistem liberalisme dan sekulerisme. 

Sistem yang serba bebas sengaja diadopsi agar melemahkan potensi dan kekuatan generasi emas muslim. Beragam racun dengan kedok modernisasi pun tak pernah berhenti diaruskan di berbagai lini.

Di tengah keadaan yang terus terpuruk, ada gelombang resistensi yang memberi cercah harapan. Tak hanya sekedar mimpi, gelombang resistensi ini pun menyimpan kekuatan bagi generasi agar mampu bangkit dan bergegas menjemput kemajuan berpikir. 

Peradaban Emas

Sistem Islam memiliki konsep yang apik dalam mengatur kehidupan. Lebih dari itu, Islam pun menghadirkan solusi dari krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini. 

Kita harus yakin bahwa generasi muda saat ini merupakan modal penting dalam meraih kekuatan dan mewujudkan peradaban cemerlang. Karakternya yang tangguh mampu diciptakan melalui pembinaan dan pemahaman tentang Islam ideologis. 

Pembinaan ini mampu melahirkan kekuatan berpikir dan menganalisis masalah sehingga mampu merumuskan solusi sesuai sandaran hukum syarak. 

Dengan pemikiran yang shahih, generasi muda mampu menggerakkan umat dan mengembalikan fungsi negara sebagaimana mestinya, yakni sebagai pengurus dan perisai bagi umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, 

"Imam (pemimpin negara) adalah pengurus/pemelihara rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Para pemuda yang memahami mabda (ideologis) Islam secara menyeluruh mampu menjadi motor penggerak ampuh menuju peradaban emas yang selalu dinantikan. Inilah strategi menuju peradaban gemilang. Kemajuan tak hanya sebatas mimpi. Kesejahteraan pun tak sekedar ilusi. 

Wallahu 'alam bishawwab.


Oleh: Yuke Octavianty 
Forum Literasi Muslimah Bogor 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar