Topswara.com -- Setiap generasi memiliki tantangan unik dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama, termasuk Islam. Gen Z tumbuh di era digital dengan akses informasi yang sangat luas, yang membawa dampak ganda.
Di satu sisi memudahkan pembelajaran, di sisi lain memicu kebingungan akibat paparan konten yang beragam bahkan kontradiktif. Fenomena "depresi menuju resistensi" yang Anda sebutkan mungkin merujuk pada kegelisahan eksistensial yang dialami banyak anak muda seperti kecemasan akan masa depan, tekanan sosial, dan pencarian makna hidup.
Berbagai survey menyebutkan generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Berbagai faktor yang menyebabkan Gen Z mengalami gangguan mental, diantaranya 60% terdapat ketidakpastian terhadap karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global.
Selanjutnya karena tekanan finansial 57%, serta ekspektasi sosial 42% sehingga ada perasaan tidak berdaya terhadap situasi dan kondisi yang berada di luar kendali 36% (data.goodstats.id, 08/04/2026).
Fenomena ini menggejala di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karir dan masa depan membuat gen z bersikap lebih skeptis. Yang diperlukan bukanlah sikap apologetik atau defensif, melainkan ruang dialog yang aman, pendekatan keagamaan yang menekankan kasih sayang dan keadilan, serta pengakuan bahwa keraguan adalah bagian alami dari pencarian iman.
Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Para pendidik, orang tua, dan masyarakat perlu mendampingi generasi ini dengan empati, bukan penghakiman, agar mereka menemukan sumber ketenangan, bukan beban psikologis.
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik.
Sistem kapitalisme menjadikan negara sebagai regulator, sehingga melemahkan proteksi dan merusak peradaban generasi. Beragam jenis platform media sosial sangat berpotensi mempengaruhi perkembangan intelegensi bagi anak usia sekolah.
Abainya riayah negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul, Generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.
Sangat penting menyelamatkan anak bangsa dari hegemoni digital sekuler kapitalistik. Pemimpin harusnya menerapkan pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Islam untuk membangun peradaban emas.
Untuk menyelamatkan mereka dengan mengubah mindset sekuler menjadi paradigma berpikir Islam serta menegakan kebangkitan Islam. Pergerakan gen z harus diarahkan memberikan pemahaman ideologis berdasarkan paradigma Islam.
Hubungan keluarga, masyarakat dan negara dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi dan mengarahkan pada pergerakan yang sahih.
Islam sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Penerapan Islam mendatangkan Rahmatan lil Alamin. Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan.
Islam mengajarkan pola pendidikan yang mustanir sesuai, maksudnya pendidikan tidak hanya fokus pada akademik saja, namun harus menyeluruh dimulai dari kesadaran keimanan, takwa, emosional, intelektual, sosial dan yang utama ahlakul karimah.
Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Negara bertanggung jawab serta umat berperan dalam membentuk generasi pelopor generasi peradaban.
Tugas negara menjaga rakyat dari kerusakan ahlak maupun alam. Memberiakan pemahaman politik generasi harus dibangun untuk melahirkan perubahan sistemik. Pergerakan generasi harus dilakukan secara optimal untuk menerakan Islam secara sempurna.
Oleh: Ariyana
Dosen dan Aktivis Muslimah

0 Komentar