Topswara.com -- Kalau diperhatikan, beberapa tahun terakhir pembahasan soal kesehatan mental seperti tidak ada habisnya. Di media sosial ada. Di kampus ada. Di sekolah ada. Bahkan di tongkrongan pun sering muncul.
Dan yang paling sering disebut tentu saja Gen Z.
Generasi yang katanya paling dekat dengan teknologi, paling cepat mengikuti perubahan zaman, tetapi di saat yang sama juga dikenal sebagai generasi yang paling banyak bergulat dengan kecemasan.
Data dan survei sudah cukup banyak membahas hal ini. Kompas.id 18 Juni 2026 dalam artikelnya Di Ambang Krisis Kesehatan Mental Remaja juga menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental pada remaja.
Artinya ini bukan sekadar tren percakapan di internet. Biasanya media sosial menjadi tertuduh utama. Memang masuk akal. Setiap hari orang melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik. Ada yang sudah sukses di usia muda. Ada yang baru lulus langsung bekerja. Ada yang bisa liburan ke mana-mana. Ada yang seolah selalu bahagia. Masalahnya, hidup manusia tidak pernah sesempurna unggahan media sosial.
Namun rasanya terlalu mudah jika semua kesalahan dilempar ke Instagram atau TikTok. Sebab bahkan tanpa membuka media sosial pun, banyak hal yang memang membuat orang gelisah.
Anak muda tumbuh di tengah harga kebutuhan yang terus naik. Persaingan kerja yang semakin ketat. Pendidikan yang tidak murah. Belum lagi berita korupsi yang seolah menjadi menu rutin. Hari ini muncul kasus baru, besok muncul lagi kasus lain.
Di sisi lain, konflik dan peperangan terjadi di berbagai tempat. Dunia terasa semakin maju, tetapi rasa aman justru semakin mahal.
Mungkin karena itu banyak anak muda mulai mempertanyakan keadaan.
Bukan sekadar mengeluh. Mereka melihat ada sesuatu yang tidak beres.
Aneh juga sebenarnya.
Di satu sisi teknologi berkembang sangat cepat, tetapi banyak orang kehilangan arah hidup. Informasi semakin mudah diakses, tetapi kebingungan justru semakin luas. Produksi pangan melimpah, tetapi kemiskinan tetap ada. Dunia berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi penindasan masih berlangsung di depan mata.
Hal-hal seperti itu sulit untuk diabaikan.
Sayangnya, kegelisahan generasi muda sering diterjemahkan secara berbeda.
Mereka disebut terlalu sensitif. Terlalu lemah. Kurang tahan banting. Padahal bisa jadi yang sedang terjadi justru sebaliknya. Mereka mulai sadar bahwa banyak persoalan tidak bisa dijelaskan hanya dengan kalimat "namanya juga hidup". Ada sebab yang lebih dalam.
Ada akar masalah yang perlu dicari.
Di titik inilah Islam memberikan cara pandang yang berbeda. Islam tidak melihat manusia sebagai makhluk yang hanya perlu diajari bertahan menghadapi tekanan hidup. Islam juga tidak membatasi solusi pada nasihat agar lebih sabar, lebih kuat, atau lebih positif.
Islam mengajak manusia melihat sumber persoalan secara lebih mendasar.
Mengapa ketidakadilan terus terjadi?
Mengapa kesenjangan semakin lebar?
Mengapa kehidupan sering diatur berdasarkan kepentingan segelintir pihak, bukan kemaslahatan manusia secara umum? Pertanyaan seperti itu bukan sesuatu yang asing dalam Islam.
Sebab Islam bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah. Islam juga berbicara tentang bagaimana kehidupan seharusnya diatur. Karena itu ketika Islam diterapkan, yang dibangun bukan hanya individu yang baik. Yang dibangun juga masyarakat yang sehat dan negara yang menjalankan fungsi pengurusan rakyat dengan benar.
Sejarah Islam pernah menunjukkan gambaran itu. Lahir generasi muda yang kuat secara pemikiran, matang secara kepribadian, dan berani memikul tanggung jawab besar. Ada yang menjadi ulama, ada yang menjadi ilmuwan, ada yang memimpin pasukan, ada yang mengemban dakwah ke berbagai penjuru dunia.
Mereka tidak tumbuh di ruang kosong.
Ada akidah yang membentuk cara berpikir mereka. Ada sistem yang menjaga masyarakatnya. Ada negara yang berfungsi sebagai pelayan umat, bukan sekadar pengelola kekuasaan.
Karena itu kegelisahan yang dirasakan banyak anak muda hari ini sebenarnya tidak harus berakhir menjadi pesimisme.
Justru dari kegelisahan itulah sering lahir kesadaran. Kesadaran untuk mencari jawaban yang benar. Kesadaran untuk peduli terhadap persoalan umat. Dan kesadaran bahwa perubahan tidak akan lahir dari sikap masa bodoh.
Masa depan memang belum pasti. Tetapi satu hal yang pasti, masa depan yang baik tidak pernah lahir dari generasi yang hanya menjadi penonton keadaan. Ia lahir dari generasi yang mau memahami masalah, lalu mengambil bagian dalam perjuangan untuk memperbaikinya.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar