Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Potret Buram Generasi Hari Ini


Topswara.com -- Guys, pernah mendengar kutipan dari Imam Al-Ghazali tentang peran guru? “Guru adalah orang yang membuka mata kita untuk melihat dunia, membuka hati untuk mencintai dunia, dan membuka pikiran untuk memahaminya.”

Pada dasarnya, manusia lahir tanpa mengetahui apa pun. Seiring waktu, kita belajar melalui pengalaman, pengamatan, dan bimbingan. Namun, tidak ada manusia yang mampu memahami ilmu secara sempurna tanpa peran guru. Guru menjadi sosok penting yang menjelaskan hakikat ilmu agar tidak disalahpahami. Tanpa bimbingan, ilmu justru bisa berbahaya.

Sayangnya, tidak semua orang memandang guru dengan penghormatan yang layak. Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan kasus siswa di SMAN 1 Purwakarta yang mengejek dan melecehkan guru di kelas, bahkan dengan gestur tidak pantas. 

Para siswa tersebut akhirnya mendapat sanksi skors dan pembinaan. Peristiwa ini bukan sekadar kenakalan biasa, tetapi mencerminkan krisis adab yang serius.

Fenomena ini menunjukkan kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter. Sekolah yang seharusnya melahirkan generasi berakhlak justru lebih fokus pada nilai, peringkat, dan prestasi akademik. Akibatnya, muncul perilaku meremehkan guru, bahkan tindakan tidak sopan.

Kondisi ini tidak lepas dari sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan dalam pendidikan. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam kurikulum.

Pendidikan akhirnya hanya berorientasi pada capaian materi dan persiapan kerja. Peserta didik didorong untuk mengejar nilai demi masa depan ekonomi, bukan untuk menjadi pribadi yang beradab dan berkarakter.

Di sisi lain, guru kini seperti “pahlawan tanpa perisai”. Banyak orang tua menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah, tetapi membatasi guru dalam menegur atau mendisiplinkan. Sedikit ketegasan bisa berujung pada masalah hukum. Akibatnya, guru menjadi serba takut dan memilih bersikap pasif terhadap kenakalan siswa.

Padahal, teguran guru bukan tanpa alasan. Mereka mendidik agar siswa memahami konsekuensi dari setiap perbuatan. Guru juga manusia biasa yang lelah dan memiliki keterbatasan, tetapi tetap berusaha mendidik dengan penuh tanggung jawab. 

Bahkan, banyak guru yang diam-diam mendoakan kesuksesan muridnya. Kebahagiaan mereka adalah melihat murid berhasil, bukan imbalan materi. Namun, jasa tersebut sering dibalas dengan sikap minim adab.

Sebagai solusi, sistem pendidikan Islam menawarkan pendekatan berbeda. Dalam Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Etika, moral, dan kepribadian menjadi fondasi utama dalam pendidikan. Tanpa adab, ilmu yang tinggi justru bisa membawa dampak buruk.

Dalam sistem ini, guru adalah teladan yang dihormati, dilindungi, dan disejahterakan. Negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin kualitas pendidikan serta kesejahteraan guru, sehingga mereka dapat fokus mendidik tanpa tekanan ekonomi atau rasa takut. Pendidikan juga menjadi hak setiap individu dan disediakan secara layak.

Dengan sistem pendidikan Islam, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan bertanggung jawab. Pendidikan tidak sekadar mengejar materi, tetapi membentuk manusia seutuhnya.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Bukhari), maka negara memiliki peran penting dalam memastikan pendidikan berjalan dengan benar.

Bayangkan jika sistem ini diterapkan. Guru dapat mengajar dengan maksimal tanpa tekanan, dan peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus beradab. Karena itu, penting untuk kembali menempatkan pendidikan sebagai sarana membentuk karakter, bukan sekadar alat meraih prestasi duniawi. 

Wallahu a’lam bisshawab.


Rasti Astria 
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar