Topswara.com -- Sudah berkali-kali mencoba menulis soal Gaza. Selalu terasa mentok di tengah. Bukan karena tidak ada yang mau ditulis justru sebaliknya. Terlalu banyak. Dan semuanya berat.
Tetapi ada satu berita yang membuat kita tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.
Tanggal 10 Mei 2026, Republika.co.id menayangkan kesaksian dari tentara Israel sendiri. Bukan dari aktivis, bukan dari media pro-Palestina.
Dari tentaranya langsung. Ia bercerita kepada Iris Haim, seorang ibu yang anaknya, seorang tawanan Israel, justru mati ditembak oleh pasukannya sendiri, bahwa ada perintah yang sudah sangat jelas, setiap laki-laki yang ditemui di Gaza, bunuh. Tidak peduli berapa umurnya.
Kata-katanya persis begini:
"Seorang pria, berapa pun usianya, jangan main-main dengannya, bunuh segera."
"Dan soal perempuan dan anak-anak? gunakan penilaian Anda, karena hal-hal seperti itu bisa terjadi,”
Bayangkan itu sebentar, nyawa anak kecil digantungkan pada mood seseorang yang sedang memegang senjata dan sudah lama tidak tidur.
Ini bukan salah kutip. Ini bukan propaganda. Ini pengakuan dari dalam, dari mulut mereka sendiri.
Yang makin membuat dada sesak, kekejaman itu ternyata tidak berhenti pada yang masih bernyawa. Jenazah warga Palestina yang sudah dikuburkan pun ikut diganggu, digali lagi, dipindahkan, diusir bahkan dari liang lahatnya sendiri, atas tekanan pemukim Israel.
Tidak ada kata yang cukup untuk menyebut ini selain penghinaan paling rendah yang bisa dilakukan manusia terhadap manusia lain. Hidup dibunuh. Mati pun diusik.
Sementara itu wilayah yang dikuasai terus meluas. Terus, tidak berhenti. Padahal gencatan senjata sudah berkali-kali diumumkan, kesepakatan sudah berkali-kali dibuat. Tetapi begitu diumumkan hari ini, dilanggar besoknya. Serangan baru disiapkan, pendudukan baru direncanakan, seolah tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghentikannya.
Dan dunia? Dunia menonton.
Media internasional memang masih meliput, tetapi sampai kapan? Gaza sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis. Lebih dari 300 wartawan tewas sejak 7 Oktober 2023.
Tiga ratus lebih. Mereka bukan korban salah tembak yang tidak disengaja. Membungkam pers memang bagian dari strateginya, kalau tidak ada yang meliput, tidak ada yang tahu, tidak ada yang marah, dan pembantaian bisa terus berjalan dengan tenang. Tetapi angkanya tetap ada, tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Lebih dari 72.736 orang tewas sejak Oktober 2023. Lebih dari 172.000 lainnya luka-luka. Dan di antara korban-korban itu, banyak anak-anak yang kini hidup tanpa kaki, tanpa tangan, tubuhnya diamputasi karena serpihan bom yang tidak kenal usia.
Yang lebih menggelisahkan sebenarnya bukan hanya apa yang terjadi di Gaza. Tetapi respons atau lebih tepatnya, ketiadaan respons dari negara-negara Muslim di seluruh dunia.
Ada lebih dari 50 negara dengan mayoritas Muslim. Ada militer, ada sumber daya, ada populasi yang tidak sedikit. Tetapi semuanya seperti membeku di tempat. Bukan karena tidak tahu, semua orang tahu. Tetapi karena nasionalisme sempit sudah terlanjur mengakar dalam, memecah-mecah apa yang seharusnya jadi kekuatan bersama.
Masing-masing sibuk menjaga batas negaranya sendiri, sibuk mempertahankan hubungan diplomatik dengan pihak yang sedang membombardir saudara seiman mereka. Ukhuwah Islamiah yang selalu disebut-sebut di mimbar dan forum ternyata tidak cukup kuat untuk menggerakkan kaki, apalagi tentara.
Dan ini bukan kelemahan yang datang tiba-tiba. Ini hasil dari perpecahan yang sudah lama dipelihara. Selama umat muslim tidak punya satu kepemimpinan yang benar-benar menyatukan, selama itu pula Gaza akan terus sendirian menghadapi ini semua.
Palestina butuh lebih dari sekadar donasi dan doa. Butuh kekuatan yang nyata, yang bergerak, yang tidak takut. Sebuah persatuan yang punya keberanian untuk berdiri dan berkata "cukup. Tanah ini bukan milik kalian, dan kami tidak akan diam sampai ia kembali ke tangan pemiliknya."
Anak-anak Gaza yang kakinya sudah diamputasi itu tidak butuh simpati yang berhenti di kolom komentar. Mereka butuh umat yang betul-betul merasa satu tubuh dengan mereka, yang kalau satu bagian sakit, bagian lainnya ikut merasakan dan bergerak. Pertanyaannya bukan lagi apa yang terjadi di sana. Pertanyaannya, sampai kapan kita hanya menonton?
Wallahualam bisawab
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar