Topswara.com -- Pernahkah kita bertanya, untuk apa sebenarnya institusi pendidikan didirikan? Sejatinya, sekolah bukan sekadar pabrik penghasil ijazah. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia—sebuah usaha sistematis untuk menanamkan kompas moral di setiap generasi.
Namun, di balik kemegahan seremoni Hari Pendidikan Nasional yang kita rayakan setiap tahun, wajah pendidikan kita sesungguhnya sedang bersimbah air mata.
Kita sedang menyaksikan sebuah paradoks ganjil: di saat teknologi pendidikan semakin canggih, karakter penghuninya justru mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan. Kita tidak hanya menghadapi masalah kurikulum, melainkan kegagalan sistemik dalam menjaga "ruh" pendidikan itu sendiri.
Kenyataan pahit ini terlihat jelas dari normalisasi kekerasan yang telah mencapai titik nadir. Bayangkan, ratusan kasus kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan hanya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tragedi kemanusiaan yang nyata.
Tragedi pengeroyokan pelajar di Bantul yang berujung maut hingga aksi penyiraman air keras di Bogor menjadi bukti bahwa kebengisan pelaku—yang mirisnya masih berstatus pelajar—telah melampaui batas nalar.
Ketika lembaga pendidikan gagal menjamin keamanan fisik pesertanya, esensi belajar-mengajar telah hilang. Kita tidak sedang mendidik calon pemimpin, melainkan membiarkan lahirnya bibit-bibit kriminalitas di bawah atap sekolah.
Krisis ini semakin lengkap dengan pembusukan integritas akademik yang kian terstruktur. Pendidikan yang seharusnya menjadi persemaian kejujuran, kini bergeser menjadi arena transaksi ekonomi.
Terungkapnya praktik joki ujian masuk perguruan tinggi dengan tarif mencapai ratusan juta rupiah membuktikan bahwa kursi pendidikan tinggi kini bisa dibeli. Dengan modus yang semakin canggih, mulai dari penggunaan alat bantu teknologi hingga pemalsuan dokumen, kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa kepada generasi yang cacat moral sejak dalam pikiran.
Jika pola ini terus dibiarkan, pendidikan kita hanya akan menjadi bangunan megah yang tampak indah dari luar, namun keropos di dalam karena digerogoti oleh rayap-rayap kekerasan dan ketidakjujuran.
Menghadapi kerusakan yang sudah mengakar ini, kita perlu kembali pada hakikat pendidikan yang paling mendasar. Ki Hajar Dewantara telah lama memberi pesan kuat melalui filosofi "Ing Ngarsa Sung Tuladha"—bahwa mereka yang di depan harus mampu memberikan teladan.
Krisis kekerasan dan kecurangan hari ini adalah cermin bahwa teladan itu mulai hilang. Jika para pendidik, orang tua, dan pemimpin bangsa tidak lagi menunjukkan karakter yang kuat, maka jangan heran jika generasi muda kita kehilangan arah dan adab.
Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah tanggung jawab mendasar yang wajib dijamin oleh negara untuk membentuk insan kamil. Hal ini sejalan dengan tugas utama Rasulullah SAW yang diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua—keluarga, lingkungan, dan negara—untuk bersinergi membangun benteng akidah yang kokoh agar anak-anak kita selamat dari kerusakan moral.
Ini adalah masalah yang bersifat sistemis. Maka solusi nyata bukan sekadar mengganti kurikulum di atas kertas, melainkan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan menerapkan aturan yang tegas agar muncul efek jera. Jika pendidikan kembali berpijak pada syariat dan adab, maka sekolah akan kembali menjadi tempat yang aman.
Mari kita pastikan pendidikan bukan hanya melahirkan orang-orang pintar yang lihai menipu, melainkan manusia-manusia mulia yang takut kepada Sang Pencipta dan memberikan manfaat bagi sesama. Dan ini semua dapat terwujud hanya jika Islam diterapkan dalam sistem kehidupan. []
Oleh: Eka Hartati
(Praktisi Pendidikan)

0 Komentar