Topswara.com -- Mudik sudah menjadi rutinitas tahunan menjelang lebaran bagi umat muslim di Indonesia. Namun sayangnya tahun demi tahun negara terus kehilangan ratusan korban jiwa dari efek kecelakaan mudik yang tidak terkontrol dan parahnya tahun ini angka kecelakaan mudik lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Korlantas Polri mengungkap angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, angka korban jiwa mengalami penurunan.
Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno, mengatakan jumlah ini dihimpun selama periode 13-19 Maret 2026 (Kumparan.com, 19/3/2026).
Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan balik dan permasalahan ini senantiasa selalu berulang setiap tahunnya. Kemacetan dan kecelakaan saat mudik telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Tidak ada upaya serius yang di lakukan pemerintah terhadap kecelakaan dan kemacetan yang terjadi tiap waktu mudik. Hanya ada upaya teknis yang tidak mencukupi dan tidak menyentuh akar solusinya.
Kecelakaan dan kemacetan yang berulang, ada banyak faktor seperti infrastruktur jalan yang tidak layak, harga tiket tol yang mahal, tiket mahal, banyaknya kendaraan pribadi dan sebagainya.
Kejadian berulang setiap arus mudik, hal ini menggambarkan tidak ada penanganan yang kompresif yang dilakukan oleh pemerintah terhadap kelayakan jalan dan hal tersebut.
Permasalahan mudik terkait erat dengan minimnya pelayanan transportasi massal yang nyaman dan murah sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan. Kondisi jalan juga banyak yang rusak sehingga rawan kecelakaan.
Permasalahan mudik terus berulang sejatinya berawal dari pandangan yang salah terkait tata kelola dunia transportasi. Penerapan sistem sekularisme kapitalisme telah mengesampingkan aturan Ilahi dalam aturan kehidupan.
Dampaknya dunia transportasi dianggap tidak lebih dari sekedar lahan bisnis yang menjanjikan. Dimana kepemilikan fasilitas umum transportasi bebas dikuasai swasta ataupun perusahaan.
Sehingga wajar jika kenyamanan, kualitas pelayanan, tarif yang terjangkau dan keselamatan pemilik Lebaran tak lagi menjadi prioritas utama dalam menyusun kebijakan.
Pandangan sistem sekulerisme kapitalisme, negara tidak mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi rakyat, yang ada negara abai menjamin keselamatan rakyatnya.
Dalam pandangan sistem sekularisme kapitalisme, negara hanya berperan sebagai fasilitator dalam pelayanan publik sementara posisi operator diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar.
Hal tersebut jelas bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam naungan Islam permasalahan mudik tak dipandang sekedar masalah teknis. Tetapi lebih terkait dengan kebijakan publik khususnya yang menyangkut pada infrastruktur dan ketersediaan transportasi umum yang memadai.
Islam pun telah mewajibkan kepada negara untuk memastikan sepenuhnya demi kemaslahatan seluruh rakyat pembangunan infrastruktur sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara. Artinya pelaksanaannya tidak boleh diserahkan ke tangan investor asing ataupun swasta.
Dengan prinsip perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan akan moda transportasi yang diterapkan dengan benar dan bijaksana. Islam memperhatikan keselamatan warga, dan menjadikan keamanan sebagai bentuk tanggung jawab negara, termasuk menyediakan moda transportasi dan infrastruktur yang aman dan nyaman dan harga murah.
Prinsip tersebut telah terbukti, di mana fakta sejarah membuktikan bahwa saat Baghdad dibangun sebagai ibukota. Setiap bagian kota dirancang sedemikian rupa untuk menunjang sejumlah penduduk tersebut beserta segala fasilitas publik yang lengkap.
Sehingga warga tidak perlu melakukan perjalanan jauh guna memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti menuntut ilmu maupun bekerja. Semua bisa dilakukan dengan berjalan kaki.
Selain itu negara berkewajiban menyediakan kendaraan umum yang layak, nyaman, aman dan tarif yang terjangkau baik transportasi darah, laut, maupun udara. Dalam sejarah mencatat bahwa hingga abad ke-19 Khilafah Usmaniyah tetap konsisten mengembangkan infrastruktur transportasi yang aman dan nyaman.
Saat kereta api ditemukan di Jerman, segera setelahnya khalifah memutuskan untuk membangun jalur kereta api dengan tujuan memperlancar perjalanan haji maupun arus mudik ke kampung halaman.
Pada tahun 1900 M Sultan Abdul Hamid II, mencanangkan program "HejazRailway". Jalur ini terbentang dari Istanbul hingga Makkah. Ini mampu memangkas waktu perjalanan yang semula 40 hari tinggal 5 hari.
Inilah realitas bukti kesempurnaan Islam dalam menjamin keamanan dan kenyamanan warga negaranya. Dan bisa dipastikan tidak pernah ada tarif mudik yang mencekik rakyat. Tingkat kemacetan dan kecelakaan diminimalisir.
Sudah saatnya kembali kepada penerapan aturan Islam secara kaffah agar kedepannya problematika seputar transportasi tidak berulang.
Wallahu alam bissawab.
Oleh Rasyidah
Pegiat Literasi

0 Komentar