Topswara.com -- Kalau pelecehan itu terjadi ke saudara perempuanmu, masih bilang bercanda?”
Astaghfirullah, hari ini kita dihadapkan pada dua potret yang sama-sama menyesakkan dada. Kasus lirik lagu yang mengarah pada pelecehan di lingkungan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dugaan pelecehan verbal di grup chat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
Dua kampus besar. Dua ruang intelektual.
Tetapi satu irisan yang sama: perempuan dijadikan bahan candaan.
Miris? Iya. Mengejutkan? Seharusnya iya. Tapi kalau kita jujur, ini bukan kejadian yang tiba-tiba. Ini adalah buah. Buah dari cara pandang yang rusak. Buah dari sistem pendidikan yang menajamkan akal, tetapi mengeringkan iman.
Karena kalau iman masih hidup, tidak mungkin seseorang dengan ringan menjadikan perempuan sebagai objek olok-olokan. Tidak mungkin kata-kata kotor dianggap lucu. Tidak mungkin pelecehan dibungkus dengan dalih “cuma bercanda”.
Coba kita balik pertanyaannya. Tidakkah di rumahmu ada ibu? Ada saudara perempuan? Ada anak perempuan yang kelak tumbuh besar? Relakah mereka diperlakukan seperti itu? Dijadikan bahan obrolan murahan? Dihina dalam ruang-ruang yang dianggap “privat”? Kalau jawabannya tidak, lalu kenapa kepada perempuan lain dianggap biasa?
Di sinilah letak masalahnya. Perempuan tidak lagi dilihat sebagai manusia yang harus dimuliakan, tetapi sebagai objek yang bisa dinilai, dibahas, bahkan direndahkan. Padahal Islam datang dengan pesan yang sangat jelas.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap wanita.”
Bukan sekadar tidak menyakiti. Bukan sekadar tidak menyentuh. Tetapi memuliakan.
Dalam Islam, kehormatan perempuan itu dijaga dari hulu. Dari cara pandang. Dari lisan. Dari interaksi. Bukan menunggu viral baru sibuk klarifikasi.
Laki-laki diperintahkan menundukkan pandangan. Lisan dijaga agar tidak menyakiti. Interaksi diatur agar tidak membuka celah kerusakan.
Kenapa? Karena Islam paham bahwa kerusakan besar selalu dimulai dari hal kecil yang dianggap biasa.
Hari ini candaan. Besok kebiasaan. Lusa jadi perbuatan. Dan hari ini kita melihat tahap itu.
Saat pelecehan tidak lagi dianggap serius, tapi menjadi bahan tawa. Inilah dampak nyata dari pendidikan sekuler. Pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan.
Di kelas, diajarkan hukum. Di luar, dilepas tanpa batas. Di ruang akademik, bicara keadilan. Di ruang privat, merendahkan kehormatan. Akhirnya lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tapi rapuh secara moral.
Mereka tahu mana yang benar, tapi tidak punya dorongan iman untuk melakukannya. Mereka paham aturan, tapi tidak merasa diawasi oleh Allah. Dan ketika standar hidup bukan lagi halal–haram, tetapi suka–tidak suka,
maka dosa pun bisa berubah jadi hiburan. Inilah yang berbahaya. Karena kerusakan tidak lagi terasa sebagai kerusakan. Ia terasa normal.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa rasa malu adalah bagian dari iman. Kalau rasa malu itu hilang, yang tersisa bukan kebebasan, tetapi kehancuran.
Kampus boleh megah. Gelar boleh tinggi. Tetapi kalau adab runtuh, semuanya kehilangan makna.
Maka solusi tidak cukup dengan sanksi. Tidak cukup dengan permintaan maaf. Tidak cukup dengan penonaktifan, tidak cukup dengan pelarangan masuk kampus, tidak cukup dengan klarifikasi.
Yang dibutuhkan adalah perubahan arah.
Mengembalikan pendidikan pada fungsinya, bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa. Manusia yang menjaga lisannya, bahkan saat tidak ada yang melihat.
Manusia yang menghormati perempuan, bukan karena aturan kampus, tetapi karena takut kepada Allah. Karena selama iman tidak menjadi dasar, selama agama terus dipinggirkan, maka kasus seperti ini akan terus berulang.
Tempat boleh berbeda. Pelaku boleh berganti. Tetapi ceritanya akan sama. Dan saat itu terjadi, maka yang rusak bukan hanya individu, tetapi arah peradaban.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar