Topswara.com -- Amerika Serikat (AS) bersama Zionis Yahudi telah memulai serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Ledakan mengguncang ibu kota, Teheran dan beberapa kota lainnya.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh penting lainnya di kabarkan tewas akibat serangan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donal Trump sebut serangan ke Iran akan berlangsung empat pekan atau mungkin kurang (kumparan.com, 02/03/2026).
AS akan tetap menyerang Iran sampai semua tujuannya tercapai seperti pada 25 Juni 2025 serangan AS-Zionis kali ini juga terjadi kala AS dan Iran sedang berunding. Serangan kali ini dilancarkan tepat dua hari setelah putaran tiga perundingan AS-Iran selesai.
Setelah 1,5 hari mendapatkan serangan Iran tidak tinggal diam. Iran telah meluncurkan rudal-rudal terhadap Entitas Yahudi dan pangkalan-pangkalan AS di Teluk.
Perlu dipahami bahwa serangan AS-Zionis yang dilancarkan terhadap Iran terjadi pada saat Iran beredar di orbit Amerika. Artinya Iran telah berada dalam lingkaran kepentingan dan pengaruh politik luar negeri AS. Ia memberikan pelayanan-pelayanan dalam perang AS terhadap Irak di Afganistan dan di banyak bagian kawasan tersebut.
Sungguh para penguasa di negeri kaum Muslim tidak memahami bahaya loyal pada kaum kafir dan ini merupakan kehinaan di dunia dan azab pedih di akhirat.
Dan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 139 yang artinya: “Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan disisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan kepunyaan Allah”.
Penguasa negeri-negeri Muslim hari ini tidak memahami bahwa negara-negara kafir hanya mengutamakan kepentingannya dan bahkan mengusung permusuhan terhadap islam dan kaum Muslim.
Jika negara kafir itu menempatkan keridhaan kepada satu negara yang ada dalam orbitnya atau bahkan kepada negara-negara agennya maka mereka tidak menginginkan kebaikan bagi negara-negara tersebut melainkan menyembunyikan keburukan dan menampakkannya ketika diperlukan.
Seandainya para penguasa negeri-negeri Muslim itu, baik yang berada dalam orbit maupun yang menjadi agennya memahami. Bahwa Amerika tidak memberi mereka bobot sedikit pun. Jika kepentingan Amerika menuntut mereka di singkirkan niscaya mereka akan mencampakkan orang-orang kafir.
Namun mereka tidak melakukannya. Loyalitas mereka kepada kaum kafir penjajah telah mencapai titik ketika salah satu negeri mereka diserang yang lain tidak bergerak untuk membantunya.
Sungguh solusi atas persoalan ini adalah kembalinya Negara Islam dalam bentuk Daulah Khilafah Rosyidah.
Khilafah adalah junnah atau perisai bagi umat. Khilafah akan menyelamatkan umat Islam. Mengembalikan kemuliaannya, mengokohkan kekuatannya dan membuat mush-musuhnya berfikir seribu kali sebelum menyerangnya.
Khilafah akan menyinari bumi dengan kebaikan dan keadilannya. Sebagaimana dahulu khilafah menghancurkan arogansi kaisar Romawi dan Kisra Persia. Demikian pula yang dijanjikan Allah yang akan tegak kembali setelah keruntuhannya akan meruntuhkan kesombongan para pengikutnya.
Seperti Trump dan pihak serupa dari kaum kafir penjajah. Umat Islam tidak boleh mengabaikan kewajiban tegaknya khilafah yang telah ditetapkan syariat islam.
Tegaknya institusi Islam akan menyatukan umat islam dalam satu komando membutuhkan pelopor perubahan yakni kelompok dakwah Islam ideologis. Kelompok dakwah ideologis ini bukan sekedar perbaikan moral individu tetapi penerapan Islam secara menyeluruh yang termanifestasi dalam institusi khilafah. []
Oleh: Nur Fitriani
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar