Topswara.com -- Viral lagi. Lagi dan lagi. Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dilansir detikSumut, Jumat (27/2/2026) mengungkap motif pembacokan sadis mahasiswi UIN Suska Riau, Faradilla Ayu Pramesti (23) yang dilakukan pelaku Raihan Mufazzar (21) akibat cintanya ditolak.
Pelaku lalu sengaja datang dari rumahnya menuju kampus untuk menemui korban. Saat bertemu pelaku langsung membacok korban yang sedang menunggu jam sidang akhir dengan membabi buta menggunakan kapak.
Astaghfirullah, setiap kali ada tragedi yang berawal dari hubungan “Dekat tapi bukan siapa-siapa”, aku cuma bisa menghela napas panjang.
Kenapa kita masih heran? Kenapa masih kaget? Karena hubungan tanpa akad itu memang rapuh sejak awal. Bukan karena tidak ada rasa. Justru karena rasanya terlalu liar.
Tidak ada batas. Tidak ada tanggung jawab. Tidak ada perlindungan hukum syariat. Yang ada hanya perasaan, harapan, posesif, cemburu, dan ego dan ketika salah satu merasa dikhianati, merasa dipermainkan, merasa ditinggalkan, maka luka itu bisa berubah jadi bahaya.
Perempuan sering berkata, “Cuma teman kok.” “Cuma dekat.” “Cuma bercanda.” Tapi kedekatan emosional tanpa komitmen itu bukan hal sepele.
Islam tidak melarang cinta. Islam melarang pelanggaran syariat. Allah sudah memberi batas, “Dan janganlah kamu mendekati zina…”
(QS. Al-Isra: 32)
Perhatikan kata “Mendekati”. Bukan hanya zina yang dilarang. Semua pintu menuju ke sana juga ditutup. Pacaran, TTM, HTS, hubungan abu-abu, itu semua wilayah mendekati.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa sistem pergaulan dalam Islam dibangun untuk menjaga kehormatan dan mencegah kerusakan sosial. Hubungan laki-laki dan perempuan diatur jelas agar tidak menimbulkan fitnah, konflik, atau kezaliman. Karena ketika relasi dibangun atas dasar syahwat dan emosi tanpa aturan, maka yang kuat menekan, yang lemah terluka.
Lucunya, kita sering menganggap cinta itu hanya soal perasaan. Padahal cinta tanpa tanggung jawab bisa melukai dua pihak.
Laki-laki yang merasa diberi harapan bisa terobsesi. Perempuan yang merasa nyaman bisa terjebak. Lalu ketika salah satu mundur, salah satu membatasi, salah satu berubah pikiran, maka yang terjadi bukan sekadar patah hati. Kadang yang muncul adalah amarah dan amarah tanpa iman bisa gelap.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika syahwat dan amarah tidak dikendalikan oleh akal dan iman, manusia bisa turun derajatnya lebih rendah dari binatang. Karena binatang tidak berpura-pura cinta, tapi manusia bisa.
Kita harus jujur pada diri sendiri. Kalau tidak serius, jangan beri harapan. Kalau tidak siap menikah, jangan bangun kedekatan yang intim. Kalau tahu tidak bisa membalas perasaan, jangan menikmati perhatian.
Perempuan sering berkata, “Aku cuma terima baiknya saja.” Tetapi setiap perhatian yang diterima tanpa batas itu menumbuhkan ekspektasi dan ekspektasi yang dipatahkan bisa berubah jadi kebencian.
Ini bukan menyalahkan perempuan. Ini bukan membenarkan laki-laki. Ini mengingatkan dua-duanya.
Laki-laki yang tidak bisa mengendalikan amarahnya juga bersalah. Perempuan yang bermain di wilayah abu-abu juga sedang membuka pintu risiko.
Cinta dalam Islam itu jelas jalurnya. Datang baik-baik. Lamar baik-baik. Nikah baik-baik. Tidak ada permainan. Tidak ada tarik-ulur. Tidak ada drama ghosting. Karena akad itu bukan sekadar legalitas. Akad itu pagar. Tanpa pagar, ladang bisa diinjak siapa saja.
Banyak perempuan berkata, “Pacaran dulu biar tahu sifatnya.” Padahal sering justru makin rumit. Emosi terlibat. Tubuh terlibat.
Ego terlibat. Ketika gagal, yang hancur bukan cuma perasaan. Tetapi juga harga diri.
Maka aku selalu bilang pada adik-adik dan anak perempuanku, "Hidup lurus-lurus saja. Kalau tidak mau menikah sekarang, fokus pendidikan. Bangun diri. Jangan bangun drama. Menjadi perempuan berdaya jauh lebih aman daripada menjadi pusat perhatian laki-laki yang belum tentu bertanggung jawab."
Dan untuk para orang tua, jangan bangga kalau anak perempuan kalian “Banyak yang naksir dan berpacaran”.
Bangga lah kalau dia tahu batas. Karena dunia hari ini mempopulerkan cinta tanpa komitmen. Tapi yang menanggung akibatnya tetap perempuan.
Cinta itu suci. Jangan letakkan di tempat yang salah. Karena cinta tanpa akad, ujungnya sering bukan bahagia, tetapi luka dan kadang bahaya. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar