Topswara.com -- Setiap mendekati tanggal 14 Februari, banyak orang tua mulai merasa gelisah. Grup WhatsApp sekolah ramai, anak-anak minta uang lebih untuk beli cokelat, bunga, atau hadiah kecil. Ada yang bilang, “Semua teman ikut, masa aku enggak?”
Ada ibu yang mengeluh, “Anak saya masih SMP, tapi sudah minta uang buat rayakan Valentine sama pacarnya.”
Ada ayah yang mulai khawatir, “Ini perayaan apa sebenarnya? Kok jadi alasan anak-anak berduaan?”
Kegelisahan itu bukan tanpa sebab. Banyak orang tua merasa nilai yang mereka jaga di rumah seperti pelan-pelan digeser oleh budaya luar yang masuk tanpa disaring.
Padahal, jika ditelusuri, Valentine bukan sekadar hari kasih sayang yang netral. Ia memiliki akar sejarah yang tidak lepas dari tradisi keagamaan dan budaya Barat.
Sebagian sejarawan mengaitkan Valentine dengan perayaan Romawi kuno bernama Lupercalia, sebuah ritual kesuburan yang diwarnai praktik-praktik yang jauh dari nilai kesucian. Setelah itu, gereja mengaitkannya dengan tokoh bernama Santo Valentine yang konon dihukum mati pada 14 Februari.
Dari sinilah tanggal itu kemudian diperingati sebagai hari kasih sayang dalam tradisi Kristen, lalu berkembang menjadi budaya populer yang dipenuhi simbol romantisme, cokelat, bunga, dan hubungan bebas.
Masalahnya, perayaan ini tidak pernah lahir dari tradisi Islam. Ia bukan bagian dari syariat, bukan pula budaya yang sejalan dengan nilai kesucian pergaulan dalam Islam. Namun, karena dibungkus dengan kata “Kasih sayang”, banyak orang ikut-ikutan tanpa tahu asal-usulnya.
Padahal, Islam sudah memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak boleh sekadar ikut arus. Tidak boleh hanya karena tren, lalu kita ikut merayakan sesuatu tanpa memahami asal-usul, makna, dan hukumnya. Islam adalah agama yang membangun kesadaran, bukan agama ikut-ikutan.
Para ulama juga menegaskan larangan menyerupai perayaan non-Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi dasar bagi banyak ulama untuk melarang perayaan yang berasal dari tradisi keagamaan lain, termasuk Valentine. Karena dalam Islam, identitas seorang Muslim harus jelas. Ia punya hari raya sendiri, punya cara sendiri dalam mengekspresikan kasih sayang, dan punya batasan dalam pergaulan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa menyerupai perayaan orang-orang kafir dalam hari raya mereka adalah hal yang terlarang, karena hari raya adalah bagian dari syiar agama. Ketika seorang Muslim ikut merayakannya, maka ia secara tidak langsung mengakui dan menghidupkan syiar yang bukan berasal dari Islam.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga menegaskan bahwa umat Islam wajib menjaga kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya dan tradisi. Menurut beliau, umat Islam tidak boleh mengambil nilai, simbol, dan perayaan dari peradaban lain yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Sebab, peradaban tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal cara hidup dan cara berpikir.
Di sinilah masalah Valentine sebenarnya. Ia bukan sekadar cokelat dan bunga, tapi simbol gaya hidup bebas yang sering kali mengarah pada pacaran, pergaulan tanpa batas, bahkan zina.
Banyak kasus kehamilan di luar nikah, hubungan bebas, dan penyimpangan moral yang meningkat pada momen-momen seperti ini. Semua berawal dari satu hal yang dianggap “Sepele”, yaitu ikut-ikutan tanpa ilmu.
Islam tidak menolak kasih sayang. Justru Islam adalah agama yang penuh cinta. Tapi cinta dalam Islam punya arah, punya aturan, dan punya kehormatan. Cinta tidak diumbar di jalanan, tidak dipamerkan di media sosial, dan tidak dirayakan dengan pelanggaran syariat. Cinta dalam Islam dijaga dalam pernikahan, dibangun dengan tanggung jawab, dan dilandasi ridha Allah.
Kasih sayang dalam Islam tidak butuh tanggal khusus. Setiap hari adalah hari untuk berbuat baik kepada orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak, dan menolong sesama. Seorang suami yang pulang membawa nafkah halal, seorang ibu yang sabar mendidik anak, seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya itulah bentuk cinta yang diridhai Allah, tanpa perlu cokelat berbentuk hati.
Solusinya bukan sekadar melarang, tapi membangun kesadaran. Orang tua perlu menjelaskan kepada anak-anak bahwa tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang ramai itu baik. Seorang Muslim harus punya prinsip, bukan sekadar mengikuti tren.
Tanamkan sejak kecil bahwa identitas seorang Muslim itu mulia. Ia punya Al-Qur’an sebagai pedoman, punya Rasul sebagai teladan, dan punya syariat sebagai jalan hidup. Jika anak-anak memahami ini, mereka tidak akan minder hanya karena tidak ikut merayakan Valentine. Justru mereka akan bangga karena punya prinsip.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya Allah bukan, “Apakah kamu ikut tren?” Tapi, “Apakah kamu mengikuti petunjuk-Ku?”
Maka, sebelum ikut merayakan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, "Apakah ini benar menurut Islam, atau hanya ikut-ikutan tanpa ilmu?" []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar