Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Elit Global, Kejahatan Terorganisir, dan Dunia yang Kehilangan Takut kepada Allah


Topswara.com -- Dunia hari ini sedang dipaksa menyaksikan sesuatu yang selama ini disembunyikan dengan rapi: kejahatan elit global bukan teori konspirasi, melainkan fakta yang berulang. 

Terbukanya kembali dokumen-dokumen terkait Jeffrey Epstein menjadi pintu masuk bagi publik untuk melihat betapa rusaknya sistem kehidupan manusia ketika tidak lagi tunduk pada syariat Allah.

Kasus Epstein memperlihatkan kejahatan yang bukan spontan, melainkan terorganisir. Ada jaringan, ada perlindungan, ada pembiaran. 

Anak-anak diperdagangkan, perempuan dieksploitasi, dan semua itu berlangsung bertahun-tahun tanpa hambatan berarti. Yang mengejutkan, banyak pihak yang seharusnya menjadi penjaga hukum justru menjadi bagian dari mekanisme penutup kejahatan.

Fenomena ini seharusnya menyadarkan kita bahwa masalah utama dunia bukan kekurangan regulasi. Dunia justru kelebihan hukum, tetapi kehilangan rasa takut kepada Allah. Ketika standar benar dan salah ditentukan oleh kepentingan politik dan ekonomi, maka kejahatan paling keji pun bisa disulap menjadi “urusan pribadi” atau “kesalahan administratif”.

Pola ini sangat konsisten jika kita melihat konflik global. Palestina dijajah puluhan tahun, anak-anak dibunuh secara sistematis, namun pelakunya dilindungi oleh hukum internasional yang dibuat oleh pihak yang sama. Suriah dihancurkan atas nama stabilitas kawasan. 

Irak diluluhlantakkan dengan dalih senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan. Jutaan korban berjatuhan, tetapi tidak ada pengadilan yang sungguh-sungguh menjerat para pengambil keputusan.

Inilah wajah dunia tanpa syariat Allah: kejahatan dilembagakan, korban disalahkan, dan pelaku dilindungi.

Sistem sekuler kapitalistik menjadikan kekuasaan dan keuntungan sebagai poros kehidupan. Dalam sistem ini, selama sebuah tindakan menguntungkan secara geopolitik atau ekonomi, maka ia akan dicari pembenarannya. Moralitas menjadi fleksibel. Kemanusiaan menjadi slogan. Sementara darah manusia tumpah sebagai ongkos peradaban.

Islam datang sebagai antitesis dari semua ini. Syariat Allah tidak memberi ruang bagi kejahatan elit. Dalam Islam, kehormatan manusia adalah prinsip dasar, bukan variabel politik. Anak-anak dilindungi secara mutlak. 

Kekuasaan dibatasi oleh hukum Allah, bukan oleh lobi dan modal. Dan setiap penguasa, sekecil apa pun kekuasaannya, akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Namun ketika Islam dipisahkan dari kehidupan publik, yang tersisa hanyalah ritual tanpa daya. Agama dipaksa diam, sementara hukum buatan manusia berkuasa penuh. Dari sinilah lahir dunia yang kita saksikan hari ini: tampak modern, tetapi kehilangan nurani.

Kasus Epstein sejatinya bukan anomali. Ia hanyalah satu potret dari sistem global yang sudah lama busuk. Selama manusia menolak aturan Penciptanya, selama itu pula kejahatan akan terus menemukan jalannya dengan atau tanpa skandal.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah dunia ini adil, tetapi sampai kapan manusia bertahan hidup tanpa syariat Allah.


Oleh: Selvi Sri Wahyuni, M.Pd
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar