Topswara.com -- Kadang istri itu bukan bodoh. Dia cuma memilih diam, karena tidak tahu harus bicara pada siapa.
Dia melihat perubahan suaminya. Tatapan matanya beda. Cara bicaranya dingin.
Wajahnya lelah, tetapi bukan karena kerja. Melainkan karena hatinya penuh maksiat yang ia simpan sendiri.
Istri mungkin tidak tahu isi HP suami. Tidak tahu chatnya dengan siapa.nTidak tahu apa yang ia lihat tengah malam saat semua orang tidur. Tapi suasana rumah tidak pernah bisa bohong.
Rumah yang kehilangan keberkahan itu terasa. Bukan karena temboknya retak,
tapi karena hatinya yang mulai jauh dari Allah.
Anak-anak jadi mudah marah. Suasana rumah tegang. Istri sering menangis diam-diam. Rezeki terasa seret. Masalah kecil jadi besar. Lalu suami bingung, “Kenapa rumah tangga kita tidak tenang?”
Padahal jawabannya sederhana, karena maksiat yang ia pelihara, ikut masuk ke dalam rumahnya.
Syaikh Ibnu Atha’illah pernah mengingatkan dalam Al-Hikam, "Tidaklah Allah membuka bagimu pintu maksiat, kecuali Dia hendak menutup darimu pintu ketaatan.”
Artinya, ketika maksiat dibiarkan, perlahan pintu keberkahan ditutup. Mungkin uang masih ada. Rumah masih berdiri. Mobil masih terparkir.
Tetapi hati? Kosong.
Hubungan? Dingin.
Doa? Terasa berat naik ke langit.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya dosa itu memiliki akibat, yaitu kegelapan di hati, kelemahan pada badan, kesempitan rezeki, dan kebencian dalam hati manusia.”
Lihatlah, betapa dosa tidak berhenti pada pelakunya saja. Ia menjalar seperti racun pelan-pelan, merusak suasana rumah, merusak hubungan suami istri, bahkan memengaruhi jiwa anak-anak.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa keluarga dalam Islam adalah unit pertama pembentukan masyarakat. Jika pondasi keluarga rusak karena penyimpangan akhlak, maka kerusakan itu akan meluas ke masyarakat secara keseluruhan.
Artinya, maksiat kepala rumah tangga bukan cuma urusan pribadi. Ia bisa menjadi awal dari kerusakan generasi.
Bayangkan seorang ayah yang sibuk melihat yang haram. Hatinya penuh bayangan wanita lain. Lalu pulang ke rumah dengan wajah dingin. Istrinya butuh perhatian, tapi ia terlalu sibuk dengan dunia rahasianya.
Anaknya butuh pelukan, tetapi ia terlalu lelah menjaga citra. Lalu suatu hari, anaknya tumbuh tanpa arah. Emosinya kasar. Imannya lemah. Hubungannya dengan orang tua renggang. Bukan karena anak itu jahat. Tapi karena rumahnya kehilangan cahaya.
Wahai para suami, rumah tangga tidak hancur hanya karena miskin. Banyak keluarga miskin yang tetap hangat. Tetapi rumah tangga bisa hancur karena hati kepala keluarganya jauh dari Allah.
Maksiat yang kamu anggap kecil, bisa menjadi badai besar di rumahmu. Chat yang kamu kira sepele, bisa menjadi luka panjang di hati istrimu. Video yang kamu tonton diam-diam, bisa mencabut keberkahan dari rezekimu.
Istri itu bukan cuma butuh uang. Dia butuh suami yang bersih hatinya. Yang pandangannya terjaga. Yang imannya hidup.
Karena suami yang hatinya dekat dengan Allah, akan membawa ketenangan ke dalam rumah. Bukan kegelisahan.
Dan kepada para istri, kalau hari ini rumahmu terasa berat, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi, bukan kamu yang kurang cantik, bukan kamu yang kurang sabar, tetapi ada dosa yang sedang berputar di dalam rumah itu.
Maka perbanyak doa. Perbanyak istighfar. Jaga imanmu sendiri. Karena terkadang, yang menyelamatkan rumah bukan kekuatan suami, tetapi kesabaran dan doa istri yang tidak pernah putus.
Ingatlah, rumah tangga itu seperti kapal. Kalau nahkodanya mabuk maksiat, seluruh penumpang ikut terombang-ambing.
Jadi wahai para suami, jangan cuma sibuk mencari uang. Bersihkan juga hatimu.
Karena rumah tidak hanya butuh nafkah, tapi juga keberkahan.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar