Topswara.com -- Gencatan senjata dan berbagai solusi salah satunya yang terbaru ialah Blueprint of Peace (BoP) kerap ditawarkan atas apa yang terjadi di Gaza. Dunia seolah diberi harapan bahwa jeda tembakan adalah pintu menuju perdamaian yang lebih baik.
Namun pada fakta di lapangan sungguh berbeda. Pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata berulang kali terjadi, dan rakyat sipil tetap menjadi korban dari konflik yang tak kunjung usai.
Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: seberapa serius komitmen para pihak yang terlibat dalam mewujudkan perdamaian? Dunia tampak terlalu mudah percaya pada janji-janji diplomatik, sementara pelanggaran terus berulang tanpa konsekuensi tegas.
Setiap kali kesepakatan diumumkan, harapan tumbuh. Namun tak lama kemudian, dentuman kembali terdengar. Situasi ini memunculkan kesan bahwa sebagian inisiatif perdamaian lebih bernuansa politis daripada substansial.
Kritik pun mengarah pada peran negara-negara besar yang menginisiasi berbagai proposal perdamaian. Ketika pelanggaran terjadi berulang tanpa penegakan hukum internasional yang jelas, publik global wajar mempertanyakan keseriusan dan netralitas mediator.
Perdamaian sejati tidak bisa dibangun di atas standar ganda. Ia menuntut keberanian untuk menegakkan keadilan secara konsisten, siapa pun pelanggarnya.
Tak hanya itu, sikap negara-negara Muslim menjadi sorotan. Banyak di antaranya memilih pendekatan diplomatik dengan alasan menjaga stabilitas kawasan dan mencegah eskalasi konflik.
Namun diplomasi yang tidak disertai posisi tawar yang kuat sering kali berujung pada pernyataan tanpa dampak nyata. Solidaritas tidak cukup diwujudkan dalam retorika; ia membutuhkan langkah strategis yang terkoordinasi, baik secara politik, ekonomi, maupun kemanusiaan.
Karena itu, umat membutuhkan sikap yang tegas dalam menyikapi narasi perdamaian yang tidak disertai keadilan. Perdamaian bukan sekadar berhentinya tembakan sementara, melainkan jaminan hak hidup, keamanan, dan kemerdekaan bagi rakyat sipil. Tanpa itu, gencatan senjata hanya menjadi jeda sebelum babak kekerasan berikutnya.
Persatuan dunia Islam dalam visi politik dan kemanusiaan menjadi kebutuhan mendesak. Bukan untuk memperluas konflik, tetapi untuk memperkuat posisi tawar dalam percaturan global.
Kesatuan sikap dapat mendorong tekanan internasional yang lebih efektif, memperkuat bantuan kemanusiaan, serta menuntut akuntabilitas atas setiap pelanggaran hukum perang.
Pada akhirnya, solusi yang adil bagi Palestina tidak akan lahir dari ilusi atau sandiwara diplomasi. Ia menuntut keberanian moral, konsistensi hukum internasional, dan solidaritas nyata lintas bangsa. Tanpa itu semua, perdamaian hanya akan menjadi kata-kata indah yang terus diulang, sementara penderitaan tetap berlangsung.
Lantas apa solusi yang hakiki untuk palestina ? Ialah dengan tegaknya daulah islam di muka bumi. Menjadi perisai pelindung bagi seluruh darah kaum muslim, menjamin hak hak mereka, dan memerangi kaum kafir penjajah tanpa adanya kompromi.
Wallahu'alam bii sawwab.
Oleh: Siti Nurhasna Fauziah, S.Ag.
Aktivis Muslimah

0 Komentar