Topswara.com -- Banjir datang lagi. Jakarta tergenang lagi. Kejadian ini hampir tiap tahun berulang. Air naik, jalan tidak bisa dilewati, rumah warga kemasukan air. Aktivitas lumpuh. Setelah itu muncul pernyataan-pernyataan resmi. Penyebabnya disebut karena hujan deras. Curah hujan tinggi. Bahkan ada wilayah yang katanya sebelumnya aman, sekarang ikut kebanjiran.
Dilansir Kompas.com (23 Januari 2026) banjir di Jakarta meluas dan hujan deras kembali disebut sebagai faktor utama. Penjelasan ini terdengar masuk akal, tetapi juga terasa terlalu mudah.
Dikarenakan hujan bukan hal baru. Dari dulu hujan turun. Bahkan dulu juga ada hujan deras. Tetapi banjir tidak selalu separah sekarang. Ini yang sering luput dibahas. Seolah-olah hujan adalah satu-satunya biang masalah, padahal bukan.
Kalau dilihat lebih jujur, masalahnya ada di kota itu sendiri. Tanah yang sudah tidak lagi bisa menyerap air. Ruang hijau yang pelan-pelan hilang. Sungai yang makin sempit dan dipenuhi bangunan. Kota dibangun terus, tetapi lupa bahwa air juga butuh tempat.
Air akhirnya meluap ke mana-mana. Masuk ke rumah warga, ke jalan, ke permukiman padat. Bukan karena airnya bandel, tetapi karena memang tidak disediakan ruang untuknya.
Cara pembangunan selama ini juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini. Lahan lebih sering diperlakukan sebagai barang dagangan. Selama bisa dibangun, selama ada nilai ekonomi, pembangunan jalan terus. Urusan dampak lingkungan sering kali baru dibicarakan setelah masalah muncul.
Ketika banjir terjadi, solusi yang muncul juga itu-itu saja. Sungai dinormalisasi. Pompa diaktifkan. Kadang cuaca pun coba diatur. Semua terlihat sibuk. Tetapi hanya sibuk saat banjir datang. Setelah air surut, pembahasan ikut surut. Lalu tahun berikutnya, kejadian yang sama terulang. Penjelasan yang sama diulang. Solusi yang mirip-mirip juga diulang. Begitu terus.
Islam memandang persoalan ini tidak sesederhana itu. Bumi bukan sesuatu yang bebas dipakai tanpa batas. Alam adalah amanah. Kalau dirusak, dampaknya kembali ke manusia sendiri. Karena itu, pengelolaan ruang hidup harus memperhitungkan keseimbangan, bukan hanya keuntungan.
Pembangunan dalam Islam tidak sekadar mengejar hasil cepat. Yang dilihat adalah dampaknya dalam jangka panjang. Apakah membawa kebaikan, atau justru masalah.
Negara bertanggung jawab menjaga agar pembangunan tidak menjadi sumber kerusakan. Dalam sejarah Islam, tata ruang tidak dibuat asal. Sumber air dijaga. Lahan diperhatikan fungsinya. Pembangunan disesuaikan dengan kondisi alam. Tujuannya sederhana, kehidupan berjalan aman, bukan penuh bencana.
Maka banjir hari ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai musibah alam. Ia adalah tanda. Tanda bahwa ada yang keliru dalam cara kita mengelola kota dan ruang hidup. Selama cara lama ini terus dipertahankan, banjir akan tetap datang. Cepat atau lambat.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar