Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Banjir Berulang, Gagalnya Konsep Tata Ruang di Sistem Kapitalisme


Topswara.com -- Banjir, seolah menjadi masalah yang tidak kunjung selesai, berganti pemimpin entah itu RI satu, Gubernur, ataupun Bupati di wilayah-wilayah yang sudah menjadi langganan banjir ternyata belum mampu mengatasi masalah banjir ini. Di berbagai wilayah dan kota-kota besar seperti DKI Jakarat dan kota-kota besar lainnya kembali tergenang banjir. 

Seperti banjir di DKI Jakarta meluas selama dua hari berturut-turut sejak kamis (22/01/2026) hingga Jum'at (23/01/2026). Sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak terdampak banjir, kini ikut tergenang akibat hujan berintensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang. 

Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, meluasnya titik banjir bukan semata karena tingginya curah hujan, tetapi juga di pengaruhi lamanya hujan ekstrim yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Seperti di Kali Cakung lama, segmen sungai Begog di Cilincing, Jakarta Utara. (23/01/2026) megapolitan.kompas.com.

Selain di Jakarta, di kota-kota lain pun sama, banjir masih terus terjadi, seperti di Kabupaten Bandung dan sekitarnya merupakan problem klasik yang berulang. Penyebab utamanya bukan karena tingginya curah hujan, melainkan kekeliruan tata ruang dimana lahan sudah tidak mampu menyerap air. 

Sungai sebagai satu-satunya tempat pembuangan air hujan kini makin menyempit, ruang terbuka hijau sudah tiada, alhasil setiap kali hujan turun mengakibatkan luapan sungai yang membanjiri pemukiman. 

Inilah paragdigma kapitalistik membuat kebijakan dalam tata kelola lahan tidak lagi memperhatikan dampak lingkungan. Pembangunan yang tidak memperhatikan AMDAL (analisis mendalam dampak lingkungan) karena yang terpenting bagi mereka adalah keuntungan, meskipun harus merugikan banyak orang dan dampak buruk akibat dari pemikiran rusak dan merusak. 

Selain itu, solusi penanganan dari pemerintah pun masih bersifat pragmatis, belum menyentuh akar masalah banjir itu sendiri. Pemerintah hanya memberikan solusi tambal sulam, seperti pembersihan bantaran kali dari penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal, tanpa di berikan tempat pengganti yang layak, akhirnya penduduk tersebut kembali lagi. Seharusnya ketika menyelesaikan masalah banjir, di selesaikan pula masalah lainnya.

Berbeda dengan cara Islam, Islam mempunyai tata kelola ruang yang memperhatikan dampak lingkungan, tidak merusak alam, tetap menyisakan resapan air atau parit jika membangun sebuah bangunan. 

Setiap rumah harus memiliki sumur resapan air, dimana air hujan yang mengalir tidak langsung ke sungai, melainkan masuk kedalam sumur resapan, sehingga air hujan bisa di pergunakan kembali saat musim kemarau tiba. 

Membangun pondasi akidah masyarakat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan sebagian dari iman, sehingga masyarakat tidak akan berani membuang sampah sembarangan dan akan merawat sungai sebagaimana mestinya. Sungai akan terjaga, bersih dan lingkungan pun sehat dan bermanfaat untuk banyak makhluk. 

Pembangunan dalam Islam pun tidak berlandaskan asas manfaat kapitalistik, namun mempertimbangkan kemaslahatan umat dalam jangka panjang, sehingga umat bisa menikmati kehidupan tanpa ada ketakutan dan kekhawatiran akan terjadinya banjir. 

Selain itu pembangunan dalam Islam juga akan menciptakan rahmat bagi seluruh alam bukan musibah atau bencana yang akan menyusahkan rakyatnya. Karena rakyat adalah amanah, maka akan di jaga dan lindungi sebaik-baiknya. 

Wallahualam bishawab.


Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar