Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sistem Sekuler Mengikis Nilai Islam dalam Pendidikan


Topswara.com -- Kembali terjadi kasus guru yang dikeroyok oleh muridnya sendiri. Kejadian di SMK 3 Tanjung Jabung Timur Jambi tentang perseteruan antara guru dan siswa ini berawal dari kata-kata kasar yang dilontarkan oleh siswa kepada gurunya. 

Menurut pengakuan siswa hal itu dia lakukan karena tidak terima dengan hinaan yang diberikan oleh gurunya. Kejadian ini sampai pada pelaporan guru ke meja hijau karena kondisi babak belur si guru yang akhirnya dia melaporkan siswanya melalui jalur hukum (detiknews.com, 17/01/2026).

Menurut Ubaid Matraji, selaku koordinator Nasional JPPI peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak. 

JPPI menemukan kisaran tahun 2020-2025, di mana kasus kekerasan di satuan pendidikan melonjak dari 91 kasus (2020) menjadi 641 kasus (2025), naik lebih dari 600% dalam enam tahun. Hal ini merupakan lampu merah darurat bagi sistem pendidikan nasional (mediaindonesia.com, 15/01/2026).

Problem Pendidikan Sekuler

Kasus pelaporan dan kekerasan antara guru dan murid bukanlah sekedar konflik personal atau emosi sesaat saja. Hal ini merupakan problem serius dari dunia pendidikan kita saat ini. Kejadian seperti ini tidak seharusnya terjadi, karena relasi guru dan murid harusnya dibangun atas penghormatan dan keteladanan. 

Di mana peran guru harusnya sebagai tauladan dan orang yang di hormati dijunjung tinggi harkat dan martabatnya dalam institusi pendidikan. Murid sebagai penuntut ilmu diberikan haknya sebagai pembelajar dan diajarkan nilai-nilai kasih sayang. 

Namun, hal ini tidak terjadi, bahkan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan mengarah pada kekerasan.

Pendidikan dalam sistem sekuler kapitalis melahirkan murid yang niradab. Bertindak tidak sopan, kasar, berani terhadap guru baik penghinaan secara verbal maupun adu fisik. 

Namun tidak dapat dimungkiri ada pula oknum guru yang tabiatnya suka menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak antara guru dan murid pada akhirnya berada dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. 

Islam Tanamkan Nilai dan Adab

Pendidikan dalam Islam tidak cukup hanya menghasilkan orang pintar, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki nilai dan beradab. Sebagaimana misi Rasulullah saw diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlak. 

Hal ini terdapat dalam hadis: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia" (HR. Al-Baihaqi dan Imam Ahmad). 

Sistem pendidikan Islam memang unik karena di sana mengajarkan untuk mendahulukan adab sebelum ilmu. Adab secara bahasa artinya menerapkan akhlak mulia. 

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan: "Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).

Orang yang pintar tidak ada artinya apabila tidak memiliki adab (etika). Ilmu justru akan menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain bila tidak dihiasi akhlak. 

Maka akan kita saksikan bagaimana seorang murid akan benar-benar memuliakan gurunya. Begitu juga dengan guru akan mendidik muridnya dengan kasih sayang, kelembutan dan jauh dari kekerasan. 

Seorang guru adalah figur teladan. Dalam Islam pendidikan tidak hanya sekadar transfer pengetahuan tetapi juga memberikan tauladan baik dari guru kepada muridnya. Maka peran negara sangat penting untuk memastikan kurikulum berjalan sesuai dengan akidah Islam. 

Negara menjamin pembiayaan pendidikan dari Baitul Mal secara gratis. Biaya pendidikan dari Baitul Mal secara garis besar dibelanjakan untuk dua kepentingan. Pertama, untuk membayar gaji semua pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan seperti guru, dosen, karyawan dan lain-lain. 

Kedua, untuk membiayai segala macam sarana dan prasarana pendidikan seperti: bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku pembelajaran dan sebagainya (An-Nabhani, 1990). 

Maka bisa dipastikan dalam sistem Islam akan terwujud generasi yang berakhlak mulia dan berwawasan tinggi yang mampu menjadi manusia seutuhnya bukan robot pesanan pasar seperti dalam sistem sekuler kapitalisme. []


Oleh: Imro’atun Dwi P., S.Pd.
(Aktivis Muslimah di Bantul, DIY) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar