Topswara.com -- “Adab lebih tinggi dari ilmu.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan fondasi peradaban. Sebab ilmu yang tidak ditopang adab tidak akan menenangkan, apalagi menyelamatkan.
Ketika adab tersingkir dari pendidikan, ilmu pun berubah kering—keras pada yang lemah, lunak pada yang berkuasa—dan sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang pembinaan kepribadian manusia.
Gambaran itu terasa nyata dalam kasus guru SMK di Jambi yang dikeroyok muridnya sendiri. Peristiwa ini bukan sekadar insiden viral, melainkan potret krisis pendidikan yang lebih dalam: pendidikan yang tercerabut dari nilai dan tujuan.
Peristiwa tersebut terjadi di sebuah SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Video yang beredar luas memperlihatkan seorang guru, Agus Saputra, dikeroyok sejumlah siswa di lingkungan sekolah.
Kejadian bermula dari teguran guru terhadap siswa yang berbicara tidak sopan di kelas. Teguran itu dibalas kata-kata kasar, emosi memuncak, hingga berujung kekerasan fisik (news.detik.com, 15/01/2026).
Dari sisi siswa, muncul versi berbeda. Mereka menilai sang guru kerap melontarkan kata-kata kasar, menghina siswa dan orang tua, bahkan melabeli dengan sebutan bodoh dan miskin. Upaya mediasi gagal dan kasus berlanjut ke jalur hukum (kompas.com, 18/01/2026).
Kasus ini kemudian diposisikan sebagai pelanggaran hak anak atas rasa aman di sekolah. Negara pun diminta hadir. Namun persoalannya bukan sekadar soal keamanan atau prosedur.
Ini adalah krisis sistemis yang lahir dari pendidikan sekuler—pendidikan yang memisahkan ilmu dari adab dan membiarkan pembinaan manusia berjalan tanpa arah peradaban.
Menyalahkan murid semata jelas menutup mata dari realitas. Kekerasan murid memang menunjukkan rusaknya adab, tetapi adab tidak rusak dalam semalam. Ia rusak ketika pendidikan berhenti membina, ketika teguran kehilangan hikmah, dan ketika sekolah berubah menjadi ruang tekanan.
Jika benar ada guru yang terbiasa melukai dengan kata-kata, maka di situlah kegagalan pendidikan bermula. Kekerasan fisik hanyalah ujung dari relasi pendidikan yang telah lama retak.
Islam memandang pendidikan sebagai pilar peradaban yang wajib dikelola sesuai ideologi. Pendidikan adalah sarana membangun kepribadian manusia, dan manusia adalah pelaku peradaban. Karena itu, Islam tidak menyerahkan pendidikan pada mekanisme pasar atau etika individu semata.
Allah SWT berfirman:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Kemuliaan ini menuntut penjagaan. Ilmu harus meneduhkan, bukan melukai. Dan itu hanya mungkin jika adab menjadi asas.
Rasulullah ï·º menegaskan:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Rasulullah ï·º tidak berhenti pada seruan moral. Beliau mengelola sistem pendidikan secara nyata. Pada fase Makkah, Darul Arqam menjadi pusat pendidikan ideologis—tempat akidah, adab, dan visi hidup dibina secara terarah.
Setelah berdirinya negara di Madinah, Masjid Nabawi berfungsi sebagai pusat pendidikan negara. Ahlus Shuffah dibina dan ditanggung negara, sementara para sahabat berilmu ditugaskan mengajar.
Dalam Islam, murid tidak sekadar penerima ilmu, tetapi pribadi yang dibina adabnya. Memuliakan guru (ta’dzim) adalah bagian dari proses pendidikan.
Penghormatan ini menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Pada saat yang sama, guru wajib mendidik dengan kasih sayang. Teguran bertujuan membina, bukan menghina; disiplin ditegakkan untuk memperbaiki, bukan melukai.
Guru adalah teladan sebelum menjadi pengajar. Kepribadian dan ucapannya adalah kurikulum hidup yang diserap murid setiap hari.
Keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya materi, tetapi dari hadirnya keteladanan. Guru yang beradab melahirkan murid beradab; guru yang melukai dengan kata-kata justru meruntuhkan wibawa ilmu.
Agar relasi ini terjaga, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Kurikulum disusun untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar. Setiap mata pelajaran diarahkan menguatkan iman, adab, dan tanggung jawab sosial.
Bandingkan dengan hari ini. Pendidikan diseret ke arah sekuler kapitalistik. Guru diposisikan sebagai tenaga kerja, murid sebagai objek target, dan negara kehilangan visi mendidik manusia. Maka wajar jika ilmu tak lagi meneduhkan dan dan sekolah berubah menjadi arena konflik.
Kasus di Jambi adalah alarm peradaban. Selama adab disingkirkan, Islam tidak dijadikan asas, dan negara abai membina kepribadian manusia, konflik serupa akan terus berulang. Pendidikan sejatinya adalah penjaga peradaban. Dan ketika adab tersingkir, peradaban sedang dipertaruhkan. []
Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)

0 Komentar