Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rumah Tangga Retak Saat Suami Sibuk Dunia, Istri Sibuk Menahan Luka


Topswara.com -- Ada kerusakan rumah tangga yang datang tanpa teriakan, tanpa piring terbang, tanpa status galau di media sosial. Datangnya sopan. Pelan. Tetapi mematikan. Namanya, yaitusibuk yang kebablasan dan diam yang kepanjangan.
Suami sibuk dunia. Istri sibuk menahan luka.

Rumah tetap berdiri. Masakan tetap matang. Anak tetap sekolah. Tetapi jiwanya mulai bocor halus. Tidak banjir, hanya rembes. Lama-lama, basah semua.

Lucunya, suami sering merasa, “Aku sibuk demi keluarga.” Batin Istri juga berperang, “Aku diam demi menjaga rumah.” Dua-duanya benar. Tetapi dua-duanya juga bisa salah kalau kehilangan keseimbangan.

Kesibukan: Antara Amanah dan Pelarian

Tidak semua kesibukan itu ibadah. Kadang ia hanyalah pelarian elegan dari tanggung jawab emosional. Dunia terasa lebih mudah diatur daripada perasaan istri yang butuh ditemani, didengarkan, dan dihargai.

Kerja itu wajib. Menafkahi itu jihad. Tetapi menghadirkan hati di rumah itu juga ibadah besar. Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, "Tanda matinya hati adalah ketika engkau tidak sedih atas ketaatan yang terlewat."

Kalau seorang suami rajin mengejar dunia tapi tidak sedih saat melewatkan waktu bersama keluarga, mungkin yang lelah bukan hanya badannya, tapi hatinya mulai kering.

Istri: Antara Sabar dan Menumpuk Luka

Istri sering memilih diam. Bukan karena tidak sakit, tetapi karena ingin rumah tetap utuh. Ia menelan kecewa, melipat air mata, lalu berkata, “Gak apa-apa.” Padahal “gak apa-apa” itu sering berarti, "Aku sakit, tetapi aku simpan sendiri."

Diamnya istri sering dipuji sebagai kekuatan. Padahal bisa jadi itu tanda kelelahan tingkat dewa. Istri yang terlalu lama memendam luka, lambat laun bukan makin kuat, tetapi makin jauh secara emosional. Ia tetap melayani, tetapi hatinya mulai menjaga jarak. Ia tetap setia, tapi jiwanya mulai membentengi diri.

Hadir Itu Bahasa Cinta Paling Jujur

Banyak rumah tangga rusak bukan karena kurang cinta, tapi kurang hadir. Hadir bukan sekadar pulang. Hadir itu mendengar cerita receh istri tanpa buru-buru menghakimi tanpa memotong,
menatap tanpa sambil main HP, menemani tanpa merasa terbebani.

Kadang yang dibutuhkan istri bukan solusi, tapi didengar. Bukan uang tambahan, tetapi waktu yang utuh.

Dunia Memberi Validasi, Rumah Menunggu Perhatian

Di luar, suami dipuji, dihargai, dielu-elukan. Di rumah, ia ditunggu, dirindukan, dan dibutuhkan. Masalah muncul ketika validasi dunia terasa lebih manis daripada senyum istri. Saat itulah rumah mulai terasa sekadar tempat singgah, bukan tempat pulang.

Islam Menata Peran, Bukan Membebani

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa keluarga dalam Islam adalah unit dasar peradaban. Rumah tangga bukan sekadar kontrak biologis, tapi institusi pembentuk generasi.

Suami bukan hanya pencari nafkah, tetapi pemimpin ruhiyah. Istri bukan sekadar pengurus rumah, tapi penjaga iman dan jiwa keluarga.

Ketika peran ini dijalankan seimbang, rumah menjadi sumber ketenangan. Tapi saat suami tenggelam dalam dunia dan istri tenggelam dalam luka, rumah berubah menjadi hotel emosional, ada fasilitas, tetapi tanpa kehangatan. Hadir di rumah adalah bentuk ketakwaan.

Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, "Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain menyendiri sejenak untuk bermunajat."

Rumah tangga juga butuh munajat bersama. Duduk, bicara, tertawa, bercerita. Bukan cuma update saldo, tetapi update rasa. Karena cinta yang tidak dirawat, akan berubah menjadi kewajiban dan kewajiban yang kehilangan cinta, akan terasa seperti beban.

Jangan Tunggu Retak untuk Hadir

Jika suatu hari pasanganmu berhenti mengeluh, berhenti meminta perhatian, berhenti bertanya, jangan buru-buru lega. Bisa jadi itu tanda ia sudah terlalu lama berjuang sendirian. Rumah tangga bukan rusak karena badai, tapi karena gerimis yang dibiarkan terus-menerus.

Maka, wahai para suami, "Pulanglah dengan hati, bukan hanya badan."

Wahai para istri, "Bicaralah dengan adab, bukan memendam sampai meledak."

Karena rumah tangga yang kuat bukan yang bebas masalah, tetapi yang saling hadir dalam setiap ujian dan ingat, dalam Islam, rumah tangga bukan tujuan akhir, tapi jalan menuju ridha Allah. Kalau rumahmu penuh kehadiran, sabar, dan cinta, maka insyaAllah ia bukan sekadar tempat tinggal tetapi tangga menuju surga.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar