Topswara.com -- Bencana alam yang melanda wilayah Sumatra menyisakan dampak yang serius, tidak hanya pada sektor ekonomi dan permukiman, tetapi juga pada dunia pendidikan.
Meski sebagian sekolah di wilayah terdampak mulai kembali beraktivitas, faktanya ratusan sekolah di Aceh Utara hingga kini masih berlumpur dan belum layak digunakan.
Lebih buruk lagi, ada sekitar 120 pesantren dan balai pengajian dilaporkan rusak akibat banjir bandang. Kondisi ini menempatkan anak-anak didik pada situasi yang rentan kehilangan hak dasar mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Pemulihan ratusan fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana sejatinya merupakan tanggung jawab penuh negara. Negara tidak boleh melempar beban pemulihan kepada masyarakat, terlebih kepada warga yang juga menjadi korban bencana.
Pendidikan adalah hak rakyat, dan menjamin keberlangsungannya merupakan kewajiban penguasa. Ketika sekolah dan pesantren rusak, maka yang terancam bukan hanya bangunan fisik, tetapi masa depan generasi.
Nasib pendidikan anak-anak terdampak bencana harus benar-benar dijamin negara secara menyeluruh. Pemulihan tidak cukup sebatas renovasi gedung, tetapi juga mencakup pemulihan mental dan psikologis peserta didik.
Di saat yang sama, pendidikan harus tetap diarahkan pada pembentukan kepribadian Islam yang kokoh. Dalam kondisi krisis, peran lembaga pendidikan dan pesantren menjadi semakin penting untuk menanamkan akidah yang kuat serta menyadarkan manusia akan perannya sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam Islam negara wajib menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Sistem pendidikan Islam berlandaskan akidah Islam dan bertujuan membentuk individu berkepribadian Islam, berilmu, dan bertakwa.
Karena itu, pemulihan sekolah dan pesantren pascabencana harus menjadi prioritas utama negara agar proses pendidikan tidak terhenti dan generasi tidak menjadi korban kelalaian sistem.
Tidak hanya itu, Islam menempatkan peran utama manusia sebagai khalifah di bumi, yakni mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan hidup, bukan merusaknya. Bencana yang berulang seharusnya menjadi momentum muhasabah dan pembenahan tata kelola kehidupan.
Kesadaran umat perlu dibangun agar terlibat aktif dalam melahirkan generasi khairu ummah (umat terbaik), generasi yang siap menjaga amanah bumi dan menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu'alam bii sawwab.
Oleh: Siti Nurhasanah Fauziah, S.Ag.
Aktivis Muslimah

0 Komentar