Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Insiden Guru dan Murid Cermin Pendidikan Kehilangan Nilai


Topswara.com -- Dunia pendidikan terus menjadi sorotan untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak, dunia pendidikan hari ini benar-benar amburadul. Seharusnya pendidikan menjadi tempat yang aman bagi generasi. 

Pendidikan adalah tempat untuk menuntut ilmu dan membina karakter sebagai manusia yang beradab. Namun, realitas yang terjadi hari ini justru pendidikan menjadi tempat aksi degradasi moral baik dari guru ataupun siswa.

Viral di medsos seorang guru SMK dikeroyo murid di jambi. Kronologinya Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir dari detikSumbagsel. Sedangkan menurut siswa, guru tersebut “sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin".

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. 

Relasi guru-murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Perlu disadari bahwa kedua kasus tersebut, baik guru yang dikeroyok oleh murid ataupun sebaliknya murid tidak bersikap sopan terhadap guru, hilang adabnya merupakan bentuk tindakan tidak senonoh. Kedua perbuatan tersebut tentu tidak dibenarkan.

Maraknya tindakan kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan dari aksi bullying hingga kekerasan tentu menjadi pusat perhatian bagi semua elemen masyarakat. Begitupun juga kepada negara seharusnya mengambil tindak tegas untuk menyoroti masalah pendidikan hari ini yang tidak baik-baik saja agar segera disembuhkan.

Namun perlu dipahami bahwasannya lahirnya pendidikan yang rusak hari ini terjadi akibat petaka diterapkannya sistem sekuler. Penerapan sistem sekuler inilah yang menghilangkan peran agama sebagai aturan kehidupan. 

Agama hanya dijadikan sebatas pelajaran formal di sekolah. Agama hanya sekedar dikenalkan ketika perayaan hari besar namun tidak dijadikan sebagai asas dasar dalam pendidikan itu sendiri.

Selain itu, akibat sistem kapitalisme yang dianut di negeri ini menjadi akar dari persoalan pendidikan yang makin rusak, di dalam sistem ini pendidikan bukan dijadikan sebagai hak dasar yang wajib dijamin negara melainkan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan. 

Artinya negara hanya menekankan kepada keuntungan materi sehingga pendidikan pun diposisikan sebagai industrialisasi bukan pelayanan publik. Lebih parahnya lagi kurikulum yang terus berganti hanya tunduk pada logika pasar bukan bagaimana mencetak generasi yang cemerlang dan berakhlak mulia.

Berbanding terbalik dengan sistem kapitalisme, Sistem Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh negara dan merupakan hak seluruh warga negara. 

Dalam Islam negara wajib menjalankan kurikulum yang berbasis akidah Islam sehingga dari kurikulum tersebut mampu melahirkan generasi yang bermartabat tinggi, berakhlak mulia, dan menjadi pribadi yang bertaqwa.

Sistem Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. 

Dalam sistem pendidikan Islam: Adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan.

Selain itu, negara juga bertanggung jawab penuh dalam memberikan fasilitas yang layak dan memadai. Sebab dalam Islam pendidikan adalah kebutuhan pokok maka negara wajib menyediakan pendidikan yang gratis, berkualitas dan merata bagi seluruh rakyat tanpa ada diskriminasi ekonomi ataupun geografis.

Pendidikan dalam Islam senantiasa memastikan tujuan yang sebenarnya menjadikan sumber daya manusia memiliki kepribadian Islam artinya bukan hanya siswa tetapi juga guru tentu akan mendapatkan pemahaman yang benar sehingga memiliki kepribadian yang tangguh, benar dan kokoh. Sehingga tidak akan ada drama untuk saling menyalahkan atau saling menghina apalagi tindakan mengeroyok

Sistem pendidikan Islam juga menghadirkan tenaga pendidik sebagai figur yang memiliki kepribadian Islam yang bukansekedar memiliki kemampuan mengajar saja. Namun, pendidik paham agar senantiasa menerapkan sanksi yang sesuai dengan syariat Islam untuk mencegah maraknya tindak kekerasan dan tidak melakukan hal yang senonoh kepada siswanya. 

Wallahu a’lam bissawab.


Oleh: Rasyidah 
Pegiat Literasi 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar