Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Momentum Kemuliaan Umat: Saatnya Membumikan Hukum Langit


Topswara.com -- Bulan Rajab adalah satu dari empat bulan haram (mulia) atau asyhurul hurum yang Allah muliakan. Dalam kalender Hijriah, Rajab termasuk hitungan bulan ke tujuh. Ada beberapa peristiwa penting di bulan ini. Salah satunya perjalanan Israk Mikraj yang dilakukan Rasulullah hingga turunnya perintah salat lima waktu. 

Peristiwa Israk Mikraj memiliki banyak hikmah salah satunya yaitu ketangguhan berdakwah dan kepemimpinan universal dalam syariat Islam (liputan6.com, 10/1/26).

Islam memang pernah memimpin dunia, dengan pemerintahan yang tegak pertama kali di Madinah setelah Baiat Aqabah 2 yang juga terjadi dalam bulan Rajab. Namun, akhirnya pemerintahan Islam runtuh pada tahun 1924, kurang lebih sudah 105 tahun umat Islam hidup tanpa pemimpin dan syariat.

Bukan Peringatan Spiritual Belaka

Pada banyak pembahasan dan hikmah yang diambil dari peristiwa dalam bulan Rajab adalah tentang ibadah mahdah yaitu perintah shalat. Ada hal yang terlupa bahwa perintah shalat artinya perintah syariat. 

Seperti yang disebutkan dalam hadis dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suatu saat akan datang para pemimpin, mereka melakukan makruf (kebajikan) dan kemungkaran (kejelekan). Siapa yang benci (dalam hati) akan kemungkaran yang dilakukan oleh pemimpin, maka ia sudah bebas dari dosa dan hukuman. Barangsiapa mengingkarinya, maka dia selamat. Sedangkan (dosa dan hukuman adalah) bagi yang rida dan mengikutinya.” Kemudian para sahabat berkata, “Apakah kami boleh memerangi mereka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan selama mereka mengerjakan shalat” (HR. Muslim no. 1854).

Artinya menegakkan salat sama halnya dengan menegakkan hukum Allah. Namun dalam kehidupan hari ini hukum Allah tidak diberikan ruang. Sebab sistem yang berlaku mengatur kehidupan berasas sekuler, kebebasan yang diusung dalam pemerintahan demokrasi.

Demokrasi lahir dari peradaban Barat yang diprakarsai oleh ideologi Kapitalisme. Peradaban yang lahir menjadikan manusia lebih berkuasa, sebab aturan yang lahir dan kekuasaan yang dijalankan berada dalam kendali tangan manusia atau penguasa. 

Sehingga hukum Allah atau syariat Islam yang agung sangat tidak relevan untuk bersatu dengan pemerintahan demokrasi, sebab sistemnya menentang terhadap hukum langit atau hukum Allah.

Padahal semakin terlena manusia diatur di bawah kendali manusia lain, penjajahan dan kepentingan. Termasuk runtuhnya peradaban agung dan mulia yang pernah memimpin dunia dengan imperium yang megah. 105 tahun tanpa penerapan syariat secara global, adalah bencana bagi umat Islam.

Hingga detik ini umat di seluruh dunia dipecah dan dikotak-kotakkan dalam bingkai nasionalisme ala Barat. Dunia menderita di bawah kepemimpinan peradaban kapitalisme. Hilang fitrah, rusak alam dan kehidupan.

Hukum Langit Bikin Hidup Berkah

Momen kemuliaan di bulan mulia ini tidak hanya diperingati dengan skala spiritual nafsiyah saja, namun lebih tinggi lagi. Yaitu, pada level urgensi kepemimpinan global yang dibutuhkan umat di seluruh dunia untuk melepaskan mereka dari belenggu kehidupan yang tidak sesuai fitrah manusia.

Hukum buatan manusia, atau demokrasi, serta segala yang menaunginya yaitu kapitalisme sekularisme harus segera dicampakkan. Sebab, sistem ini yang menghalangi tegaknya sistem Islam yang menjadi wadah terterapkannya hukum langit atau syariat. Tegaknya sistem Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya.

Lihatlah bagaimana umat menderita. Barometer keteguhan iman di akhir zaman yang kita saksikan di Bumi Syam. Mereka menderita sendirian sedangkan kita hanya menangisi di balik tembok dusta kapitalisme dan nasionalisme. Sungguh menyesakkan dada. 

Bahkan banyak negara lain yang juga dihabisi dengan tidak bersalah atas kerakusan kekuasaan dan kezaliman para antek Barat yang menginginkan Islam tidak tegak kembali.

Bumi Syam, Palestina khususnya, tempat perjalanan Israk Mikraj Rasulullah yang kini di hancurkan oleh Yahudi harus segera bebas. Hanya satu solusinya kepemimpinan global untuk umat seluruh dunia, di bawah sistem Islam atau Daulah Islam. Daulah Islam yang akan mengirimkan tentaranya untuk mengusir para penjajah.

Maka, jika saat ini belum ada negara yang mampu menghadirkan, peran yang dibutuhkan adalah adanya partai yang membawa ideologi Islam. Partai ideologis di tengah umat yang menyuarakan dan berjuang membersamai umat untuk membentuk opini dan kesadaran umum tentang urgensi melanjutkan kembali kehidupan Islam. 

Inilah urgensi pokok dari membumikan hukum langit. Adanya kekhilafahan atau negara yang menerapkan syariat. Perjuangan agung dan vital, umat dan partai bersama-sama menyongsong dengan kesadaran penuh. 

Mereka bergandengan menyambut perjuangan tegaknya syariat di seluruh aspek kehidupan dengan tegaknya khilafah Islamiah yang akan menyelamatkannya. []


Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani 
(Aktivis Muslimah Semarang)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar