Topswara.com -- Dunia saat ini berada di bawah dominasi Amerika Serikat sebagai arsitek kapitalisme sekuler yang mengatur tatanan global, bukan hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga politik dan budaya.
Sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi akumulasi modal telah menjadikan umat Islam terjajah secara struktural, lemah secara ekonomi, dan kian menjauh dari penerapan Islam sebagai sistem kehidupan yang utuh.
Banyak negeri Muslim terikat utang luar negeri, kehilangan kendali atas sumber daya alamnya, serta dipaksa menerapkan kebijakan yang lebih menguntungkan kekuatan besar dibanding kemaslahatan rakyat.
Negara tidak lagi berdaulat menentukan arah pembangunannya, melainkan tunduk pada kepentingan korporasi global dan lembaga keuangan internasional.
Krisis ekologis global semakin menegaskan kegagalan kapitalisme. Alam diposisikan semata sebagai objek eksploitasi demi keuntungan tanpa batas.
Perubahan iklim ekstrem, bencana alam yang kian sering terjadi, kerusakan lingkungan, serta terganggunya sistem pangan dunia merupakan konsekuensi logis dari sistem yang mengabaikan amanah menjaga bumi dan keselamatan manusia.
Arogansi Amerika Serikat sebagai representasi kapitalisme global juga terus ditunjukkan melalui intervensi dan ancaman militer terhadap berbagai negara. Serangan besar AS ke Venezuela pada 3 Januari 2026, yang mencakup operasi militer dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, menuai kecaman luas sebagai pelanggaran kedaulatan negara (NTV News, 6/01/2026).
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa hukum internasional hanya berlaku bagi negara lemah, sementara negara kuat bebas bertindak demi kepentingannya.
Penderitaan umat Islam hari ini tidak dapat dilepaskan dari dominasi ideologi kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Islam direduksi menjadi sekadar ritual spiritual, bukan sistem hidup yang mengatur akidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya, dan pendidikan.
Sekularisme melemahkan cara pandang umat, hingga banyak kaum Muslim menerima hukum buatan manusia meski bertentangan dengan syariat.
Dalam aspek akidah, agama didorong keluar dari ruang publik. Dalam muamalah dan akhlak, riba, eksploitasi, dan gaya hidup materialistik dilegalkan atas nama kebebasan. Dalam ekonomi, kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elite, sementara rakyat hidup dalam kemiskinan struktural.
Negara berubah fungsi dari pengurus umat menjadi pelayan kepentingan modal. Dalam politik, demokrasi liberal melahirkan kepemimpinan pragmatis dan bergantung pada tekanan asing. Pendidikan pun diarahkan mencetak tenaga kerja, bukan membangun kepribadian Islam dan jiwa kepemimpinan.
Selama umat Islam masih menerima kapitalisme sekuler sebagai sistem hidup, kerusakan akan terus berulang. Penderitaan umat bukan semata akibat aktor jahat, tetapi buah dari sistem rusak yang menguasai dunia. Tanpa perubahan ideologis yang mendasar, umat akan terus berada dalam posisi lemah dan terjajah.
Padahal umat Islam memilikinya mabda’ yang sempurna, yakni Islam, yang pernah memimpin peradaban dunia. Islam bukan hanya agama spiritual, melainkan ideologi yang memiliki akidah politik, sistem hukum, dan konsep kepemimpinan yang jelas.
Allah SWT berfirman, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi” (QS. An-Nur: 55). Janji ini menegaskan bahwa kepemimpinan Islam bukan utopia, melainkan keniscayaan syar’i.
Namun janji tersebut mensyaratkan perubahan dari umat itu sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra‘d: 11).
Selama umat masih tunduk pada hegemoni Amerika dan menjauhkan Islam dari pengaturan kehidupan, keterpurukan akan terus berlanjut.
Kepemimpinan Islam adalah satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan dunia yang adil dan penuh rahmat. Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian akan ada khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian” (HR. Ahmad).
Kepemimpinan ini tidak hanya melindungi kaum Muslim, tetapi juga menjadi perisai bagi seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran yang dilegalkan, dan kerusakan akibat keserakahan kapitalisme.
Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107).
Ketika Islam memimpin, rahmat itu hadir dalam keadilan hukum, perlindungan jiwa dan harta, serta penjagaan alam dari eksploitasi serakah. Inilah kepemimpinan global yang benar-benar dibutuhkan dunia hari ini. []
Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)

0 Komentar