Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dari Pak Husein Kita Belajar Sebuah Ketabahan


Topswara.com -- Rumahnya terendam lumpur setinggi satu meter, mengungsi puluhan kilometer dari tempat tinggalnya hingga berjuang membersihkan rumahnya dari endapan lumpur, tetapi semangatnya untuk bangkit sangat kuat.

Dialah Husein. Kami memanggilnya Pak Husein. Ia salah satu korban banjir bandang di Tamiang Hulu yang berhasil dijumpai tim relawan Islam Selamatkan Negeri (ISN) pada 10 Januari 2026.

Perjalanan kami dimulai dari Posko ISN di Kuala Simpang, Aceh Tamiang menyusuri jalanan berdebu akibat lumpur yang mengering menuju Dusun Pulau Tiga, Tamiang Hulu, Aceh Tamiang.

Kami bersama dua tim, satu tim logistik dan tim medis. Kami berencana membuka layanan kesehatan dan bagi-bagi sembako di daerah terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang.

Tamiang Hulu berjarak sekitar 20 KM dari posko kami di Kuala Simpang, di pusat Kota Aceh Tamiang. Waktu tempuh perjalanan selama satu jam, melewati gunung yang telah berubah fungsi menjadi perkebunan sawit. Sepanjang perjalanan, di kanan maupun kiri tampak rumah-rumah warga yang rusak diterjang banjir lumpur dan tumpukan kayu gelondongan berdiameter satu meter.

Satu bulan pascabencana, kehidupan ekonomi mulai bergeliat. Meski tertatih karena fasilitas hancur, jual beli makanan, minuman, sayuran, dan hasil kebun lainnya terlihat di pasar-pasar tepi jalan yang kami lalui. 

Tamiang Hulu ini berada di kaki lembah Bukit Barisan, pegunungan vulkanik memanjang sepanjang Pulau Sumatera (1.650 km) dari Aceh hingga Lampung. Sungai besar membelah Dusun Pulau Tiga. Di sinilah biasanya air mengalir dari atas gunung menuju perkotaan di Kuala Simpang. 

Namun hari itu, 27 November 2025, Sungai Tamiang Hulu tidak lagi sanggup menampung besarnya debit air dari atas gunung yang telah botak akibat alih fungsi hutan. Air meluap, menerjang permukiman, menenggelamkan bangunan dan sekitarnya, hingga rumah-rumah warga hanya tersisa atapnya. Air yang biasanya menumbuhkan sayuran yang ditanam di sela-sela kebuh sawit, hari itu menjadi banjir bandang yang mematikan.

Pak Husein bercerita kepada kami bahwa air bah datang dua kali, pagi sebelum dia berangkat ke ladang, disusul sore hari setelah Shalat Ashar. Banjir kedua inilah yang menghanyutkan tujuh rumah di sisi Sungai Tamiang Hulu.

Curah hujan yang tinggi selama dua hari, ditambah lagi tidak adanya daerah resapan di atas hutan akibat disulap menjadi kebun sawit menjadi penyebab air bercampur lumpur gunung disertai kayu-kayu sisa penebangan bebas meluncur ke bawah.

Pak Husein menatap langit-langit rumahnya dengan mata berkaca-kaca matanya, terbayang sehari pascabanjir dia dan istrinya berjuang membersihkan rumahnya dari lumpur setebal satu meter. 

Sementara itu, kata pria paruh baya itu, para pengusaha sawit mendapatkan keuntungan berlipat ganda, dari penjualan kayu-kayu hasil pembalakan hutan dan keuntungan lahannya ditanami sawit. Di saat yang sama, rakyat hanya mendapatkan hikmahnya saja. 

Kepedihan Pak Husein kian bertambah karena empat anaknya yang semuanya merantau, ternyata juga menjadi korban banjir di Sumatera Utara. Itulah sebabnya mereka tidak bisa pulang membantunya di Aceh Tamiang.

Meski tahu siapa yang patut dipersalahkan dari bencana ini, tetapi, bagi pria asal Aceh Sigli itu, musibah tetaplah musibah, sebuah kenyataan yang harus dihadapi untuk melangkah di masa depan.

"Semua yang terjadi adalah ketetapan Allah dan tugas kita hanya menjalani keputusan itu dengan ikhlas, tanpa buruk sangka kepada Allah. Meski kadang yang kita lihat secara kasat mata buruk menurut nafsu manusia, tetapi hakikatnya kebaikan dan ada hikmah di ujung peristiwa," kata Pak Husein dengan penuh ketabahan.

Hal yang paling mengesankan dari pertemuan kami dengan pria berusia 60 tahun itu adalah ketika dia menasihati kami. "Rusaknya rumah, penyakit yang diderita, gundah gelisah adalah keputusan Allah yang tidak ada kuasa bagi kita menolaknya. Jalani dengan bahagia layaknya naik kapal yang akan mengantarkan kita ke tujuan impian kita, meski kadang di tengah perjalanan kita mabuk, pusing, lapar dan sebagainya," ujarnya kepada para relawan yang datang.

Menutup nasihatnya, dengan penuh ketabahan dia mengatakan, "Menghadapî segalanya dengan ridha, ikhlas, dan lapang dada adalah kunci pertolongan Allah atas segala persoalan hidup kita. Terus istiqamah seperti itu hingga Allah memanggil kita kembali ke haribaanNya," pungkasnya. [] Muhammad Ayyubi (Relawan ISN Aceh Tamiang)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar