Topswara.com -- Gak usah terlalu "wow" sama postingan medsos orang lain. Yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya angle bahagia yang sudah disortir berkali-kali. Bukan karena hidup selalu mulus, tetapi karena memilih menampakkan yang baik adalah adab.
Gak perlu curhat di medsos. Karena setiap kesedihan tidak layak dipamerkan dan setiap luka harus dijadikan tontonan. Orang yang senang memposting kesedihan, mengumbar duka, atau menjadikan penderitaan sebagai konten, sejatinya sedang mencari validasi, bukan ketenangan. Ia seperti orang yang menggaruk luka agar makin berdarah, bukan mengobatinya.
Sebaliknya, orang hebat justru pandai menyembunyikan sedihnya. Bukan karena pura-pura kuat, tetapi karena memahami bahwa martabat diri tidak lahir dari drama, melainkan dari kesabaran.
Mereka tersenyum bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena hati mereka berpegangan pada Allah, bukan pada keadaan. Sehingga orang-orang di luar bisa mengira hidupnya selalu senang. Padahal, di balik layar, ia sedang berjuang, berdoa, dan menahan diri dengan penuh kehormatan.
Menampakkan kebahagiaan itu bukan kepalsuan, jika lahir dari hati yang menerima takdir. Semua rasa bisa terlihat dari sorot mata yang indah. Bukankah mata adalah jendela hati? Itu justru bagian dari rasa syukur. Ia tidak terjebak pada musibahnya, tetapi selalu mencari celah untuk memperbesar rasa syukur di tengah ujian.
Ketika satu pintu keluhan tertutup, ia mencari seribu alasan untuk tetap bersyukur. Ketika terluka, ia memilih melihat kasih Allah yang masih tersisa di sekelilingnya.
Inilah mentalitas orang beriman, yaitu ia tidak larut dalam kesedihan, tidak tenggelam dalam keluhan, dan tidak membiarkan luka menguasai hidupnya.
Jaga Hati dan Adab dalam Ujian
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah Al-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan, “Boleh jadi Allah menutup darimu pintu yang kau sukai,
karena Dia ingin membukakan pintu yang lebih baik bagimu.”
Maknanya, orang yang bijak tidak sibuk meratap atas apa yang hilang, tetapi mencari hikmah di balik setiap kehilangan. Ia tidak memamerkan kesedihannya, karena ia sibuk berdialog dengan Allah di dalam hatinya.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Tenangnya hati bukan karena menguasai keadaan, tetapi karena menyerahkan diri kepada Allah.”
Artinya, orang yang tampak tenang dan bahagia bukan berarti tidak punya masalah, tetapi karena hatinya telah belajar bersandar pada Rabb-nya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ujian bagi orang beriman adalah bentuk pemurnian jiwa, bukan kehancuran.
Beliau mengatakan bahwa Allah terkadang menghilangkan sebagian kenikmatan dunia agar hamba-Nya tidak tertipu olehnya. Maka, menampakkan kebahagiaan bukan berarti menutup mata terhadap ujian, tetapi menunjukkan bahwa iman tetap berdiri tegak di tengah badai.
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya husnuzhan (berbaik sangka kepada Allah). Orang yang terus memamerkan kesedihan cenderung terjebak dalam prasangka buruk kepada takdir. Sebaliknya, orang yang memilih menampakkan ketenangan sedang melatih hatinya untuk percaya bahwa Allah Maha Bijaksana.
Mentalitas Orang Kuat vs Orang Rapuh
Orang rapuh biasanya mengeluh di setiap kesempatan. Menjadikan musibah sebagai identitas. Mengharap simpati terus-menerus
Sedangkan orang kuat itu akan berusaha menyimpan luka dengan adab. Menjaga marwah dirinya. Memilih bersyukur di depan manusia, dan menangis hanya di hadapan Allah.
Bahagia yang ia tampilkan bukan topeng, tetapi itu adalah pilihan sadar untuk hidup di atas rasa syukur, bukan di bawah bayang-bayang kesedihan.
Jadi Sob, menampakkan bahagia adalah bentuk keberanian iman. Menyembunyikan luka adalah tanda kematangan jiwa dan bersyukur di tengah ujian adalah bukti bahwa hati sudah dewasa bersama Allah.
Karena pada akhirnya yang menentukan kualitas hidup bukan seberapa sering kita jatuh, tetapi seberapa anggun kita bangkit tanpa kehilangan iman. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar