Topswara.com -- Zaman media sosial ini kadang bikin geleng kepala. Ada tren absurd, anak-anak lahir dari seks bebas, lalu sang ibu mendadak muncul di depan kamera, nangis-nangis minta pengakuan dari bapak biologisnya. Kayak lagi nagih utang online, bukan nagih tanggung jawab.
Lucunya, momen ini jadi drama publik. Netizen ikut nimbrung, bikin hashtag, komentar pedes, bahkan sampai jadi konten gosip. Padahal yang jadi korban siapa? Anak. Dia enggak minta dilahirkan dalam kondisi seperti itu, tapi langsung kena label “Anak haram” gara-gara ulah orang tuanya. Tragis tapi nyata.
Hilang Malu, Hilang Izzah
Perempuan yang tega memamerkan aib perzinaan jelas sudah kehilangan rasa malu. Rasulullah SAW bersabda, “Malu itu cabang dari iman” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalau cabang ini sudah patah, yang tumbuh justru pohon aib. Bukan hanya memalukan diri sendiri, tapi juga keluarga, bahkan generasi yang lahir jadi korban. Sementara Allah sudah wanti-wanti,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. Al-Isra: 32).
Perhatikan, ayat ini bukan cuma bilang jangan zina, tapi jangan mendekati alias jangan pacaran, jangan genit-genitan, jangan ikut arus budaya “Kebebasan cinta” yang ujung-ujungnya cuma bikin air mata tumpah setelah nafsu reda.
Awalnya sok mesra, panggilannya “Sayang”, “Beb”, “Mama-Papa”, bahkan ada yang sampai bikin konten couple goals. Eh, setelah ada tanda dua garis merah, si cowok mendadak ghosting lebih cepat daripada iklan skip ad di YouTube. Sang cewek bingung, akhirnya drama nangis di media sosial.
Netizen? serbu! Komentar? pedes. Anak? Kadi korban tontonan dan bully-an.
Pergaulan bebas ini ibarat paket lengkap dosa plus drama. Bukan cuma merusak diri, tetapi efeknya nyebar kayak virus, keluarga hancur, anak jadi bingung identitas, masyarakat ikut terdampak, negara repot ngurusin problem sosial yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.
Solusi Islam Mencegah Pergaulan Bebas
Pertama, mendidik para wanita dengan sistem pendidikan Islam agar bisa menjaga kehormatan. Islam ngajarin perempuan untuk memuliakan dirinya. Hijab, akhlak, dan rasa malu itu bukan beban, tapi mahkota.
Cantik itu bukan soal branded bag, tetapi soal takwa. Seorang wanita mulia bukan yang viral di TikTok karena drama asmara, tapi yang viral di langit karena doa-doanya.
Kedua, negara jangan jadi penonton, tapi pengawal. Islam enggak cuma ngatur individu, tapi juga ngatur masyarakat. Dalam Islam, zina jelas dilarang, dengan sanksi tegas sebagai pencegah (hudud). Pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi yang paham halal-haram, bukan generasi bebas kayak iklan operator seluler.
Media dikontrol biar enggak jadi ladang subur konten mesum. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pernah menegaskan dalam Nizham al-Ijtima’i, negara Islam wajib menjaga masyarakat dari kerusakan moral, bukan hanya dengan nasihat tapi dengan aturan yang jelas.
Artinya, negara enggak boleh netral, apalagi permisif. Kalau zina dianggap “urusan pribadi”, itu sama aja negara jadi sponsor kehancuran generasi.
Ketiga, mempermudah nikah. Islam justru memudahkan pernikahan, bukan bikin ribet kayak administrasi pinjaman bank. Kalau ekonomi diatur adil oleh negara, enggak ada lagi alasan “Belum mapan” yang bikin anak muda memilih pacaran ketimbang nikah.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi solusinya simpel, halal sejak awal. Selesai drama, selesai trauma.
Kenapa Negara Penting Banget?
Kalau cuma nyuruh individu jaga diri, tetapi sistem dibiarkan liberal, hasilnya setengah-setengah. Kayak nyuruh anak jangan jajan sembarangan, tapi depan rumah ada warung ciki-ciki nonstop diskon. Gimana enggak tergoda?
Itulah kenapa Islam mewajibkan negara mengatur lingkungan sosial. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan, hukum syariat tidak akan tegak sempurna kecuali dengan keberadaan negara Islam yang menjalankannya secara kaffah.
Jadi bukan sekadar larangan individu, tapi ada mekanisme hukum, pendidikan, dan kontrol masyarakat yang mencegah zina sejak akar.
Jadi, nasab yang jelas itu hak anak. Kasih sayang yang tulus lahir dari pernikahan halal, bukan dari drama pergaulan bebas. Kalau nasab sudah enggak jelas, jangan harap kasih sayang bapaknya bisa jelas.
Mau generasi kita lahir dari pelukan penuh kasih, bukan dari trending topic penuh aib? Ya cuma ada satu jawabannya, kembali ke Islam kaffah.
Karena kalau masih ngandelin sistem sekuler-liberal, hasilnya ya begini, drama jalan terus, trauma enggak putus-putus. Tetapi kalau Islam yang ngatur, bukan cuma individu yang selamat, tetapi masyarakat dan negara pun ikut terjaga. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar