Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Fenomena Duck Syndrome versus Ketangguhan Generasi Gaza


Topswara.com -- Kondisi yang bersamaan mahasiswa yang berasal dari kampus terkemuka di dunia mengalami problem kehidupan yang terlihat baik di luar, namun di dalam hancur dan rapuh. Istilah tersebut adalah duck syndrome. 

Psikolog dari Unit Pengembangan Karier dan Kemahasiswaan (UKK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anisa Yuliandri menjelaskan, istilah duck syndrome pertama kali digunakan untuk menggambarkan mahasiswa Universitas Stanford yang tampak tenang tetapi sebenarnya sedang berada di bawah tekanan besar (Kompas.com, 22/8/2025)

Sementara itu, dengan kondisi yang sama pada saudara di Gaza ditengah pembantaian dan genosida masih terus berada dalam kondisi perang yang tak seimbang, justru memberikan inspirasi bagi seluruh manusia bahwa ketangguhan iman dan hati mereka luar biasa. 

Ditengah genosida yang mereka alami, mereka tetap kuat bahkan semangat dalam belajar dan tekun dalam meraih cita-citanya. Termuat dalam sebuah akun Al Jazeera English (19/8/2025). Anak-anak Palestina yang telah kehilangan orang tua sangat emosional saat mereka lulus dalam sebuah upacara di Gaza's al-Wafaa Orphan Village.

Fenomena duck syndrome bukan hanya pada mahasiswa yang berasal dari kampus di seluruh dunia, tetapi kondisi tersebut sering terlihat pada mahasiswa di Indonesia. Di mana rata-rata mahasiswa berupaya memenuhi ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. 

Keadaan yang di alami oleh mahasiswa yang terjebak pada fenomena duck syndrome ini adalah buah jebakan dari tuntutan hidup ala sekuler kapitalis. Sistem kapitalisme sekulerisme notabene merusak karena memiliki paham pemisahan agama dari kehidupan. 

Tak hanya itu, paham tersebut menjadikan konsep materi adalah sebagai tujuan, sehingga mendorong para mahasiswa berjuang untuk tetap bertahan sesuai tuntutan yang perfeksionis dan gaya hidup yang liberal dan hedonis yang pada akhirnya membuat stres dan depresi. 

Ditambah dengan kondisi lemah iman, tidak memahami hakikat hidup, prioritas amal, rendahnya kesadaran politik bahwa sistem sekuler kapitalis menjadikan krisis multidimensi sehingga tidak bisa dihadapi secara individual.

Satu sisi, yang membuat mata takjub kepada prestasi dan ketangguhan generasi Gaza yang luar biasa, meskipun mereka dalam kondisi terpuruk akibat penjajahan dan pembantaian oleh Zionis laknatullah. Generasi Gaza tetap kokoh menjalani kehidupan meraka yang serba sulit. 

Jelas, karena ketangguhan pola pikir dan iman mereka maka generasi Gaza patut di sebut generasi hebat yang mampu memberikan inspirasi bagi dunia.

Takjubnya luar biasa, ternyata meskipun mereka sulit tapi di Gaza masih terus membina pembentukan generasi penjaga masjid Al Aqsa tetap dilakukan. Remaja dan orang tua bahkan nenek-nenek yang memiliki kemampuan melakukan diskusi dan memberikan pelajaran serta pendidikan pada anak-anak Gaza. 

Pendidikan qur'ani yang akan membentuk generasi yang berkepribadian islam penjaga Alaqsa. Anak-anak tetap melakukan kewajiban dalam kondisi perang. Perang bukan alasan berhenti belajar, bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan tanpa didampingi orangtua mereka yang telah syahid.

Butuh penyatuan kekuatan kaum muslimin untuk mengakhiri perang di Gaza, yang akan mampu mengomando tentara kaum muslimin untuk berjihad demi mengakhiri Zionis AS. Anak-anak bisa merasakan kembali kehidupan yang indah dalam naungan syariat Islam. 

Oleh, karena itu perlu ada perjuangan untuk menegakkan khilafah. Perjuangan ini membutuhkan dukungan umat termasuk para pemuda/mahasiswa muslim.

Seluruh kaum muslimin harus memiliki kesadaran kuat untuk menyelamatkan saudara-saudara muslim di Palestina. Harus ada upaya dakwah yang menyatukan pemikiran dan perasaan bahwa akar masalah di Palestina adalah perang ideologi antara Islam dan kapitalisme, dan solusi syar’inya hanya jihad fi sabilillah, yaitu dengan menghalau para Zionis Israel dari bumi Palestina melalui jihad tentara Muslim.

Penyadaran kaum muslim dapat di lakukan dengan mengencarkan aktivitas dakwah. Tentu hal itu dapat di lakukan bagi partai politik Islam ideologis, sebab merekalah yang mengambil fikrah dan thariqah dakwah yang asasnya adalah ideologi Islam, sehingga mereka juga mampu memahami dengan benar realita masalah dan solusi untuk menyelesaikannya. 

Ketangguhan anak-anak Gaza harus menjadi inspirasi bagi mereka yang terkena duck syndrome. Ketangguhan mereka adalah bukti nyata ketinggian Islam dalam membina generasi. Memahamkan kembali hakikat identitas hakiki sebagai muslim dan menyadarkan jebakan standar kapitalisme justru membuat stres, merusak dan menjerumuskan.

Semua itu membutuhkan penyadaran politik dan adanya kebutuhan perubahan sistem islam sebagai solusi krisis multidimensi termasuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis.


Oleh: Rasyidah 
Pegiat Literasi 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar