Topswara.com -- Rakyat lagi susah, harga kebutuhan pokok makin naik, lapangan kerja sempit, tapi kabar terbaru justru bikin kening berkerut, gaji dan tunjangan anggota DPR tembus lebih dari Rp100 juta per bulan. Jumlah segitu jelas bikin rakyat geleng-geleng.
Apalagi kalau diingat, kinerja DPR selama ini juga jauh dari kata memuaskan. Seorang pengamat bahkan menyebut, pendapatan mereka yang fantastis itu seperti menampar hati rakyat sendiri. (BeritaSatu, 26 Agustus 2025).
Fenomena ini sebenarnya bukan kejutan, tapi buah dari sistem politik demokrasi yang kita jalani. Dalam sistem ini, politik nyaris selalu identik dengan transaksi. Kursi jabatan dipandang sebagai investasi, bukan amanah.
Wajar saja kalau setelah duduk dikursi DPR mereka merasa sah-sah saja menikmati gaji besar, tunjangan berlapis, sampai fasilitas serba wah. Padahal, di luar sana rakyat harus jungkir balik sekadar memenuhi kebutuhan dasar.
Ironisnya, pemerintah yang seharusnya hadir jadi pelindung malah ikut larut dalam lingkaran yang sama. Bukan rahasia lagi, elit politik lebih sibuk mengurus kenyamanan mereka sendiri. Sementara rakyat? Diminta bersabar, diminta memahami kondisi, bahkan terus dipaksa menanggung beban lewat pajak dan harga barang yang makin melambung.
Ada jurang lebar antara mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan dengan rakyat yang tiap hari harus peras keringat demi bertahan hidup.
Inilah wajah asli demokrasi sekuler, sebuah sistem yang memberi panggung bagi segelintir orang untuk hidup mewah, sementara mayoritas rakyat dibiarkan berjuang sendirian. Selama aturan dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia, jangan heran kalau kebijakan lahir untuk menguntungkan mereka yang berkuasa.
Islam menawarkan jalan yang sangat berbeda. Dalam pandangan Islam, jabatan bukanlah tiket untuk jadi kaya, tapi amanah besar yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Pemimpin dalam sistem Islam diingatkan bahwa setiap tindakannya kelak akan dimintai hisab. Karena itu, jabatan tak bisa dipakai untuk memperkaya diri atau menimbun fasilitas. Syariat Allah menjadi pengatur, dan ketakwaan jadi benteng yang menjaga.
Bayangkan kalau wakil umat benar-benar punya kepribadian Islam, yang mereka kejar bukan lagi tunjangan fantastis, tapi ridha Allah. Mereka bekerja bukan untuk memperbanyak fasilitas pribadi, melainkan untuk memastikan rakyat hidup sejahtera. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berebut kursi dan fasilitas.
Jadi, masalah gaji DPR yang selangit ini bukan cuma soal oknum yang serakah. Ini masalah sistem yang rusak dari akar. Selama demokrasi kapitalis tetap jadi dasar, wajah politik Indonesia akan selalu sama, elit kenyang fasilitas, rakyat kenyang penderitaan.
Islam hadir bukan hanya untuk mengkritik, tapi untuk memberi solusi nyata mengembalikan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai ladang mengeruk kekayaan.
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah
0 Komentar