Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Konser Coldplay: Euforia Semata atau Ancaman Pemuda?


Topswara.com -- Demam Coldplay melanda negeri ini. Pasalnya, band asal London ini dijadwalkan akan menggelar konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 15 November 2023 mendatang. Daftar tiket dan layout konser Coldplay di Indonesia resmi dirilis pada 11 Mei 2023 lalu.

Dalam unggahan di media sosial PK Entertainment, harga tiket konser Coldplay di Stadion Utama Gelora Bung Karno akan dijual mulai Rp800 ribu sampai Rp11 juta yang menjadi paket dengan harga termahal. Harga tiket tersebut belum termasuk pajak pemerintah 15 persen, convenience fee 5 persen, dan biaya tambahan lainnya (CNN Indonesia, 11/5/2023)

Pelaksanaan konser ini menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan agama. Seperti diketahui, kelompok solidaritas 212 di Indonesia menolak kedatangan Coldplay karena band legendaris asal Inggris tersebut kerap mengampanyekan hak-hak kelompok LGBT dalam konsernya. Sementara itu, di Malaysia ada Partai Islam Malaysia (PAS) yang juga mendesak agar konser Coldplay Stadion yang bakal digelar di Nasional Bukit Jalil Kuala Lumpur pada 22 November dibatalkan (CNBC Indonesia, 29/5/2023)

Di sisi lain, para fans beratnya pasang badan. Mereka mengatakan bahwa kedatangan Coldplay tidak ada kaitannya dengan mengkampanyekan LGBT. Ini hanya sekedar euforia dan hiburan semata. Namun, apakah benar kehadirannya hanya sekedar hiburan? Atau ada misi tertentu yang justru menjadi ancaman bagi generasi negeri ini?

Grup band luar negeri pada umumnya sangat kental dengan paham liberalnya. Bahkan beberapa personilnya merupakan pendukung LGBT. Tidak pantas jika mereka diberikan ruang untuk hadir di negeri yang penduduknya mayoritas Muslim. 

Selain itu, konser-konser yang diselenggarakan di negeri ini jelas menampakan kerusakan bagi generasi. Lirik lagunya yang banyak mengandung pemujaan terhadap kehidupan bebas, mengumbar aurat, campur baur (laki-laki dan perempuan), dan terlebih mereka adalah orang-orang kafir yang tidak leaps dari nilai yang mereka yakini yang muncul dalam penampilannya. 

Jika mereka adalah pendukung LGBT maka mereka akan membawa simbol-simbol yang berkaitan dengan apa yang mereka dukung. Hal demikian jelas akan merusak pola pikir dan pola sikap generasi. 

Namun, kondisi anomali ini wajar di dalam sistem kapitalisme yang berasaskan sekuler. Semua serba boleh selama memberi keuntungan tanpa mempertimbangkan halal haram. 

Meski konser bertentangan dengan agam sekalipun, yang penting menguntungkan dan menyenangkan. Konser dianggap hiburan semata yang tidak ada hubungannya dengan agama. 

Padahal, tidak sedikit kehidupan para artis yang rusak dan tidak bahagia karena jauh dari agama. Bahkan banyak yang mengakhiri hidupnya dengan tragis meskipun hidupnya berlimpah kekayaan dan kemegahan.

Penerapan sistem kapitalisme sekularisme di negeri ini mengakibatkan banyaknya serangan pemikiran dan budaya di tengah-tengah umat. Ditambah lagi pemahaman Islam yang lemah, sehingga kualitas generasi hari ini juga lemah. Akibatnya, generasi Muslim kehilangan identitasnya sebagai Muslim dan potensinya dibajak untuk mempertahankan eksistensi kapitalisme.

Oleh karena itu, generasi Muslim harus diselamatkan dengan Islam agar menjadi generasi yang tangguh dan memiliki pemahaman Islam yang kuat. Hal ini tidak luput dari adanya peran keluarga, lingkungan, dan negara yang dapat menopang aturan Islam untuk diterapkan. 

Islam memiliki khazanah keilmuan dan tsaqafah tentang pernikahan, hukum seputar keluarga, peran penting menjadi orang tua, serta sistem pola asuh anak sejak masih dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, pra-baligh, hingga baligh.

Islam memandang bahwa pentingnya peran keluarga dalam menentukan kepribadian anak, sebagaimana di dalam hadis Rasulullah SAW. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Allah Ta'ala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar-Ruum [30]: 30).

Selanjutnya, generasi kita juga membutuhkan lingkungan sosial yang kondusif yang akan membantu menciptakan atmosfer sehat bagi pendidikan dan pemikiran mereka. Masyarakat tersebut adalah masyarakat Islam yang juga menjadikan Islam sebagai standar kehidupan.

Terlebih, perlu adanya peran negara yang menunjang pondasi aqidah yang sudah tertanam dari keluarga. Negara juga menerapkan sistem pendidikan Islam dalam rangka menghasilkan generasi berkepribadian Islam sekaligus calon pemimpin peradaban. 

Keterlibatan pendidikan dalam keluarga, masyarakat, dan negara akan menumbuhkan atmosfer yang sehat bagi generasi hari ini. Dengan menjadikan Islam sebagai standar dalam seluruh aspek kehidupan dan pola asuh dalam mendidik generasi peradaban. 

Wallahu'alam


Oleh: Novriyani, M.Pd.
Praktisi Pendidikan
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar