Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Krisis Akidah Jelang Akhir Tahun


Topswara.com -- Bukan hal yang baru, jelang akhir tahun dan natal memang sudah menjadi tradisi bagi seluruh masyarakat khususnya para anak muda untuk ikut serta dalam memeriahkan dengan berbagai cara.

Menjelang Natal 25 Desember 2022 Kota Surabaya tampil beda. Sebab, pemerintah kota Surabaya berkomitmen menjaga semangat toleransi, keharmonisan serta kehormatan umat beragama dengan cara memasang berbagai hiasan natal di kawasan Monumen Bambu Runcing dan Alun-alun (suararapubliknews.com, 17/12/2022).

Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah meraih penghargaan atas dasar kota peduli HAM terkait pemenuhan hak atas bantuan hukum, hak atas informasi, hak turut serta dalam pemerintahan, dan hak atas keberagaman dan pluralisme dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia (borneonews.com, 15/12/2022).

Sebelumnya harus kita ketahui bersama bahwa pluralisme adalah paham atas keberagamaan, atau menganggap bahwa semua agama itu sama. Jelang akhir tahun dan Natal memang tidak dapat dipungkiri lagi dan sudah menjadi hal yang lumrah khususnya untuk para anak muda untuk ikut merayakan dan memeriahkan dengan berbagai kegiatan.

Fakta yang kita liat sebelumnya, setiap menjelang akhir tahun akan ramai anak-anak muda berkumpul dipinggir jalan, meramaikan jalan, bermain kembang api sekaligus kumpul keluarga untuk mengadakan acara makan bersama. Tidak ada larangan untuk melakukannya, hanya saja tidak harus dilakukan di malam tahun baru atau pun Natal, sebab untuk melakukan kegiatan tersebut dapat dilakukan di waktu yang lain.

Toleransi dibolehkan, tetapi tidak dalam semua hal. Umat Islam boleh membantu nonmuslim dalam hal tolong-menolong ketika kesusahan, bukan ikut serta dalam meramaikan serta merayakannya. 

Umat harus memiliki kesadaran yang tinggi bahwa paham akan pluralisme sangat membahayakan, apalagi di tengah gempuran moderasi beragama yang sedang digencarkan oleh pemerintah.

Banyak pernyataan yang menggencarkan umat jelang akhir tahun seperti toleransi antar umat beragama, untuk menganggap bahwa semua agama itu sama tidak ada bedanya dan menganggap bahwa semua agama itu benar. Terlepas dari pernyataan tersebut, kita umat Muslim harus memiliki pemikiran dan pemahaman yang cemerlang, bahwa agama yang benar hanyalah agama Islam bukan yang lain.

Harus diketahui juga bahwa setiap agama itu berbeda. Sebagai Muslim yang kritis kita tidak perlu takut dikatakan fanatik dengan agama sendiri, sebab memang kita harus yakin dengan agama kita sendiri yaitu Islam. Islam tidak melarang umat Islam membantu nonmuslim, hanya saja jika membantu dan merayakan perayaan mereka kita sangat dilarang keras untuk merayakannya.

Standar perbuatan seorang Muslim itu adalah sesuai dengan syariat yaitu hukum Allah bukan hukum yang lain. Terkait dalam perayaan natal dan tahun baru, haramnya sudah jelas, bahwa menyerupai suatu kaum maka kita menjadi bagian kaum tersebut serta tidak diperbolehkannya merayakan hari raya selain hari raya umat Islam.

Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan tersebut.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).
 
Hadis di atas menjelaskan bahwa kita benar-benar dilarang untuk meniru perbuatan yang terkait ajaran mereka selain ajaran agama Islam, Islam hanya membolehkan umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja bukan selain dari itu. Umat harus digencarkan dengan sikap yang sesuai dengan ajaran agama Islam sesuai dengan syariat Islam agar tidak latah untuk ikut-ikutan dalam merayakannya.

Kesadaran dimulai dari kita yang memiliki pemahaman yang tinggi tentang syariat Islam, bahwa Islam tidak mengekang, tetapi menjaga kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Negara harusnya memiliki peran sebagai pelindung akidah umat Islam agar tidak terjerumus ke dalam arus pluralisme dan moderasi menjamin, bukan malah menjerumuskan dan menggencarkan umat Islam ke dalam arus moderasi dan pluralisme. Lantas, di mana peran negara dalam melindungi akidah umat Islam?

Di dalam Islam, negara menjaga dan menjamin keamanan akidah Islam, mengarahkan umat Islam untuk menerapkan syariat Islam, bukan mengarahkan umat Islam ke jalan yang salah. Maka dari itu, Islam mewajibkan negara untuk ikut menjaga akidah.

Jika peran negara sudah tidak ada, maka peran para anak mudalah yang harus sama-sama menggencarkan umat dengan pemahaman yang benar, pemahaman tentang syariat Islam agar tidak terjerumus dan terjerat ke dalam tubuh moderasi beragama dan paham pluralisme.

Wallahualam bissawab.


Oleh: Fitria Sari
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar