Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sejahtera dengan Pendidikan Vokasi Hanya Mimpi


Topswara.com -- Pendidikan vokasi dalam ranah di sekolah maupun perguruan tinggi menjadi salah satu pilihan utama yang di harap-harapkan. Karena mampu menghasilkan lulusan yang cepat mendapatkan pekerjaan, serta ilmu terapan yang mereka pelajari menjadikan mereka siap kerja. Hal ini pun diaminkan dan didorong oleh pemerintah. 

Melalui beberapa kebijakan antara lain insentif super tax deduction hingga Perpres No 68 tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi, pemerintah mendorong sektor usaha dan industri agar berkolaborasi dengan pendidikan vokasi. 

Diharapkan dengan tingginya kerja sama antara sektor industri dan pendidikan vokasi dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Insentif super tax deduction adalah pengurangan pajak bagi pelaku usaha dan industri yang melakukan kegiatan pengembangan vokasi, seperti kegiatan praktik kerja, magang, dan atau pembelajaran.

Sedangkan dalam Perpres Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kemendikbud Ristek ditugasi untuk membawahi pendidikan vokasi. Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pendidikan dan pelatihan vokasi harus saling melengkapi kebutuhan industri serta terhubung dengan sistem informasi pasar tenaga kerja. Jelaslah bahwa output pendidikan vokasi adalah untuk memenuhi kebutuhan industri.

Di lansir dari kata kepala badan Pengembangan sumber daya manusia industri (BPSDMI) “ kebutuhan tenaga kerja sektor industri diprediksi akan terus naik. Pada 2024, kebutuhan tenaga kerja sektor industri di perkiraan sebesar 20,21 juta orang, atau bertambah rata-rata sekitar 682 ribu pekerja per tahun dalam periode 2021-2024. Ini menunjukkan bahwa di  pekerja ahli sangat di butuhkan dan di cari.

Di sisi lain, apakah dengan memiliki pekerjaan otomatis seseorang akan sejahtera? Dilansir dari BPS, rata-rata gaji per Februari 2022 hanyalah sebesar Rp 2.892.537, jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan terus meningkatnya harga kebutuhan pokok sehari-hari, ditambah lagi beban biaya pendidikan dan kesehatan yang terus melonjak. 

Sehingga orang-orang yang memiliki pekerjaan jauh dari kata sejahtera. Jangankan sejahtera, memenuhi kebutuhan pokok pun kesulitan. Maka, terserapnya para tenaga kerja di lapangan tidak serta merta menjadikan mereka sejahtera.

Pendidikan bukanlah tempat mesin pencetak tenaga kerja yang digunakan untuk kebutuhan industri. Tetapi, bukan berarti tenaga kerja terampil diabaikan dalam sistem Islam. Mereka justru sangat dibutuhkan. 

Dalam Islam negaralah yang betugas untuk keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan guna menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah-tengah umat bukan untuk memenuhi kebutuhan industri dan para kapitalis seperti saat ini.

Dalam Islam, ilmu bukanlah alat produksi dan tidak layak menjadikan ilmu sebagai alat mencari materi semata. Ilmu memiliki kedudukan yang mulia, tujuan utama pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam, output terpenting dari pendidikan adalah orang-orang yang bertakwa yang memiliki kepribadian luhur bukan hanya memiliki keterampilan untuk bekerja semata. Namun, menjadikan manusia memiliki kepribadian dan perilaku yang Islam.

Dalam Islam, negara juga wajib menjamin pendidikan, kesehatan dan keamanan secara murah bahkan gratis bagi rakyatnya sehingga kesejahteraan bagi rakyat bukanlah sekadar mimpi. Semua itu hanya didapatkan jika Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh sendi kehidupan. Karena hal tersebut kunci turunnya rahmat dan berkah-Nya yang akan mendatangkan kesejahteraan merata bagi umat manusia.



Oleh: Widi Eka Putri
Sahabat Topswara
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar