Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Begini Penjelasan Soal Nasab Rasulullah Muhammad SAW


Topswara.com -- Begini penjelasan soal nasab Rasulullah Muhammad SAW menurut Peneliti Sejarah Islam, Ustaz Luthfi Afandi, S.H, M.H.

"Penting sekali untuk menelusuri nasab Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW," tuturnya dalam Ngaji Shubuh Episode 146, bertajuk Nasab Mulia Nabi Muhammad SAW, Jumat (4/9/2020) di kanal YouTube Ngaji Shubuh.

Ustaz Luthfi mengatakan, kedudukan nasab menjadi sangat urgen khususnya ketika para nabi diutus untuk kaumnya sebab biasanya pada zaman itu, sebelum hal-hal lain yang dilihat, pertama yang diperhatikan oleh masyarakat adalah siapa dan dari kalangan mana seseorang itu berasal.

"Bahkan ketika Abu Sufyan memasuki wilayah Romawi dan masih dalam keadaan kafir, ia ditanya oleh Heraclius tentang siapa Muhammad. Pada saat itu yang pertama kali diucapkan oleh Abu Sufyan adalah bahwa Muhammad orang yang berasal dari keturunan atau nasab dari orang yang mulia," ungkapnya.

Maka dengan demikian menurutnya, nasab itu sangat penting dalam dakwah dan itu pun tidak menjamin bahwa dakwah akan diterima luas, apalagi ketika nasabnya tidak jelas atau tidak mulia.

"Dahulu, Nabi Ismail dan Syahidah Hajar tinggal berdua di Kota Mekah. Datanglah sekelompok suku Jurhum yang berasal dari Yaman," kisahnya.

Kemudian ia mengatakan, sebenarnya tujuan awal suku Jurhum hendak berangkat ke wilayah Syam karena Yaman dilanda masa paceklik. Bendungan dan paritnya roboh dan kemudian mereka eksodus ke wilayah yang dikenal sangat subur dan tidak lain adalah Syam. Sekarang Palestina, Libanon, Suriah, dan Jordania. Suku Jurhum yang hendak berangkat ke sana tetapi di tengah perjalanan melihat sekelompok burung yang kemudian beterbangan dan ketika sudah sampai di wilayah Makkah mereka melihat di situ ternyata ada sumber mata air.

"Akhirnya, Suku Jurhum yang berasal dari Yaman meminta izin kepada Nabi Ibrahim dan Syahidah Hajar untuk tinggal di Kota Makkah bersama dengan mereka," katanya.

Lebih jauh ia menceritakan, waktu pun berlalu. Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim tumbuh besar dan menikahi salah satu pimpinan dari Suku Jurhum.

"Kemudian sejak saat itulah Kota Mekah dikuasai oleh Suku Jurhum. Keturunan Suku Jurhum dan Bani Ismail yang sudah menjadi satu, mengurus Kota Makkah sepanjang sekitar 20 abad lamanya atau sekitar 2000 tahun sejak wafatnya Nabi Ismail tahun 1800-an Sebelum Masehi (SM) dan terus berlangsung sampai sekitar tahun 200 Masehi," jelasnya.

Ia menyebut, saat itu Mekah diurus oleh Suku Jurhum dan Bani Israil yaitu keturunan Nabiyullah Ismail. Mereka mengurus Ka'bah, melayani jamaah haji dan tentunya pada saat itu mereka menegakkan agama tauhid. Sehingga waktu itu belum ada berhala dan tidak ada masyarakat yang menyembah berhala.

"Maka dari itu, sejak zaman Nabi Ismail sampai ribuan tahun kemudian di Kota Makkah yakni di sekitaran Ka'bah tidak ada berhala dan belum ada aktivitas penyembahan berhala," katanya.

Asal Mula Penyembahan Berhala

Sampai tibalah satu masa ada sekelompok suku. Para ahli sejarah berbeda pendapat, ada yang mengatakan berasal dari Arab itu sendiri walaupun sebenarnya Yaman itu wilayah di sekitaran Arab itu sendiri.

"Suku tersebut bernama Suku Khuza'ah, mereka ingin menaklukkan Suku Jurhum," ujarnya.

Ada beberapa alasan yang disampaikan oleh para ahli sejarah. Ada yang mengatakan suku Khuza'ah ingin menaklukkan Suku Jurhum dan menguasai Kota Makkah karena kecemburuan sebab mereka memiliki sumber mata air tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Suku Khuza'ah yaitu suku yang ada di luar Kota  Makkah menyebut jika Suku Jurhum sudah banyak melenceng seperti melakukan kezaliman.

"Pada suatu saat terdengar oleh Suku Jurhum bahwa Suku Khuza'ah akan melakukan penyerangan ke Kota Makkah. Satu sejarah mengatakan ketika mereka mendengar Suku Khuza'ah yang dinilai besar dan dapat menaklukkan Kota Makkah itu akan menyerang Makkah maka Suku Jurhum menimbun sumur Zam-Zam karena di antara motif Suku Khuza'ah menyerang Makkah karena menginginkan sumur Zam-Zam yang bisa memberikan kehidupan bagi masyarakat Makkah pada saat itu," urainya.

Ia mengatakan, akhirinya Suku Khuza'ah benar-benar menyerang Kota Makkah dan kemudian Suku Jurhum bisa ditaklukkan dan Suku Khuza'ah menguasai Kota Makkah. Ahli sejarah mengatakan hampir sekitar 300 tahun lamanya Suku Khuza'ah menguasai Makkah. 

"Lalu apa yang bisa memutus kepemimpinan Suku Khuza'ah dan kepemimpinan Kota Makkah kembali ke  tangan Suku Jurhum dan Bani Ismail as.," tanyanya

Awal Kemusyrikan di Makkah

Pada saat itu, tampillah seorang tokoh Suku Khuza'ah yang bernama Amru bin Luhay. Ia dikenal sebagai orang yang sangat baik dan dermawan, tetapi suatu saat ketika ia dalam perjalanan menuju ke wilayah Syam, Amru bin Luhay melihat ada sekelompok orang yang menyembah berhala.

"Kemudian mereka ditanya mengapa menyembah berhala? Karena ketika kami meminta kepada patung-patung ini maka do'a kami cepat sekali dikabulkan," imbuhnya.

Ia mengatakan, akhirnya Amru bin Luhay membawa salah satu berhala yang disembah oleh mereka yang disebut Hubal. Awalnya berhala Hubal diletakkan di dalam Ka'bah oleh Amru bin Luhay dan secara perlahan karena ingin mencontoh sebagian orang Syam, kemudian Amru mengajak masyarakat untuk menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang Syam.

"Akhirnya perlahan penduduk Makkah membuat patung yang bernama Manat, Latta, dan Uza yang diletakkan di beberapa tempat. Hingga akhirnya hampir seluruh rumah yang ada di Makkah memiliki berhala," tandasnya. [] Nurmilati
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar