Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Penyebab Orang Baperan


Topswara.com -- "Jadi orang jangan baperan, tapi wajib ikut berperan, apalagi sebagai pengemban dakwah," itulah nasihat yang pernah saya dengar dari seseorang yang sangat peduli dengan diriku. 

Apa itu 'Baperan?'. 'Baperan' menurut aldodokter.com adalah seseorang yang memiliki kadar sensitifitas atau kepekaan yang tinggi. Kepekaan bisa secara emosional, fisik maupun interaksi sosial. Dengan kata lain 'Baperan' ini diakui sebagai salah satu tipe kepribadian manusia.

Adanya klasifikasi mental health yang makin bermacam-macam secara tidak langsung memberikan pengaruh besar bagi cara pandang dan bentuk sikap manusia.

Adanya berbagai macam mental health berdasarkan ciri-ciri tertentu menjadikan individu yang memiliki ciri-ciri yang hampir sama beranggapan bahwa dirinya memang sudah terlahir seperti itu dan tidak bisa diubah, misalnya menjalani kehidupan sehari-hari akhirnya dia disesuaikan dengan data tentang mental health. Maunya, selalu dimengerti dan dipahami dengan alasan memang pribadinya seperti itu. Mau bagaimana lagi, maka lawan bicara wajib hati-hati, jika berhadapan dengan kaum 'Baperan' ini.

Parahnya, meski overthinking atau 'Baperan' akut sekalipun akan sulit untuk berubah. Karena dianggap memang sudah terlahir dengan pribadi demikian dan tidak bisa diubah.

Namun kita harus memahami bahwa berbagai macam klasifikasi mental health tersebut baru muncul beberapa abad belakangan, yakni pada masa penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Hal tersebut karena sekulerisme yang merupakan ide pemisahan agama dari kehidupan telah menjadikan manusia hidup jauh dari tuntunan agama dan berujung pada manusia yang ingin mengatur hidupnya sendiri.

Sedangkan kapitalisme memberikan kebebasan tanpa batas yang menjadikan manusia bebas berbuat apa saja asal diakui eksistensinya. Termasuk membuat cara pandang untuk mengikat manusia secara tak langsung dengan klasifikasi yang beragam.

Mental Health Dalam Islam

Sangat penting bagi kita untuk belajar dan mengetahui tentang Islam. Islam memiliki pandangan yang jelas tentang mental health. Apakah itu merupakan penyakit yang butuh pengobatan dan bagaimana menyelesaikannya.

Telah dipaparkan dengan jelas oleh seorang Mujtahid terkemuka dunia Syaikh Taqiyudin an-Nabani dalam kitabnya Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah. Pada bagian mukadimah dijelaskan bahwa syakhsiyah atau kepribadian pada setiap manusia terbentuk oleh aqliyah atau pola pikir dan nafsiyah atau pola sikapnya.

Jadi, kepribadian seseorang terbentuk dari pola pikir dan pola sikap. Dari sini, kita akan tahu pentingnya memberikan pemahaman yang benar tentang bagaimana kita menjalani kehidupan ini sesuai keinginan pencipta. Ketika kita adalah Muslim, maka wajib bagi kita untuk membentuk pola pikir kita dengan Islam. 

Karena dengan pola pikir Islam itulah kita akan berusaha terus untuk terikat dengan Islam dalam melakukan aktivitas dalam hidup kita. Dari sinilah kita bisa paham bahwa baik dan buruknya kepribadian seseorang tergantung dari pola pikir dan pola sikapnya. Ketika pola pikir dan pola sikapnya berjalan dengan Islam, maka baru bisa disebut berkepribadian Islami.

Nah, untuk membentuk pola pikir Islam ini, maka kita harus mengkaji Islam dan tentu saja wajib dibina oleh guru yang bisa membentuk kepribadian Islam dalam diri kita.

Dan yang kita kaji haruslah Islam kaffah. Agar pembentukan kepribadian Islam dalam diri kita berjalan dengan baik. Islam sendiri memiliki aturan hidup yang mampu menjaga kaum Muslimin dari cara pandang rusak seperti  kapitalisme sekulerisme.

Maka, kita butuh bantuan negara yang menerapkan Islam secara kaffah dan negara tersebut dikenal dengan sebutan khilafah. Khilafah akan mengedukasi warga negaranya melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam dengan tujuan untuk membentuk generasi berikut kepribadian Islam.

Tidak hanya itu, khilafah juga akan menjaga generasi dari pemikiran-pemikiran menyesatkan dan bisa menyebar melalui media dengan pengontrolan pada tayangan maupun kontennya, agar media hanya menyajikan konten yang edukatif bagi masyarakat.

Akan tetapi, khilafah saat ini belum tegak. Oleh karena itu sebagai Muslim kita tetap punya satu kewajiban lagi, yaitu berdakwah atau melakukan edukasi Islam ke tengah-tengah umat agar semakin banyak umat yang cerdas dan tidak mudah tergerus oleh pemahaman- pemahaman rusak. Karena baik sendiri saja tidak cukup, maka kita harus belajar dan berdakwah lebih banyak lagi agar masyarakat kita juga menjadi masyarakat yang Islam. 

Nah, untuk dakwah di tengah-tengah masyarakat kita harus bergabung dengan jamaah Islam Ideologis dimana jamaah tersebut mempunyai visi dan misi menerapkan Islam kaffah. Karena kita tidak bisa berjuang sendiri, melainkan harus punya jamaah. 

Berjamaah merupakan perintah Allah SWT dan juga telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Kewajiban berjamaah tersebut terdapat di dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Ayo, segera bergabung dengan jamaah Ideologis agar tidak ada lagi generasi yang termakan jebakan- jebakan istilah mental health. Jika mereka memang memiliki kepribadian Islam, maka mereka bisa mengenali penyebabnya dan mampu menyelesaikannya baik sendiri maupun dengan bantuan orang lain yang memahami solusi dari persoalan mereka.


Oleh: Nabila Zidane
Analis Mutiara Umat Institute
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar