Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pembelajaran Berharga dari The True Lovers Di Negeri Tah Mahal


Topswara.com -- India menjadi sorotan dunia saat ini yang berawal dari unggahan potongan video rasis. Seorang anggota partai berkuasa BJP bernama Nupur Sharma serta lainnya melontarkan hinaan dan tuduhan keji dalam suatu acara rapat resmi yang disaksikan oleh publik. Dalam video tersebut Nupur si penghina melecehkan kehormatan Nabi SAW dari status pernikahan suci bersama Ummul Muknimin Aisyah bint Abu Bakar ra. 

Ucapan tersebut kini menuai amarah kaum Muslimin sedunia. Bahkan negara-negara Arab menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk dari India. Kecaman juga datang dari negara tetangganya, Bangladesh dan Pakistan. Begitu juga demgan penduduk Muslim setempat meskpiun minoritas, memberanikan diri untuk membela kemuliaan Nabi Muhammad SAW dengan unjuk rasa. 

Meskipun telah diberitakan bahwa salah satu pelaku penghinaan telah diproses oleh pemerintah India, serta Nupur Sharma pun sudah minta maaf, namun publik belum puas. Sungguh, penghinaan serendah itu terhadap belahan jiwa kaum Muslim tidak akan diterima begitu saja hanya dengan perkataan maaf tanpa diproses hukum. 

Kaum Muslim yang ada di India dan melakukan aksi protes untuk membela kehormatan Nabinya, justru diberlakulan brutal oleh otoritas India. Para demonstran diangkut, dipukuli bahkan seorang Muslimah diseret dengan kerudungnya di tengah jalan bak binatang. 

Salah satu wilayah yang melalukan aksi protes adalah Ranci. Satu kota yang terletak di sebelah Timur India dengan jumlah penduduk tidak lebih dari satu juta jiwa. Negara bagian Jharkhand ini dijuluki dengan nama city of waterfalls dengan komunitas umat Islam menempati posisi kedua terbanyak setelah Hindu. 

Protes di Ranchi dilakukan oleh masyarakat Muslim tidak terkecuali kaum pemuda. Mereka maju untuk menyerahkan diri mereka demi membela Rasulullah SAW. Pengorbanan mereka tentu saja tidak akan sia-sia di mata Allah SWT, Rabb semesta alam. Karena setiap pengorbanan adalah bukti cinta yang tulus dari pecintanya.

Seperti laporan dari beberapa sumber terpercaya, telah tercatat dua syahada dalam sepekan ini yang ditembak mati oleh polisi India saat melakukan aksi protes tersebut. Keduanya diketahu adalah Sahil dan Mudassir. Mereka masih sangat belia. Sekitar 16-17 tahun. Namun pengorbanan mereka terhadap kecintaan Nabinya adalah nyawa. 

Kini mereka telah syuhada. insyaAllah. Kejadian ini tentu mengingatkan pada hadis Nabi SAW yang mengatakan bahwa penghulu para syuhada adalah Hamzah, dan orang-orang yang berperang di belakangnya lalu terbunuh oleh penguasa yang zalim. 

Video singkat yang terekam, menunjukkan saat Mudassir berteriak dengan kalimat terakhir yang terus ia kumandangkan “ Islam Zindabad” (Hidup Islam). Peluru beruntun mengenai tubuhnya hingga ia jatuh dan akhirnya syahid. Allahu Akbar. Ibu Mudassir mengatakan sangat bangga bahwa anaknya adalah seorang syuhada dan merasa sangat bersyukur telah dititipkan anak seperti Mudassir yang wafat membela kehormatan Nabinya. 

MasyaAllah! Bukankah suatu pelajaran yang begitu berharga dari mereka? Pemuda yang di zamannya hidup dengan kejaran materi duniawi dan tidak peduli. Namun, iman keduanya memanggil untuk seruan mulia. Mereka tentu tahu resiko berhadapan dengan rezim refresif, akstrem seperti India tidak tanggung-tanggung.

Namun, itulah cinta. Cinta selalu menutut pengorbanan dari para pecinta. Mudassir dan Sahil. The true lovers yang patut diteladani pemuda hari ini terlebih kaum Muslim. Berjuang menegakkan kebenaran meskipun nyawa adalah taruhannya. Karena mati bukanlah resiko berjuang. Mati adalah ketetapan. Berjuang atau tidak, mati pasti akan datang bagi semua makhluk bernyawa. 

Hanya saja, Mudassir dan Sahil telah memilih kematian mereka dengan membuktikan cinta kepada belahan jiwanya, Baginda Nabi SAW. Mereka lahir di tanah yang pernah ditaklukkan oleh pahlawan hebat, Muhammad bin Qassim. Kemudian tanah itu memancarkan cahaya dengan peradaban baru yaitu Islam. 

Islam telah menyisakan banyak bangunan megah dan tidak akan pernah bisa dihapuskan oleh sejarah. Negeri dengan sejuta syair cinta kepada Rabbnya. Negeri dengan kemewahan arsitek terindah di dunia di masanya, Taj Mahal. 

Meskipun Islam kini bukanlah mayoritas lagi, tetapi dunia tetap mengena India dengan Taj Mahal, Mughal, dan Qutb Minar. Bukan Sungai Gangga atau Bombay yang hiruk pikuk dan gemerlap. Namun hembusan kedamaian dan ketenangan angin sejarah di Taj Mahal, Qutb Minar, dan Istana Mughal adalah tujuan para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia. 

Mudassir dan Shail telah mengukir sejarah mereka menjadi bagian syuhada di tanah Taj Mahal. Tanah yang dulunya adalah milik umat Islam dan penuh cahaya. Pembelajaran berharga yang sangat layak diambil dari para pecinta sejati Nabinya di Negeri Taj Mahal.

Rasulullah SAW juga pernah berpesan bahwa kelak di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT hanya diberikan kepada enam golongan. Salah satunya adalah golongan pemuda yang menghabiskan masa mudanya di jalan Allah. Mudassir dan Sahil bukan hanya menghabiskan masa muda, namun juga sekaligus menghembuskan nafas terakhir mereka diujung senjata penguasa zalim lagi kufur. 

Semoga Allah SWT segera mendatangkan pertolonganNya kepada umat Islam di India, dan seluruh negeri Muslim yang tertindas tirani karena minoritas bahkan mayoritas. Karena dengan terwujudnya janji Allah akan kemenangan Islam kedua kalinya adalah perkara yang selalu dinanti oleh umat Islam.

Oleh karena itu wahai kaum Muslim, wahai para pemuda, ambil bagianmu dalam kemuliaan ini. Catat sejarahmu yang membuat orangtua bangga memilikimu, tanahmu bangga menerima jasadmu kelak, dan Rabbmu ridha terhadapmu. Semoga pengorbanan Mudassir dan Sahil menjadi pelajaran berharga bagi semuanya untuk tetap bersemangat dan istiqomah menegakkan kebenaran hingga akhir hayat. Insyallah. Allahu a’alam bissawab.



Oleh: M. Siregar
Analis Mutiara Umat Institute
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar