Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Demi Pertahankan Kursi, Ajaran Islam Dimonsterisasi


Topswara.com -- Media kembali diributkan dengan isu radikalisme di tengah huru hara pendaftaran calon capres-cawapres 2024 yang akan dibuka. Setelah sebelumnya berita seruan konvoi khilafah dari Khilafatul Muslimin yang berujung penangkapan dua tokoh sentral ormas tersebut. Kali ini, berita pengibaran bendera serupa HTI pada Deklarasi Capres Anies menyita perhatian publik. 

Bendera tersebut dikibarkan oleh sekelompok orang di tengah berjalannya acara deklarasi. Sempat membuat geger, hingga akhirnya bendera tersebut diturunkan. 

Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI (BPET MUI) Makmun Rasyid angkat bicara menanggapi dua berita yang santer dibicarakan ini. Makmun beropini adanya keterkaitan antara peristiwa Khilafatul Mukminin dan pengibaran bendera serupa HTI. Hal ini dikuatkan dengan framing publik yang menilai dua ormas tersebut sama-sama mengusung ide khilafah meskipun beda konsep. 

Makmun menjabarkan, ketika ada satu aktivis khilafah ditindak maka akan muncul aktivis-aktivis lainnya. Seperti ketika kasus Khilafatul Muslimin ini ditindak lanjuti oleh pihak berwenang, maka pihak lain yang mengusung khilafah akan muncul menampakkan diri. Opini nya didukung oleh fakta dua peristiwa tersebut terjadi secara berdekatan.

Tentu hal seperti ini bukan hal yang baru saja terjadi. Melainkan selalu terjadi sepanjang demokrasi masih bertahta di negeri ini. bagaimana ajaran Islam di diskriminasi, dimonsterisasi oleh pihak penguasa, di framing buruk ditengah masyarakat. 

Hal itu terjadi tak lain karena timbal balik akan geliat kebangkitan umat yang mulai sadar pentingnya menjadikan syariat sebagai tuntunan hidup dan menginginkan kembalinya kehidupan Islam seperti dahulu kala. 

Sesuai sunnatullah yang berlaku, setiap ada seruan pada kebaikan dan ketaatan pada syariat Allah maka akan ada serangan masif dari pihak yang berlawanan. Bahkan sekelas Nabi pilihan yang menyerukannya, pasti ada saja orang yang menolak seruannya bahkan memusuhi Nabi tersebut. 

Sejak Dulu Upaya Monsterisasi Ajaran Islam 

Sesungguhnya monsterisasi ajaran Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW dahulu di masa awal beliau menyerukan Islam pada Kaum Quraisy. Tak hanya ajarannya yang dimonsterisasi, bahkan penyerunya (yaitu Nabi dan Para Sahabat Assabiquunal Awwaluun) juga didiskriminasi. Sepanjang sejarah beliau yang kita baca, respon negatif dari berbagai kalangan menjadi ornamen wajib menghiasi lika liku perjalanan dakwah beliau.

Al-Qur'an banyak merekam kisah-kisah para pembesar Kaum Quraisy yang mengkufuri bahkan mengecap Al-Qur'an kalamullah dengan hal-hal yang tidak pantas. 

Seperti pada Qur’an Surat Al- Mudassir ayat 24-25:
فقال إن هذا إلا سحر يؤثرO إن هذا إلا قول البشرO
“Lalu dia berkata, ‘(Al-Quran ini hanyalah sihir yang dipelajari orang (dari orang terdahulu). Ini hanyalah perkataan manusia"

Penggalan ayat tersebut merupakan perkataan Walid bin Mughiroh ketika beropini pada kaumnya tentang Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ia melabeli Al-Qur'an sebagai sebuah sihir yang mempengaruhi manusia. Hal tersebut telah Allah bantah, bahwasannya Al-Qur'an adalah kalamullah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bahkan pada ayat setelahnya Allah memberi ancaman azab yang pedih bagi Walid bin Mughiroh. 

Atau kisah yang terdapat dalam Surah An Nahl ayat 103 yang menceritakan anggapan sesat Kaum Quraisy bahwasannya Al-Qur'an merupakan kalam manusia biasa (yakni kalam rasulullah sendiri) yang diajarkan oleh seorang pandai besi bernama Jabr Ar-Rumiy. Maka Allah bantah langsung pada ayat tersebut juga, dengan bantahan tak terelakkan. 

Demikian Allah melalui firmannya, menceritakan propaganda kaum kafir beserta bantahan dari Allah.

Kita juga bisa mendapati banyak kisah dalam Al-Qur'an bagaimana Rasulullah dicaci maki oleh kaumnya. Bahkan pernah dilempari kotoran hewan atau diinjak lehernya ketika sujud sebagai respon negatif atas seruan dakwah beliau dan para sahabatnya. 

Beliau diejek tukang sihir yang membuat suami istri bercerai dan anak ibu terpisah, lalu diejek sebagai tukang sihir yang dengan kata-katanya menyihir perhatian khalayak ramai, bahkan beliau diboikot selama dua tahun lantaran dakwahnya itu.  Begitupun Para Sahabat yang menerima siksaan pedih dari Quraisy hingga meregang nyawa.

Ajaran Islam Mengancam Kepentingan Demokrasi

Salah satu alasan besar mengapa pemerintah gencar memonsterisasi ajaran islam sepeeti khilafah dan bendera tauhid bahkan melabeli penyerunya dengan label negatif ‘radikalis’  tak lain karena Islam mengancam posisi dan kepentingan mereka. Mereka takut umat semakin sadar akan pentingnya kembali pada syariat Islam sebagai pondasi segala aspek kehidupan dan penegakan institusi yang mendukung penuh pelaksanaannya.

Islam sebagai agama yang datangnya dari Allah SWT, satu-satunya Pencipta dan Pengatur Alam Semesta telah mendesain seperangkat peraturan bagi para hambanya. Dimana kedaulatan tertinggi ada pada Allah. Hanya hukum Allah yang berhak tegak di muka bumi. 

Sebagaimana pada firman Allah Surah Yusuf ayat 40 yang bebunyi:
...إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون O
“ …Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Islam juga menomor-satukan perintah syari’ melalui nash-nash syar’i yang ada sebagai keputusan dan hukum yang ditetapkan. Apabila dalam Al-Qur’an dan Sunnah tidak didapati keputusan atau hukum yang dicari, maka ada ijma’ dan qiyas syar’i sebagai alternatif jalan. Tentu semuanya dilaksanakan sesuai kaidah syara’. Bukan sekedar berdasar akal rasionalitas.

Adapun demokrasi, pada teori kedaulatannya (yakni kedaulatan di tangan rakyat) seakan manis. Nyatanya bengis. Sebab pada prakteknya, hanya rakyat elit yang memiliki kedaulatan karena power yang mereka miliki. Semua berasas manfaat dan pemenuhan hawa nafsu liar tak berbatas. Demokrasi juga menuhankan suara rakyat. Dimana setiap keputusan yang diambil harus sesuai dengan persetujuan mayoritas rakyat. Sekalipun pada prakteknya entah suara rakyat mana yang didengar. 

Maka dari sini jelas, mengapa musuh-musuh Islam sangat takut akan kebangkitan Islam. Dengan bangkitnya kesadaran umat untuk memperjuangkan islam yang sahih, maka akan mengancam segala kepentingan mereka. 

Terutama menjelang pemilu, mereka butuh menggalang suara besar demi memenangkan tampuk kekuasaan presiden. Sementara mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, maka Islam beserta ajarannya harus dijauhkan agar mereka bisa terus langgeng mempertahankan harta dan tahtanya. 

Khilafah dan bendera tauhid jelas merupakan bagian dari ajaran Islam yang termaktub dalam kitab-kitab turost para ulama. Mendiskriminasi keduanya sama saja dengan bermain makar dengan Allah. Namun, Allah adalah sebaik-baik makar yang akan melenyapkan makar-makar batil dan memenangkan seruan yang haq.

Wa makaruu wa makarallaahi wallahu khoirul maakiriin. Wallahu a’lam bish showaab


Oleh: Qathratun 
Sahabat Topswara
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar